MAMASA, BKM — Sebuah gereja tua di kota Mamasa kini ditelantarkan dan dibiarkan tak terurus. Gereja ini berada di atas perbukitan menghadap ke jantung kota Mamasa yang dibangun pada zaman Belanda tahun 1938. Bangunan ini merupakan gereja tertua kedua yang ada di Mamasa. Di sekelilingnya sekarang ditumbuhi rerumputan liar.
Sejumlah kalangan pun sangat menyesalkan ditelantarkannya bangunan yang memiliki sejarah bagi masyarakat Mamasa. Salah seorang di antaranya adalah Arruan Pasau, SPd, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Mamasa. Saat ditemui BKM di ruang kerjanya, kemarin, Arruan mengatakan, pihaknya sangat prihatin dengan ditelantarkannya bangunan tempat ibadah yang menjadi lambang orang Mamasa.
”Kok bisa ditelantarkan. Ini lambang kita. Dimana ajaran-ajaran kebenaran pertama kali disampaikan. Seharusnya gereja ini dirawat. Kalau perlu dijadikan museum atau objek wisata religius saja, Di dalamnya bisa ditempati menyimpan benda-benda bersejarah. Misalnya foto-foto pendiri gereja di Mamasa, foto para ketua Sinode, foto para pendeta yang pertama digereja ini. Termasuk arsip gereja dan sejarah masuknya Injil di Mamasa,” katanya.
Lanjut Arruan mengatakan, pihak paling bertanggung jawab terhadap gereja tua di Mamasa ini adalah Sinode. Yakni Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja Mamasa BPS-GTM. Sebab mereka yang saat ini jadi pemilik. Kalau mau menjadikan gereja ini terawat, disakralkan dan dijadikan objek wisata, agar dipagar keliling serta ditata dengan rapi.
”Jadi setiap ada orang yang akan berkunjung harus ada karcis masuk. Kan ada pemasukan PAD. Biar orang tertarik mau melihat dari dekat apa isi dari gereja tersebut, kita buat sakral. Jadi setiap pengunjung mau masuk, harus berdoa dulu sesuai ajaran agama kita masing-masing. Jadi itu lebih bermanfaat,” kata Arruan. (dar/mir/b)
Gereja Tua di Mamasa Ditelantarkan
×

