CAMILAN selalu menjadi pilihan untuk menemani beragam aktivitas seperti berkumpul bersama keluarga dan teman. Kondisi itu dimanfaatkan Ismayanati untuk membuka usaha kuliner.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Perempuan kelahiran Makassar, 7 Agustus 1984 ini menceritakan jika bisnis keripik peyek cumi ini berawal dari kegemarannya mengkonsumsi cemilan. Dirinya menciptakan sendiri cemilannya yang bisa bertahan lama dan rasanya enak.
“Awalnya membuka usaha ini, itu semata-mata ingin menciptakan variant baru dalam kuliner, yang dapat dikonsumsi dalam waktu lama dari semua kalangan masyarakat kapanpun dan dimanapun,” ungkapnya saat diwawancarai penulis, Senin (7/1).
Terlebih lagi, jelas Ismi, bisnis ini dipandang memiliki prospek yang cerah seiring tingginya permintaan masyarakat, seperti usaha ‘Boldol’ Peyek cumi-cumi.
Walaupun dirinya berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan seorang ibu rumah tangga, tidak menyurutkan langkahnya membuka usaha dari komoditas laut. “Sebenarnya usaha ini adalah kerjaan sampingan saya, disamping sebagai PNS. karena banyak waktu yang tersisa, maka saya buat usaha pengolahan cumi ini,” ucapnya.
Dengan brand BolDol Peyek Cumi, Isma yang merupakan anak pertama dari enam bersaudara ini memulai bisnis peyek cumi sejak 2016. Dirinya memesan langsung cumi-cumi dari pemasok yang berada di perairan Makassar dan Pangkep, kemudian mengolahnya menjadi sebuah makanan ringan bercitarasa lezat dan gurih.
“Saya punya ide mengola cumi-cumi menjadi makanan ringan sejak 2016 silam. Awalnya coba-coba ternyata banyak disuka. Teksturnya peyeknya gurih, punya citarasa yang khas dan bisa dinikmati semua kalangan,” katanya.
Menurutnya, membuka usaha pasti akan terkendala dengan yang namanya pemasaran, sekalipun menurutnya menggarap bisnis makanan ringan peyek cumi punya prospek yang cukup menjanjikan. Pemasaran masih tetap harus dipelajarinya. Sebab, minat masyarakat semakin meningkat terhadap camilan yang bahan dasarnya merupakan hasil laut.
“Kalau saya sih dipemasarannya masih terkendala. Tapi kalau dibilang malas buka usaha ini alhamdulillah tidak pernah. Sebab pada prinsipnya semua orang punya rezki dan takdir baik. Tinggal bagaiamana caranya kita menjemput dengan hati dan mindset yang baik pula. Intinya perbaiki hati Insya Allah Pikiran juga baik,” jelasnya.
Diakuinya, dari bisnis peyek cumi Isma mempunyai modal awal hanya Rp300 ribu. Namun kini, ia dapat memperoleh omzet kurang lebih Rp20 juta. Saat ini produknya telah dipasarkan ke Bandung,Papua, Toraja, Bone, Banjar, Malang, dan Jakarta. Produk peyek cumi yang diproduksinya terdiri atas tiga varian yaitu pedas, bawang dan original dibanderol seharga Rp15 ribu hingga Rp100 ribu. Tergantung ukuran kemasan.
“Modal awalnya Rp300.000 dan sekarang sudah mendapat omset Rp20.000.000 perbulan. Karena tujuan awal saya ingin menghidupi banyak orang, tidak hanya keluarga tapi orang lain juga,” katanya.
Dirinya juga mempunyai target kedepan bagaiamana bisnisnya bisa di ekspor keluar negeri dan dikenal oleh orang banyak. “Insya Allah ingin memasarkan produk boldol hingga ke luar negri dalam berbagai variant baru. Alhamdullilah keluarga juga mendukung sekali usaha saya ini,” bebernya.
Memasarkan produknya di toko offline yaitu Ole ole Jasuda di jl Perintis Kemerdekaan km 5 (Samping po bus Bintang Timur), Toko oleh-oleh Unggul di Jl Pattimura Makassar dan Toko oleh-oleh Toraja di Jl Pasar Ikan Makassar. Sementara itu, dipasarkan pula lewat akun jejaring media sosial instagram @ismanamaku. (*)

