LAYANAN Perpustakaan Ibu dan Anak Provinsi Sulsel, kini memiliki fasilitas tambahan yakni pojok bermain anak dan ruang laktasi. Fasilitas itupun telah diresmikan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel, Naoemi Octarina, kemarin.
Laporan: JUNI SEWANG
Peresmian ini juga dirangkaikan dengan peringatan Hari Kartini.
Pada kegiatan ini pula, TP PKK Sulsel, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Sulsel, Bunda PAUD Sulsel dan Pengelola Perpustakaan Ibu dan Anak Sulsel, dalam rangka Hari Kartini, menggelar pemetaan kompetensi anak pra-sejahtera melalui tes analisa sidik jari. Tes pemetaan kompetensi untuk mengetahui dan menemukan bakat, gaya belajar dan kecerdasan anak ini difasilitasi oleh Lembaga Kepribadian Soraya.
Naoemi Octarina di awal sambutannya, menyampaikan, momentum peresmian yang spesial karena bertepatan dengan Hari Kartini. “Peresmian ini bertepatan dengan 21 April, bertepatan dengan Hari Kartini. Hari ini bagi saya adalah harinya perempuan, Hari Ibu 22 Desember, tapi ini (Hari Kartini) bagi perempuan baik yang sudah berkeluarga maupun belum berkeluarga,” kata Naoemi.
Ia mengatakan, peradaban manusia ada di tangan seorang ibu. Karena ibu merupakan madrasah (sekolah) pertama bagi anak. Ibu mulai memberikan pelajaran bagi anak di rumah. Hadirnya perpustakaan bagi anak mendukung proses belajar pada anak.
“Alhamdulillah difasilitasi lagi dengan pojok bermain, dimana dilengkapi dengan fasilitas yang mengedukasi. Tadi saya lihat puzzle-puzzle, ada juga untuk bayi, itu sangat baik. Dan ada juga ruang laktasi,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi hadirnya ruang edukasi bagi ibu di perpustakaan yang terletak di Jalan Lanto Daeng Pasewang ini. Naoemi meminta agar protokol kesehatan tetap diperhatikan, dengan menyediakan kelengkapan protokol kesehatan.
Hal lain disampaikan terkait buku-buku yang disiapkan, agar kontennya diseleksi dengan baik. Sehingga, tidak ada hal-hal buruk yang bisa dicontoh oleh anak-anak. “Jangan sampai buku-buku itu berbahaya buat anak-anak. Karena untuk merusak suatu generasi bangsa, itu dimulai dari anak kecilnya, maka dari itu yang harus diperhatikan,” tegasnya.
Mengenai dengan tes analisa sidik jari yang dilakukan pada siswa Sekolah Impian, Sekretaris PKK Sulsel, Zulfitriany Dwiyanti Mustika, menjelaskan, PKK dan Bunda PAUD memiliki satu program yang sudah dijalankan satu bulan lalu di masa pandemi Covid-19.
“Dimana terdapat binaan PKK Sulsel untuk anak-anak dari Sekolah Impian. Merupakan sekolah dari anak-anak yang digratiskan karena berasal dari keluarga pra sejahtera,” jelasnya.
Sedangkan, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Moh Hasan Sijaya, menyampaikan, fasilitas pojok bermain anak dan ruang laktasi dari IWABA melalui BMPD kepada Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak Pemprov Sulsel.
Pemerintah Sulsel memberikan apresiasi atas pengembangan gerakan literasi yang dilakukan oleh berbagai pihak. Adapun gerakan literasi di Sulsel, pemerintah memulai dari anak-anak, kemudian masuk generasi muda.
“Karena hadirnya gadget mulai ada, tetapi dunia perpustakaan tidak bisa musnah, dampak gadget pada anak sangat luar biasa,” ucapnya.(*)

