pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Politisi Demokrat Prihatin Fenomena Bunuh Diri

MAKALE, BKM–Politisi Partai Demokrat Tana Toraja yang dikenal sebagai sosiolog Dr Kristian H.P.Lambe mengaku prihatin fenomena bunuh diri masih marak di Toraja.
Sebanyak 30 warga Tana Toraja dan Toraja Utara meninggal dunia akibat bunuh diri (gantung diri) sepanjang tahun 2020. 14 kasus terjadi di Tana Toraja dan 16 kasus terjadi di Toraja Utara.
Kristian yang juga Ketua Bapemperda DPRD Tana Toraja ini mengatakan bila data Polres Tana Toraja mencatat kasus bunuh diri selama kurun waktu Januari hingga November 2020 sebanyak 12 kasus (Januari 1 kasus, April 2 kasus, Mei 2 kasus, Juli 4 kasus, September 1 kasus, Oktober 1 kasus, Nopember 1 kasus).
Polres Toraja Utara mencatat bulan Nopember 1 kasus di Kec Sopai dan 15 kasus di tempat lain.
Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), korban nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri karena diduga mengalami depresi masalah rumah tangga, dan stress masalah asmara.
Menurut Kristian, setidaknya empat tipe bunuh diri, diantaranya bunuh diri egoistik, bunuh diri altruistik, dan bunuh diri anomik, serta bunuh diri fatalistik.
“Setidaknya dua fakta sosial yang mendasari bunuh diri karena integrasi dan regulasi (Pope, 1976), yakni Integrasi mengacu pada kekuatan keterikatan yang kita miliki di masyarakat, dan regulasi mengacu pada derajat paksaan eksternal di masyarakat,”jelasnya.
Lanjut Kristian, teori dikembangkan Durkheim, kedua arus sosial sebagai variabel yang berkelanjutan, dan angka bunuh diri meningkat bila salah satu dari arus tersebut terlalu rendah atau terlalu tinggi.
“Oleh karena itu, dari ke empat tipe bunuh diri terjadi bila jika integrasi tinggi; alturistik dan jika integrasi rendah; egoistik, demikian pula Jika regulasi tinggi; fatalistik dan jika regulasi rendah; anomik,”ucapnya.
Diakui Kristian, bunuh diri Egoistik dimungkinkan terjadi jika dalam masyarakat atau kelompok tempat individu tidak terintegrasi dengan baik ke dalam unit sosial yang lebih besar.
Selain itu kurangnya integrasi menyebabkan perasaan individu bukan bagian dari masyarakat, tetapi masyarakat bukan bagian dari individu itu sendiri. Durkheim percaya bahwa bagian terbaik seorang manusia adalah masalah moralitas, nilai, dan perasaan yang mempunyai maksud berasal dari masyarakat.
Masyarakat yang terintegrasi memberikan hal itu kepada kita, dan juga perasaan umum mendapat dukungan moral memampukan kita menghadapi penghinaan kecil dan kekecewaan sepele dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa hal tersebut, besar kemungkinan kita melakukan bunuh diri karena frustasi yang paling kecil sekalipun.
Selanjutnya aspek arus sosial bersifat melindungi apa yang dihasilkan masyarakat terintegrasi, mencegah tersebar luas kejadian bunuh diri egoistik antara lain dengan cara memberikan kepada anggota masyarakat suatu perasaan akan arti kehidupan yang lebih luas.
Menurut Durkheim, hubungan dengan pendekatan kelompok agamis melindungi manusia terhadap hasrat untuk penghancuran diri. Apa yang membentuk agama adalah adanya sejumlah kepercayaan dan praktik umum bagi semua orang yang beriman, tradisional dan wajib. Sehingga semakin banyak dan semakin kuat keadaan pikiran kolektif tersebut, maka semakin kuatlah integrasi komunitas agamis, dan juga semakin besarlah nilai pelestariannya.
Durkheim juga meyakinkanjika tidak semua pendekatan agama memberi derajat perlindungan yang sama terhadap bunuh diri. Agama Protestan dengan penekanan mereka pada iman individual yang melampaui komunitas gereja dan kurangnya ritual komunal cenderung memberi perlindungan yang kurang. Poin utamanya adalah bahwa yang penting bukan kepercayaan-kepercayaan agama yang khusus, tetapi derajat integrasinya.
Durkheim juga mengukuhkan pentingnya kekuatan sosial bahkan di dalam kasus bunuh diri egoistik, ketika individu dapat dianggap bebas dari paksaan sosial.
Para aktor tidak pernah bebas dari kekuatan kolektivitas, terindividualisasi dengan orang, selalu ada sesuatu yang tetap kolektif seperti depresi dan kemurungan jiwa itu sendiri dihasilkan oleh individualisme yang berlebihan. Orang lain turut larut dan terpengaruh melalui kesedihan ketika dia tidak lagi mempunyai harapan untuk mencapainya.
“Kasus bunuh diri egoistik menunjukkan bahwa lantaran tindakan individualistik dan pribadi menjadi fakta sosial penentu utama,”tutup Kristian. (gus/rif/c).



×


Politisi Demokrat Prihatin Fenomena Bunuh Diri

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar