MUSIM duren menjadi berkah tersendiri bagi Amiruddin. Di momen seperti ini ia bisa meraup untung yang lebih besar dari usahanya berjualan buah. Bahkan bisa mencapai ratusan juta hanya dalam hitungan bulan.
Laporan: Ardhita Anggraeni
RUAS Jalan Perintis Kemerdekaan memang tak pernah sepi. Pengendara ramai lalulalang. Tidak salah jika banyak pedagang durian menjajakan jualannya di kawasan ini.
Meski begitu, tak ada persaingan di antara mereka. Sebab pembeli silih berganti berdatangan. Amiruddin pun tak memungkiri hal itu.
Bapak tiga anak ini bercerita, ia bisa menghasilkan omzet tiap bulannya antara Rp100 juta hingga Rp250 juta. Amiruddin menyewa dua tempat untuk menjadi tempat berjualan durian.
Tiap dua hari ia selalu memasok durian dari daerah sentra penghasilnya. Jumlahnya antara 200 hingga 300 biji. Semuanya selalu habis tak tersisa. Amir memang memasang target pasokannya itu harus habis sebelum mendatangkannya.
”Kalau tidak begitu tidak bisaki untung. Yang ada rugi. Karena kita juga harus pikirkan gaji pekerja. Sekarang pekerjaku itu ada tujuh orang. Gaji mereka Rp3 juta sampai Rp4 juta setiap bulan. Belum untuk makan dan rokoknya. Jadi kita ini harus pintar untuk bisa menghabiskan stok yang ada. Minimal 2-3 hari 200 biji durian harus habis,” jelasnya.
Bisa bertahan hingga 12 tahun menggeluti bisnis ini, Amir tentu punya trik. Salah satu yang diakuinya adalah jangan pernah mengecewakan pembeli.
”Biasanya kan ada pembeli yang minta dicarikan durian masak di pohon, karena buahnya tebal. Itu selalu kita usahakan untuk bisa dipenuhi,” tuturnya.
Dalam setiap transaksi, Amir dan pekerjanya selalu menawarkan pilihan kepada konsumen. Memilih sendiri dengan risiko ditanggung pembeli, atau meminta dicarikan sehingga risiko ditanggung penjual.
”Kalau saya yang pilihkan, kalau buahnya rusak atau tidak ada rasanya kita kasih gratis dan ganti dengan yang bagus. Itumi nabanyak pembeliku, karena kita jamin rasa dan harga duriannya,” bebernya.
Banyaknya penjual durian yang kerap berhenti di tengah jalan, menurut Amir, karena mereka tidak memberikan kepuasan kepada pelanggannya. “Saya jaga itu (reputasi). Istilahnya, tidak hanya sekadar jualan pulang bawa uang. Tapi kita juga jaga pembelita supaya datang lagi,” ucapnya.
Berkat usahanya berjualan durian selama bertahun-tahun, Amir kini sudah bisa menikmati hasilnya. Ia bisa membeli rumah sendiri dari kerja kerasnya selama ini. Selain itu, kendaraan roda dua dan empat mampu dibelinya.
“Alhamdulillah, sekarang sudah ada rumah sendiri. Tidak lagi kontrak. Ada juga kendaraan bisa dipakai kalau mau pergi sama anak-anak dan istri. Tidak panas atau kehujanan. Insyaallah, kalau kita serius mau berusaha pasti adaji rezekita itu,” jelasnya, yang berencana membuka lagi cabang jika mendapatkan lokasi yang bagus. (*)

