MAKASSAR, BKM–Perbandingan antara mutu perguruan tinggi dan kebutuhan dunia industri masih rendah, meskipun akses masyarakat terhadap perguruan tinggi masih tinggi. Hal tersebut tercermin dari rendahnya serapan tenaga kerja para lulusan perguruan tinggi.
Seperti yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel pada akhir 2019 lalu. Dimana penyerapan tenaga kerja untuk alumni perguruan tinggi presentase daya serapnya hanya berada di angka 16.60 persen atau sebanyak 635.692 orang.
Kepala LLDIKTI Wiliayah IX, Prof Jasruddin Mallago, mengakui hal tersebut. Ia mengatakan, daya serap alumni perguruan tinggi di Sulsel hanya berkisar diangka 20 persen. Bukan hanya Sulsel saja kata Jasruddin, tapi juga secara nasional. Sehingga pemerintah sedang merancang solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Ia menambahkan, relevansi lulusan perguruan tinggi terhadap kebutuhan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam upaya mencegah sarjana menganggur.Olehnya itu, dibutuhkan kebijakan strategis dan program unggulan demi mewujudkan pendidikan tinggi yang bermutu.
Apalagi, kata eks Direktur Pascasarjana UNM ini, pendidikan di Indonesia hanya sekitar 10 persen yang termasuk perguruan tinggi vokasi. Seperti diketahui PT vokasi ialah pendidikan tinggi yang menunjang pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Sehingga alumninya menjadi tenaga yang siap pakai.
“Perguruan tinggi vokasi itu kan sebagai penyedia alumni yang siap bekerja bahkan siap berusaha. Bahkan di negara lain vokasinya diatas 50 persen,” kata Jasruddin.
Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pemerintah ingin membentuk PT vokasi dalam rangka mendorong terciptanya tenaga terampil dan siap pakai. Kedepan, pemerintah akan fokus pada kampus vokasi misalnya politeknik, sementara pembangunan atau pembuatan universitas akan dibatasi atau dihapuskan.
“Tidak ada lagi pembentukan universitas baru nantinya, kecuali perubahan bentuk akademi ke universitas, itu masih boleh,” jelasnya.
Untuk meningkatkan daya saing alumni, kata Jasruddin, Presiden Joko Widodo pada periode pertamanya sudah mencanangkan reorientasi kurukulum, dimana kurikulum diarahkan agar alumni bisa terjun ke dunia usaha bahkan secara langsung menjadi pengusaha.
“Jadi kita harapkan alumni kita bukan hanya pencari kerja tapi jika bisa menghasilkan lapangan kerja atau menjadi seorang entrepreneur,” katanya.
“Sebetulnya itulah yang dibikin menteri saat ini. Sesuai programnya yang disebut dengan merdeka belajar kampus merdeka. Jadi mahasiswa disesuaikan dengan kebutuhan pasar, begitu maksudnya,” tambahnya.
Diketahui sekitar 200 PT di Sulsel, hanya sepertiga diantaranya merupakan PT yang ada di Makassar. Jasruddin mengakui jumlah alumni tiap tahunnya mengalami peningkatan namun tidak seimbang dengan jumlah angkatan kerja.
Terpisah, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Darmawan Bintang, mengatakan, untuk penyerapan tenaga kerja ada beberapa faktornya, yakni penyediaan lapangan kerja.
Selain itu, lingkungan juga mempengaruhi, dimana lapangan kerja yang tersedia tidak sesuai dengan kompetensi para lulusan PT yang ada di sekitar. Kondisi lingkungan pun begitu, masyarakat tidak akan melirik lapangan kerja tersebut jika ada kekacauan atau tidak terjamiinta keamanan di sekitarnya.
“Bisa saja link and match suatu jurusan tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Selain itu peran dan kesiapan pemerintah juga diharapkan,” pungkas Andi Darmawan Bintang.(nug)

