pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Langganannya dari Pejabat Hingga Honorer

Kiki (18) Penyemir Sepatu di Kantor Balai Kota (1)

“Semir sepatunya, bapak, ibu dan kakak. Itu sepatunya sudah kotor, sudah mau disikat. Mauki di sikatkan supaya tambah cantikki.” Sepenggal kata itu seringkali didengar dari bibir gadis kecil bernama Kiki (18).

Laporan: ARIF AL QADRI

Suara itu terdengar lagi, saat penulis menyambangi Kantor Balai Kota, Makassar.
Kiki, gadis kelahiran Sinjai ini menjadikan Kantor Balai Kota dan Polrestabes Makassar sebagai lokasi mencari rezeki dan sesuap nasi.
Tubuhnya yang terbalut baju kemeja hitam lengan panjang dan sedikit lusuh itu akhirnya tersenyum lebar, tatkala penulis mengiyakan permintaannya.
Penulis membuka sepatunya dan duduk di teras lantai II Gedung Tower Balai Kota. Kiki, langsung membuka tutup semir hitam, dan mulai bekerja dengan sepatu.
Dengan bermodalkan beberapa kaleng semir dan sebuah sikat sepatu yang dipegang di kedua tangannya, Kiki (17) mulai mengisahkan hidupnya.
Menurutnya, setiap hari ia berkeliling menyusuri tiap lorong di kantor Balai Kota Makassar dan naik turun menggunakan lift mulai lantai dasar hingga ke lantai 11. Termasuk di Kantor Polrestabes Makassar.
Dengan tubuh kecilnya, ia menyisir tiap ruangan yang ada di Tower Balai Kota.
Tidak heran jika hampir seluruh pegawai yang ada di kantor plat merah termasuk di Polrestabes Makassar tersebut sudah tidak asing mengenal Kiki, termasuk mendengar suara yang cemprengnya.
Namun, tidak selamanya rayuan Kiki membuat para pegawai mengiyakan dan langsung menerima tawarannya.
Kiki mengaku, suaranya yang cempreng merupakan berkah tersendiri dari Allah. Ia memanfaatkan suaranya tersebut untuk mencari rezeki.
Alhasil, dengan ciri khas yang ada pada dirinya, ia mampu mendapatkan banyak pelanggan yang ingin sepatu kulitnya disemir oleh Kiki.
Ia juga begitu dekat dengan pegawai yang menjadi langganan untuk membersihkan sepatu, mulai dari kepala dinas, badan, kantor hingga pegawai honorer.
“Begini memang suaraku sedikit cempreng tapi sexy-kan. Lihat maki banyak itu yang kenalka karena suaraku ini yang menggoda para pegawai,” kata Kiki, usai menyikat sepatu penulis.
Pekerjaan yang ia lakoni diakuinya perlu kesabaran. Setiap pukul 07.00 Wita, ia mengaku sudah harus meninggalkan rumahnya di Jalan Abdul Kadir.
Untuk mencari rezeki ia kadang berjalan kaki atau sesekali menggunakan angkot menuju ke beberapa tempat yang ramai dikunjungi. yang sudah menjadi tempat langganannya untuk mengais rezeki hingga pukul 05.00 Wita, sore.
Adapun rezeki yang ia didapatkan dari hasil menyemir sepatu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan membeli beras, lauk, biaya transpor dan tabungan untuk masa depannya.
Untuk itu, ia terpaksa harus pandai untuk menabung. Apalagi, saat ini ia hanya tinggal berdua dengan tantenya yang kini berusia sekitar 48 tahun, disebuah rumah sederhana yang berada di Jalan Abdul Kadir.”Itu uang yang saya dapat, saya pakaimi untuk beli beras, ikan, bayar lampu, air dan uang pete-peteku kalau pergi kerja, dan sebagian juga saya tabung karena itu mami yang saya harapkan untuk masa depanku sama tanteku yang rawatka,” ujarnya. (arf/b)



×


Langganannya dari Pejabat Hingga Honorer

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar