PASCAkebakaran hebat yang melanda kawasan permukiman padat penduduk di Jalan Mannuruki, Makassar, tepatnya di ujung pertigaan Jalan AP Pettarani dan Jalan Sultan Alauddin, Sabtu (30/10) sekira pukul 19.00 Wita, menyebabkan puluhan warga terpaksa mengungsi ke sejumlah tempat pengungsian.
Laporan: ARIF AL QADRY-IRFAN
Pantauan BKM, Senin (2/11), para korban mengungsi di rumah warga yang luput dari amukan si jago merah.
Hingga hari ke-3 pascakebakaran, warga yang mengungsi di beberapa titik pengungsian masih sangat membutuhkan bantuan.
Selain makanan dan pakaian, bantuan yang juga dibutuhkan antara lain seragam dan peralatan sekolah karena mayoritas pengungsi memiliki anak yang masih mengeyam pendidikan.
“Seragam sekolah anak sekolah saya habis terbakar dek. Terpaksa saya meminta izin tidak menyekolahkan anak karena mau pakai apa ke sekolah. Belum lagi, alat sekolah seperti buku dan alat tulis menulis juga habis terbakar termasuk sepatu,” ucap Wati (42), sambil mengais sisa harta benda yang menyatu dengan debu.
Air mata perempuan itu pun tak terbendung. Air mata mengalir deras di pipinya setelah melihat atap seng rumahnya yang telah berwarna hitam. Lengan daster yang dikenakannya menjadi pengganti sapu tangan untuk mengusap air matanya. Semakin diajak bicara air matanya semakin deras.
Wati merupakan satu dari sekian banyak perempuan korban kebakaran di Mannuruki. Ia benar-benar terpukul dan sedih. Beban pikirannya berat. Dia mengaku terpukul dengan tragedi kebakaran yang meludeskan seluruh rumahnya. Sementara anaknya masih duduk di bangku SMA, apalagi ujian semester sudah hampir tiba.
“Saya terpaksa menunggu uluran tangan dari warga, agar anak saya dapat bersekolah lagi,” ujarnya sambil memegang sebuah kardus bekas yang berisi recehan hasil sumbangan pengguna jalan yang melintas.
Hal yang sama, diungkapkan Rosdiana, ibu rumah tangga yang juga korban kebakaran tersebut. Ia mengaku bingung harus bagaimana karena kedua anaknya yang masih duduk di sekolah dasar tidak dapat bersekolah, kemarin.”Itu anakku dua orang tidak sekolahmi, kelas tiga sama kelas empat. Alat tulis menulisnya termasuk seragam sekolah habis terbakar,” ucapnya ke BKM sambil meneteskan air mata.
Memang hingga kemarin, Pemerintah Kota Makassar masih memprioritaskan bantuan berupa bahan makanan dan tenda. Sementara belum ada bantuan berupa pakaian dan perlengkapan sekolah.
Bahkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar terus melakukan asesment kepada seluruh korban kebakaran yang hampir setiap hari terjadi di Makassar.
Hal tersebut dikatakan Kepala Badan PBD Makassar, Syahruddin. Ia menjelaskan, jika peristiwa kebakaran yang hampir setiap hari terjadi di Makassar disebabkan oleh kelalaian masyarakat. Di bulan Oktober saja, tercatat kasus kebakaran sebanyak 8 kasus, dan rata-rata disebabkan arus pendek.
“Ini sebenarnya bukan bencana tetapi melainkan kelalaian. Karena kebanyakan kasus kebakaran semuanya hampir disebabkan arus pendek, oleh ulah masyarakat yang nyantol listrik hingga menyebabkan arus pendek listrik,” ungkap Syahruddin.
Untuk itu, pihak BPBD Makassar, jelas Syahruddin, terus melakukan asesment ke seluruh korban kebakaran dengan menghitung semua kerugian mulai dari rumah, jiwa, dan juga menghitung berapa jumlah KK yang menjadi korban kebakaran. Bahkan sambil menunggu hasil asesment, BPBD segera mungkin melakukan penanganan awal seperti menyerahkan bantuan selimut, handuk, pakaian, ataupun dapur darurat.
“Kalau penanganan awal kami sudah lakukan. Selanjutnya mendata korban untuk diberikan bantuan material seperti kayu balok, seng ataupun semen untuk membangun kembali rumah mereka,” katanya.(arf-ppl1/c)

