BAGI seorang nelayan, laut adalah harta karun yang menjadi tumpuan hidup.Hal itulah yang dilakoni Basri, yang setiap hari menyusuri derasnya ombak mencari ikan.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Setiap dua minggu sekali, pria 35 tahun ini datang menyetor ikan dipelelangan ikan, Basri bersama lima teman lainnya mengaku mampu menyetor seberat 20-30 ton dipelelangan. Sambil duduk dipinggir dermaga sembari menunggu isi solar, Basri bercerita jika profesi nelayan sudah puluhan tahun ia lakoni sejak masih kecil. Ia bahkan harus putus sekolah dan ikut ayahnya melaut.
“Tidak ada sekolah ku saya, karena waktu SD kelas 4 sudah di bawah bapakku melaut. Sampai sekarang masih begini, karena orang tua tidak sanggup kasih sekolah,” ungkapnya kepada penulis.
Hasil tangkapan itu pula yang ia bagi dengan teman kerjanya yang lain, ia sendiri mendapatkan jatah sebesar 30 persen sebagai pemilik kapal, 10 persen untuk bahan bakar dan perbaikan kapal. Sisanya untuk pekerja yang lainnya. “Kalau rusak atau beli bahan bakar saya ji tanggung. Nanti kita bagi hasil,” ucapnya.
Dalam sekali melaut, ia bisa mendapatkan upah sebesar Rp15-20 juta. “Yah sekitar begitumi, beda juga sama yang lain biasa sampai 5-8 Juta sekali melaut,” ujarnya.
Basri juga membeberkan, jika beberapa nelayan yang ikut bersama dirinya melaut adalah seorang pengangguran yang kemudian ia ajak melaut. Daripada harus mengadu nasib di kota lain tanpa bekal ijazah. Sebab sebelumnya ia sempat merasakan kerasnya mencari kerja tanpa adanya ijazah.
“Kita melaut tidak perlu ijazah, semua di kapal (sambil tunjuk) tidak ada semua sekolahnya. Saya ajak saja, dari pada tidak ada kerjanya. Karena kalau mereka kerja seperti ini pasti mereka dapat uang,” katanya.
Karena rezekinya berada di laut, Basri hanya berharap pemerintah tetap memperhatikan kehidupan para nelayan dan tidak menaikkan beberapa kebutuhan dan bahan bakar.
Bapak tiga orang anak ini kepada penulis mengaku, sangat jarang berkumpul dengan keluarga dalam sebulan, sebab ketika dirinya melaut untuk mengumpulkan hasil tangkapan ikan memerlukan waktu setengah bulan lamanya. Belum lagi, hasil tangkapan sudah harus dijual di Pelabuhan Untia dan Paotere.
“Sedih juga jarang liat anak dan istri, tapi mau diapa juga, kita bekerja melaut untuk mereka juga. Saya pergi melaut habis waktu setengah bulan, lalu pulang ke rumah hanya sehari, setelah itu berangkat lagi melaut di perairan Kalimantan,” ungkapnya saat ditemui di Pelabuhan Untia Makassar, kemarin.
Bahkan Basri tetap bersabar meski kulit gelap terbakar matahari dan bau amis karena harus bergumul dengan ikan hasil tangkapan serta jam kerja yang tidak biasa. Ini semua demi kebutuhan keluarga dna biaya pendidikan anak-anaknya.
“Syukur sekali ma’ itu dek’ kalau keluargaku tidak kekurangan. Walaupun saya harus jauh bekerja untuk kumpul uang tidak apa-apa. Mereka (anak-anaknya) mengerti pekerjaan bapaknya melaut,” ujarnya.
Menjadi nelayan pun Basri, harus mengeluarkan modal yang sangat besar hingga Rp50 juta. Belum lagi, jika masuk musim hujan, Basri tetap melaut dan melawan kerasnya hidup di tengah-tengah laut. Ombak dan Angin adalah makanan sehari-harinya, bahkan sudah dibilang temannya ketika mencari ikan di laut selat Makassar.
“Tidak bisa ki melaut kalau tidak punya uang minimal Rp50 juta. Belum buat kapalnya, belum alat-alat pancingnya, belum solarnya dan perlengkapan lainnya. Kan saya ini ada lima orang kah itu juga harus dibutuhkan masak di laut untuk makan,” bebernya.
Adapun kendala dan tantangan dihadapi Basri ketika melaut sudah ia biasakan. Begitupun, jika hasil tangkapan ikannya sedikit, ia tetap pulang dengan batas waktu yang diberikan pemerintah untuk melaut.
“Sering sekali ma rugi, tapi mau banyak atau sedikit hasil melaut ta tetap pulang setiap dua minggu untuk setor lagi ke pelelangan ikan. Jadi kalau Rp20 juta kita hasilkan itu sedikit sekali dan belum kembali modal, apalagi sekarang turun mi harga ikan,” tuturnya. (*)

