MAKASSAR, BKM–Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto meminta kepada seluruh anggota yang tergabung dalam forum Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) untuk bersatu memantau langsung Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku).
Menurutnya, BKM merupakan penggerak yang paling dekat dan memahami watak masyarakat Makassar. Sehingga bersatunya, bisa membantu dalam hal mendorong pengembangan Kotaku.
“Fungsi BKM memang sangat penting, karena mereka tidak hanya kerja, tapi juga melakukan pendekatan dan pemberian pemahaman, sehingga bersatunya BKM dalam bergerak itu sangat penting, untuk berlangsungnya pembangunan kota tanpa kumuh agar bermanfaat” kata Danny, Senin (18/2).
Danny yang juga selaku ketua Asosiasi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) menilai salah satu persoalan di kota kumuh adalah sanitasi. Sehingga Ia mengatakan hingga saat ini pihaknya terus dalam proses menggenjot hal tersebut.
“Memang betul, sanitasi merupakan salah satu faktor utama kumuh, jadi kita sedang berusaha menghadirkan kota bebas kumuh bisa cepat tercipta dikota Makassar,” terangnya.
Danny pun berharap, Kota Tanpa Kumuh ini bisa menjadi program yang bermanfaat. Sebab menurutnya pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang bisa dirasakan masyarakat.
Baginya masyarakat akan senang kalau kawasannya bebas kumuh. Jadi kalau ada yang harus diganti, Danny mengatakan akan mengganti kota kumuh menjadi kota tanpa kumuh.
Sementara Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Imbang Muryanto menuturkan program Kotaku di Kota Makassar menjangkau 127 kelurahan. Imbang menyebutkan, program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) dari World Bank telah mampu menyelesaikan 30 persen dari luas 740 hektar Kawasan Kumuh di Makassar.
“Untuk anggaran secara detail saya kurang hafal, untuk lengkapnya ada di dinas terkait sebagai leading sektor,” ujar Imbang.
Selain program Kotaku dari World Bank, Imbang mengatakan jika Makassar kembali akan digandeng oleh Asia Development Bank (ADB) dengan program Slum Improvement Settlement Human Alleviation (SISHA) untuk mengentaskan kawasan kumuh di Kota Makassar.
Menurutnya, program SISHA sedikit berbeda dengan program Kotaku, walaupun sampai saat ini masih dalam proses penjejakan dan rencananya akan direalisasikan 2020 mendatang.
“Kalau program SISHA ini lebih komprehensif dalam menangani Kawasan Kumuh di Kota Makassar yakni kawasan kumuh yang belum ditangani oleh program Kotaku,” ujarnya.(nug/war/c)

