pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Darmawan Denassa: Penerima Kalpataru Patut Dimuliakan

MAKASSAR, BKM — Sejak tahun 1980 hingga saat ini ada kurang lebih 398 orang di Indonesia yang tercatat sebagai penerima penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan  (KLHK). Hanya saja, fakta yang terungkap bahwa sangat jarang ditemukan ada generasi kedua dari sang penerima yang melanjutkan aktivitas menjaga dan melestarikan lingkungan.

”Ada beberapa hal yang menyebabkan hal itu terjadi. Di antaranya, generasi kedua ini tak lagi punya kepedulian terhadap lingkungan seperti yang dilakukan oleh orangtua mereka. Kemudian, tidak ada upaya pemuliaan terhadap para penerima penghargaan,” ungkap Darmawan Denassa yang hadir dalam siniar (podcast) di studio mini Berita Kota Makassar, Minggu (17/10).

Lelaki asal Kabupaten Gowa ini baru saja pulang dari Jakarta menerima Kalpataru kategori Perintis Lingkungan. Ia meraih penghargaan itu berkat upayanya merintis dan membangun Rumah Hijau Denassa (RHD) yang berlokasi di Kampung Borongtala, Kelurahan Tamallayang, Kecamatan Bontonompo. Siniar di BKM merupakan yang pertama kali dilakoni Denassa usai menerima penghargaan tersebut di Jakarta.

Seusai menerima penghargaan di KLHK, Denassa mendapat dua kesempatan berbicara pada saat berlangsung ramah tamah. Para penerima penghargaan diminta menyampaikan proses kenapa sampai terlibat dalam penyelamatan lingkungan.

Ia juga berbicara tentang fakta yang ditemukannya terhadap penerima Kalpataru selama ini. Tahun 2011 lalu ia menemui seorang penerima Kalpataru di Sulsel bernama Haji Maning. Kawasan yang dulu dilestarikannya, kini tidak lagi diperhatikan.

Denassa kemudian mengusulkan agar pemerintah jangan hanya memberi penghargaan. Melainkan bagaimana komunikasi bisa berlanjut pascapenyerahan. Mempertemukan para penerima, membuatkan mereka jejaring, bahkan mempertemukannya dengan corporate.

”Seluruh penerima penghargaan yang masih hidup agar dikumpulkan kembali unuk dijaka berdikusi. Dengan begitu akan muncul semangat untuk melestarikan lingkungan. Kalau perlu mengajak untuk saling mengunjungi lokasi masing-masing. Itu jauh lebih keren,” tandasnya.

Denassa menyebut ada penerima penghargaan Kalpataru yang mesti berjualan kerupuk demi bertahan hidup. Sementara ia terbebani dengan status peraih penghargaan pohon kehidupan itu. Di sisi lain ia butuh hidup.

Diakui Denassa, Kalpataru yang diperolehnya ini menjadi penanda bahwa pemerintah hadir dalam mendukung apa yang dilakukannya selama hampir 15 tahun di RHD dan area pengembangannya. Sekaligus menjadi penambah semangat.

”Ini bukan akhir dari sebuah perjuangan. Melainkan akan menjadi tuntutan untuk semakin intensif dalam menguatkan diri mengurus lingkungan. Karena ke depan akan semakin besar tantangan yang dihadapi, baik dari manusianya, perubahan iklim, dan tentu saja menemukan lagi banyak spesies tumbuhan baru,” kata Denassa.

Intens merintis lingkungan sejak tahun 2007, telah banyak suka dan duka yang dilalui Denassa. Apalagi dengan latar belakang sebagai alumni sastra yang harus bersentuhan dengan flora serta keanekaragaman hayati, yang tidak diperlajari di bangku kuliah. ”Kita tidak belajar tentang morfologi tumbuhan. Hanya morfologi kata dan bahasa. Tidak belajar habitatnya. Tapi senang jika melihat pohon yang berbunga dan berbuah,” tuturnya.

Lalu kenapa alumni sastra dan bahasa mengurusi lingkungan? ”Karena kita belajar filsafat, induk dari limu pengetahuan. Anak sastra yang paham tentang tumbuhan bisa menghasilkan karya yang luar biasa. Saya kemudian menerjemahkan dalam bentuk yang berbeda. Dalam bentuk nyata. Mengisahkannya di depan orang tentang tanaman itu,” tambah Denassa.

Aktivitasnya mengurusi lingkungan, diakui Denassa cukup panjang prosesnya dan dilakukan secara bertahap. Bila punya kesempatan dan rezeki yang lebih banyak, perjalanannya untuk mencari spesies tanaman langka bisa lebih jauh.

Di tengah keterbatasan fasilitas yang minim, Denassa mengaku tidak ingin menyerah dan menjadikannya sebagai sebuah halangan. Mengeluh akan membuat dirinya merasa tidak kuat. Karena itu, ia berusaha mencari solusi dengan berkreasi mempergunakan apa yang ada. Terutama dalam proses menanam dan membenih.

Untuk sukanya, menurut Denassa, hal yang paling menyenangkan adalah ketika menemukan spesies tanaman yang telah lama dicari. Lebih gembira lagi bila dalam proses perawatan dan konservasi mampu beranak pinak. Apalagi sampai membentuk ekosistem, akan lebih menarik lagi. Datang hewan seperti burung, kupu-kupu. Datang pula orang untuk belajar yang membuka silaturahmi. (*)

 




×


Darmawan Denassa: Penerima Kalpataru Patut Dimuliakan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link