MAKASSAR, BKM–Dua tokoh dari Partai Golkar belum bisa dipastikan akan mendapat restu dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar untuk maju pada kontestasi pemilihan gubernur (pilgub) Sulsel November 2024 mendatang.
Keduanya yakni Ketua DPP Partai Golkar Nurdin Halid (NH) serta ketua Golkar Sulsel Taufan Pawe (TP).
Salah satu alasan DPP akan mempertimbangkan usungan ke NH maupun ke TP manakala suara dan kursi golkar anjlok di pemilu legislatif (pileg) Februari 2024 nanti.
Tak hanya itu, manakala keduanya memiliki elektoral yang jauh dibawah bakal calon lain seperti Andi Sudirman Sulaiman, Adnan Purichta Ichsan, Indah Putri Indriani, Andi Fahsar M Padjalangi, Andi Kaswadi Razak hingga Rusdi Masse.
Sebelumnya, wakil ketua DPP Golkar Ahmad Doli Kurnia mengingatkan semua kader untuk memenangkan partai pada pileg dan pilpres mendatang jika ingin diusung pada pilgub dan pilkada mendatang.
Pemerhati politik dari PT Indeks Politika Indonesia Suwadi Idris Amir menilai jika pilgub Sulsel erat kaitannya dengan pelaksanaan pilpres.
Menurnya, pilgub Sulsel sangat di pengaruhi hasil pilpres februari 2024, sebab kemungkinan besar di pilpres akan diwakili cawapres dari Sulsel yaitu Andi Amran Sulaiman atau Syahrul Yasin Limpo.
“Artinya calon seperti petahana Andi Sudirman Sulaiman dan Adnan Purichita sangat mungkin dilirik golkar jika salah satu antara Andi Amran atau SYL berhasil menangkan pilpres 2024. Artinya kedua figur ini akan dilirik Partai Golkar dipilgub jika kekuatan mereka bertambah dengan suksesi Andi Amran atau SYL dipilpres,”jelas Suwadi Idris, Senin (23/8).
Dijelaskan bila NH dan TP sebagai kader tulen Golkar akan memiliki pesaing eksternal yaitu Andi Sudirman atau Adnan Purichita.
Namun tentu TP sebagai ketua Golkar Sulsel, dan NH selaku waketum Golkar pastilah terdepan dari figur-figur yang berpotensi diusung Golkar, selama mereka terus mengasa peningkatan elektoralnya menjelang pilgub sulsel
Pengamat politik Dr Arief Wicaksono mengemukakan bila setidaknya ada dua sisi yang bisa dilihat. Pertama, sisi aktornya. NH dan TP adalah dua aktor yang relatif sama posisinya di mata DPP Golkar. Keduanya sama-sama pengendali simpul-simpul kekuatan politik di Sulawesi Selatan. “Akan tetapi dua-duanya juga punya kelemahan di mata DPP. Mengenai apa itu kelemahannya, publik bisa menilainya,”ujar Arief.
Kedua, dari sisi struktur, DPP punya perhitungan sendiri dalam mengusung calon gubernur, terutama hitungan politik berdasarkan waktu dan tahapan pilpres, pileg, dan pilkada kedepan, yang ternyata masih belum ada ketetapan. DPP juga masih perlu waktu untuk membangun soliditas kedalam dan keluar, jadi pihak DPP sendiri juga masih gamang dalam menghadapi momentum politik kedepan, “Oleh karena itu, belum ada jaminan apa-apa dari DPP saat ini untuk kedua tokoh itu,”pungkas Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unibos ini. (rif)

