pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Dia Berharap Media Cetak Bisa Kembali Jaya

LOKASI toko penjualan majalah dan koran milik Riza dulu amatlah terkenal. Orang-orang hanya mengatakan penjual majalah di samping Kantor Pos, semua sudah paham.

Laporan: NUGROHO

“Dulu kalau mau cari majalah, taunya ya dekat kantor pos. Banyak sekali memang dulu orang biasa ke sini, bukan cuma orang biasa, pejabat-pejabat sekarang dulu sering ke sini,” kata Riza.
Ia masih sedikit mengenang saat berjualan media cetak masih jaya-jayanya. Bayangkan saja jika dulu semua informasi didapatkan hanya melalui media cetak seperti ini, maka berbondong-bondonglah orang datang ke tokonya.
Riza dulu juga tak lupa selalu membaca semua macam tabloid, majalah, hingga koran yang ia jual di tokonya. Selain mendapat informasi, hal itu juga digunakan sebagai trik pemasarannya.
“Dulu jual koran, informasinya dulu yang harus saya tahu. Kan kalau orang tanya, saya sudah tahu, jadi gampang memasarkan,” kenangnya.
Kondisi toko Riza dibanding dulu dan sekarang begitu jauh berbeda. Ia mengatakan, dulunya toko miliknya penuh dengan majalah, tabloid, dan koran. Sekarang, demi menjaga omzet usaha tetap baik, Riza menambahkan tokonya dengan berbagai minuman dingin dan snack.
Riza bercerita, dulunya ada sekitar 60 macam majalah yang terpampang tiap harinya di toko miliknya. Tabloid juga ada sekitar 25 macam. Koran lokal Makassar juga semuanya ada.
Namun sekarang, saat penulis mengunjungi, hanya tinggal lima tabloid saja yang masih ia jual. Kelimanya adalah Tabloid Nyata, Pulsa, Nova, Saji, dan Otomotif.
“Dulu paling banyak tabloid gosip. Seperti Cek n Ricek, Femina, dan lain-lain. Sekarang tinggal ini saja yang ada,” ucap alumni FTI UMI tersebut.
Tabloid Nova yang dulunya masuk sebanyak 150 eksamplar, kini hanya tinggal 15 eksamplar saja tiap minggunya. Tabloid Bola yang kini sudah tutup, dulunya masuk bisa sampai 300 eksamplar. Sementara Majalah Tempo yang dulu bisa hingga 100 eksamplar masuk tiap minggunya, kini hanya tinggal tujuh saja yang masuk tiap minggu.
Kalau koran, untuk Harian Fajar yang dulunya bisa masuk 80 eksamplar tiap hari, kini hanya tinggal 25 eksamplar saja. Bahkan dikatakan Riza, untuk minta tambah saja sudah susah.
“Fajar saja kalau kita minta tambah sudah susah. Pokoknya dulu 50 eksamplar paling kurang yang masuk kesini,” tambahnya.
Dalam hati kecilnya ia sebenarnya ingin jika kondisi berjualan media cetak kembali seperti dulu. Namun apalah dikata, melihat perkembangan teknologi seperti sekarang, ia juga tak bisa terlalu berharap banyak.
Riza mengakui bahwa internet memicu munculnya berbagai media online yang menampilkan berita di genggaman tangan. Hal ini yang membuat para pembaca media cetak menurun drastis. Sehingga penjualan tabloid, majalan, maupun koran sangat semakin berkurang.
Pria 44 tahun ini berjualan dengan ibunya di toko tersebut. Karena ia memulai berjualan media cetak sejak masih SMP, dimana saat itu ibunya lah yang memodali. Berpuluh-puluh tahun sudah berjualan, Riza merasakan betul dampak internet ini.
Usahanya inilah yang sejak dulu bisa menghidupi dirinya. Membiayai sekolahnya serta enam saudaranya yang lain. Bahkan ibunyapun bisa berhaji karena hasil penjualan tabloid dan koran.
Sekarang, penurunannya begitu drastis. Dulu perharinya bisa memiliki omzet hingga lebih dari Rp5 juta perhari, kini tinggal Rp500 ribu saja perhari.
Namun Riza tetap bertahan hingga kini. Ia memiliki alasan yang kuat mengapa masih berjualan media cetak walaupun omzet turun drastis. Informasi di media cetak yang tidak semua ada di media online, menjadi alasan utamanya.
“Karena semua informasi di media cetak tidak didapat semua di internet. Makanya saya masih jual, masih banyak orang yang beranggapan informasi di cetak lebih lengkap,” kata Riza.(b)



×


Dia Berharap Media Cetak Bisa Kembali Jaya

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar