SIDRAP, BKM — Kasus penyakit HIV-AIDS di Sidrap terus meningkat bahkan sudah banyak menelan korban jiwa. Dari data KPA Sidrap menyebutkan sejak tahun 2006-2018 tercatat 196 orang terjangkit — 117 HIV dan 80 orang AIDS. 86 orang diantaranya meninggal dunia.
Pengelola KPA Sidrap, Santiaji Syafaat kepada BKM, Jumat (30/11) meningkatnya kasus penyakit manular dikarenakan kesadaran pelaku berisiko tertular virus HIV kurang untuk melakukan tes HIV.
Kemudian sering gonta-ganti pasangan seks tidak aman yakni tidak menggunakan kondom. Karena hanya dengan kondom penularan bisa dicegah baik diluar pernikahan maupun didalam pernikahan.
“Kalau dirata-ratakan tujuh orang meninggal dunia setiap tahun gegara HIV-AIDS. Makanya harus dicegah secara bersama-sama,” jelasnya.
Seperti halnya di Maritenggae ada 43 orang yang terkena HIV-AIDS. Kemudian 12 orang di Tellu Limpoe, 10 Panca Lautang, 18 Watang Sidenreng, 15 Pitu Riawa.
Dua Pitue 27 orang, 11 di Pitu Riase, 21 Watang Pulu, 22 Panca Rijang, 12 Baranti, dan 6 orang di Kulo. Tren penularan virus HIV adalah seks yang tidak aman, salah satunya adalah sering nikah cerai.
Mereka banyak tertular virus HIV adalah masyarakat umum akibat kurangnya informasi tentang HIV dan AIDS dan informasi HIV dan AIDS tidak menjadi kebutuhan. Penularan HIV juga terjadi bagi kalangan resti misalnya waria, LSL, penasun atau pengguna narkoba suntik.
Pelayan kafe rendah karena mereka terjangaku oleh program, sering diberikan informasi HIV dan AIDS dan melakukan tes HIV sehingga tahu menjaga perilaku agar supaya tidak tertular.
Dia juga mengatakan, tingginya penularan HIV bagi kalangan masyarakat umum karena sejak tahun 2015 dana penanggulangan HIV dan AIDS pada KPA Sidrap sangat kecil bahkan sejak tahun 2018 sudah tidak ada.
Pengelola Program HIV-AIDS Dinkes PP dan KB Sidrap, Supriadi mengatakan, meski terkendala anggaran Pemkab Sidrap melalui Dinkes terus berupay melakukan pencegahan. (ady/C)

