KEBANYAKAN pengusaha hanya melihat dari segi keuntungan yang didapatkan daripada memperhatikan limbah usahanya. Padahal jelas Suryo S, dengan memperhatikan limbah, ia bisa menghembat bahan dan meraup untung yang besar tiap bulannya.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Pria yang dikenal sebagai wirausaha muda terbaikkategori kreatif dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri itumembeberkan, kalau kebanyakan sabun saat ini boros dan merusak lingkungan. Sebab bahan yang tidak ramah lingkungan itu adalah bahan yang tidak mudah didegradasi dan diurai oleh tanah sehingga mencemarkan lingkungan.
“Saya kira-kirakan saja itu sebulan bisa Rp60-70 juta sebulan ada (keuntungan) dengan market share saat ini 3,17 persen di kota Makassar. Kalau di pulau jawa belum banyak kita suplai kesana, karena sistem reseller dan online saja kita pasarkan. Kita sengaja belum banyak produksi karena kita masih tekankan kualitasnya dulu,” ungkapnya kepada penulis.
Terkait bahan-bahan yang digunakan membuat sabun, anak pertama ini mengaku kalau sabunnya 80 persen air, turunan minyak kelapa yang dijadikan bibit sabun, stabilizer, pengharum, mineral air laut, dan pewarna.
“Tidak ada bahan kimia sama sekali, dan seharusnya itu digunakan oleh produk usaha lainnya. Paling saya kasih formula pelembut khusus untuk tangan dan bahan anti septik yang bukan dari formalin, itu saja. Setiap hari kita produksi 600 liter sabun untuk 1,300 kemasan ukuran 500 ml,” bebernya.
Suryo juga menggungkapkan, lewat usahanya itu dirinya banyak berbagi pengalaman dan pengetahuannya mengenai mana saja produk sabun berbahaya bagi kulit dan lingkungan.
“Jadi saya ingin memberikan edukasi ke masyarakat, apa yang saya tahu tentang kesehatan. Bisa saya bagikan ke masyarakat, bukan karena saya mau dapat untung dengan membeli produk saja. Tapi lebih kepada masyarakat bisa tahu mana sabun yang ramah lingkungan dan tidak merusak,” jelasnya.
Menurutnya dengan bekerja di dua dunia sebagai karyawan dan bos menjadi tantangan bagi Suryo dalam menjalankan usaha ini. Namun kesungguhan dan tekadnya mampu membawa dirinya bertahan hingga saat ini menggeluti dua dunia tersebut secara baik.
“Kalau dari saya sendiri, merekomendasikan ke anak muda kalau mau berwirausaha, harus fokus sama passionnya. Sulit dan gampangnya membuka usaha kalau bukan fashion kita disitu, bakal sulit berkembang, karena dunia usaha itu pasang surut,” katanya.
Pria Kelahiran Makassar 9 September 1990 ini sejak muda sudah menjadi wirausaha muda di Makassar. Sebab di umur 20 tahun dirinya sudah merintis usaha, hingga akhirnya bisnis usaha sabun cair dilabeli nama ‘maKs’ ini telah dipasarkan di Kota Makassar sejak tahun 2009 lalu.
“Saya dulu tidak ada niat buat jadikan ini (sabunnya) jadi usaha, karena itu cuman penelitian saya di kampus saya dulu di Unhas untuk dapat nilai. Tidak tahu dan kepikiran bisa jadikan ladang usaha,”katanya.
Hanya saja, karena kebetulan dosennya bilang banyak peneliti senior yang hanya berhenti disitu saja saat penelitian. Olehnya itu, ia meminta ke Suryo untuk terus mengembangkan produknya.”Saya disuport oleh dosen saya sehingga saya memulai pasarkan dulu di warung makan,” ungkpanya saat ditemui penulis di salah satu cafe di Makassar, akhir pekan lalu.
Pendiri sabun multifungsi ini akhirnya mempatenkan usahanya itu dengan diberi nama sefactorpharma, dengan alasan background jurusannya.
Alasan lain Rio sapaan akrabnya tetap mempertahankan merintis usaha sabunnya karena, prihatin dengan banyaknya sabun yang beredar di Masyarakat tidak peduli lingkungan dan dirinya juga dapat menciptakan lapangan kerja.
“Puji tuhan sih bisa, bantu masyarakat bisa hemat kantong, ramah lingkungan dan sabun ini aman untuk kulit bahkan bisa menghaluskan kulit tangan. Kalau dulu saya pasarkan sendiri, sekarang sudah ada beberapa karyawan saya yang jual dan membuatnya, tinggal saya arahkan saja. Sabunnya itu multifungsi karena bisa mencuci mobil, motor, piring, pakaian dan tangan dalam satu kemasan,” jelasnya. (*)

