DIBALIK usaha yang hebat terdapat dukungan yang kuat, begitu pula sebaliknya. Kesuksesan Ratih Puspitasari juga tidak lepas dari dukungan orangtua dan saudaranya. Tidak ingin menjadi sukses sendiri, Ratih kerap berbagi ilmunya di berbagai kampus.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Walaupun dulunya ia diragukan oleh orangtuanya untuk menjadi wirausaha, karena ditakutkan tidak fokus menutut ilmu. Tapi Ratih membuktikannya. Ia memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mencapai 3,89 di bidang Teknologi Informasi.
Tidak hanya itu, dirinya juga membuktikan bisa membiayai adiknya sekolah walaupun dirinya sendiri masih berjuang menuntut ilmu.
“Dulunya mereka (orangtua) takut saya sendiri di Makassar belajar tidak ada keluarga, dan harus kerja juga. Jadinya disuruh fokus saja kuliah. Sambil belajar memulai usaha dan meyakinkan orangtua, akhirnya saya bisa seperti ini,” ungkapnya kepada penulis.
Lanjut Ratih, kini dirinya mendapat omset kisaran Rp25 juta- Rp30 juta sebulan. “Yah kira-kira begitu, saya tidak hitungkan itu karena karena semua usaha itu harus berproses, kalau mau besar juga harus berproses,” ucapnya.
Bahkan kini, tidak hanya memberikan inspiratif kepada beberapa mahasiswa saja, melainkan Ratih sudah menjadi motivator Entrepreneur Muda di beberapa kampus di Makassar, berkat usaha dan kerjakerasanya. Sebab dirinya juga memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pengajar dan memberikan semangat ke orang lain.
“Soalnya saya pernah merasa jadi orang yang paling useless saya ingin menjadi orang-orang yang seperti saya membangkitkan gairah mahasiswa lainnya,” katanya.
Selain itu, banyak proses yang harus dilewati untuk menjadi seorang yang bisa dikatakan berhasil menurut Ratih. Pahit dan pasang surutnya hidup sudah menjadi hal yang biasa menurutnya. Walaupun dirinya merasa banyak waktu yang terbuang untuk membesarkan usahanya dan memperhatikan hidup orang lain, namun tetap disyukurinya.
“Ada beberapa dalam hidup saya yang hilang. Tapi dari kehilangan itu saya sudah mengalir aja seperti ini. Karena pasti ada gantinya dan ada yang lebih baik lagi. Saya juga sudah bisa merasa hasil jerih payahnya selama ini,” tuturnya.
Untuk membesarkan usahanya di tahun 2015, Ratih hanya punya modal Rp500 ribu. Anak pertama dari empat bersaudara ini bahkan menuturkan jika uasahanya sempat terseok-seok.
Ia menjual menu pisang ijo dulu hanya satu rasa. Namun kini dirinya memiliki enam varian rasa durian, stroberi, blueberrry, cokelat kacang, dan vanila. Harga yang ditawarkanpun murah hanya Rp 5 ribu per cupnya.
“Tidak segampang membalikkan tangan, tapi yang jelas tiap orang bisa sukses dengan apa pun pilihannya. Kalau mau usaha, harus berani dulu. Kita harus berani memulai, berani punya mental yang baik, berani punya usaha yang bagus dan berani konsisten,” tuturnya.
Kini dengan memasarkannya secara online, Ratih banyak meraup untung besar. Mengapa tidak, pelanggannya tidak hanya dikalangan mahasiswa melainkan seluruh masyarakat Makassar. Dirinya mengaku masyarakat tinggal mengakses pengantaran makanan secara online, dan via facebook dan instagram @bupisangijorate.
“Semua kita layani, semua kta terima bahkan kemarin ada yang pesan 500 porsi untuk acara nikahan, itu salah satu dosen di Unhas, Kalau modal itu sudah kembali empat sampai lima bulan,” jelasnya. (ita)

