MAKASSAR, BKM–Musyawarah daerah (musda) Partai Demokrat Sulsel baru memunculkan dua nama yang akan bersaing.
Keduanya yakni Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Ni’matullah Erbe selaku petahana.
Meski Dewan Pimpinan Pusat (DPP) belum memberikan jadwal musda, namun pembicaraan diinternal partai berlambang bintang mercy ini sudah ramai diperbincangkan, baik di parlemen hingga diwarung kopi.
IAS yang juga mantan Ketua DPD Partai Demokrat Periode 2010-2015 bahkan jauh jari telah membangun komunikasi dengan beberapa ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC Demokrat kabupaten kota.
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPD Demokrat Sulawesi Selatan Selle KS Dalle menyebutkan bahwa, saat ini pihaknya masih menunggu jadwal pelaksanaan musda.
“Di luar Jawa memang sebagaian audah gelar Musda. Kalau Sulsel, sampai saat ini belum ada. Mungkin setelah lebaran baru ada jadwal,” kata Selle, di Kantor DPRD Sulsel, belum lama ini.
Soal seberapa besar peluang Ulla-panggilan akrab Ni’matullah Erbe dan IAS, Direktur Eksekutif PT Indeks
Politika Indonesia (PT IPI) Suwadi Idris Amir menilai sedikit berimbang.
“Saya melihat peluang keduanya cukup berimbang, karena keduanya memiliki keunggulan masing-masing,” ujar Suwadi, Senin (28/6).
Dia punya pandangan tersendiri. Menurutnya, Ulla punya keunggulannya memiliki loyalitas kuat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan selalu digaris terdepan membela AHY saat diganggu oleh sekelompok kader dan mantan kader.
“Artinya Ulla merawat betul komunikasi politiknya ke DPP dibawah kepemimpinan AHY,” jelasnya.
Sedangkan, IAS kata Suwadi dia ini sosok petarung, jika Demokrat dipimpin IAS maka partai ini akan mampu bersaing dengan parpol besar lainnya.
Karena IAS memiliki loyalis dan finansial cukup kuat untuk Demokrat. Artinya keunggulan IAS di loyalis dan finansial lebih kuat dari Ulla.
“Namun idealnya kedua tokoh ini duduk bersama memikirkan yang terbaik untuk Demokrat, agar partai ini makin kuat bukan terpecah,” terangnya.
Pengamat politik Unibos Makassar, Dr Arief Wicaksono berpandangan bahwa dinamika internal Partai Demokrat Sulsel, hampir sama dengan partai lain yang akan melaksanakan musda.
“Karena kanalisasi dan sentralisasi kekuasaan partai ada di DPP,” turuenya.
Dia menyebutkan, dari dua nama yang muncul dan menguat akan maju di musda yaitu Ulla dan IAS, penentunya sebenarnya hal-hal normatif saja, tapi sangat berkaitan dengan kinerja dan strategi elektoral kedepan.
Misalnya, apakah pak IAS dan pak Ulla sama-sama bebas dari stempel mantan napi atau tidak? Apakah pak Ullah dan pak IAS pernah melawan AHY sebagai Ketua dan atau DPP atau tidak?
“Atau, apakah pak Ulla dan pak IAS pernah terlibat dalam tsunami politik yang melibatkan KSP Moeldoko atau tidak?,” terangnya.
Arief mencermati bila Partai Demokrat ini akan sangat mempertimbangkan segala hal yang negative yang bisa mencederai elektabilitasnya jelang 2024. (rif)

