MAKASSAR, BKM — Hingga kemarin polisi masih menyelidiki motif penyerangan dua asrama mahasiswa di Jalan Sungai Limboto, Makassar, pada Minggu (28/11) yang menyebabkan korban luka. Kapolda Sulsel Irjen Pol Nana Sudjana menyebut, pihaknya telah memanggil 10 orang saksi untuk dimintai keterangan. Hal itu diungkapkannya usai bertemu Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Andi Sudirman Sulaiman di Kantor Gubernur Sulsel, Senin (29/11).
“Sampai saat ini ada 10 orang saksi yang sudah dimintai keterangan. Kami sudah mendapatkan data arah kepada pelaku, tapi belum bisa saya sampaikan saat ini,” ujarnya.
Nana mengatakan, saksi-saksi yang diperiksa berasal dari kedua belah pihak yang asramanya diserang, yaitu Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu (IPMIL) dan Kesatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (KEPMI) Bone.
Soal pelaku penyerangan, dia mengaku polisi belum mengidentifikasi tersangka. Namun penyelidikan akan terus berlanjut hingga pelaku ditemukan. “Saya rasa belum. Kita kan baru mendapatkan beberapa. Dari saksi-saksi ini akan berkembang lagi,” tuturnya.
Nana menegaskan, pihaknya akan serius menangani kasus ini. Apalagi sampai terjadi korban luka serius dan kerusakan asrama. Polisi akan membentuk tim khusus untuk menyelesaikan masalah ini agar tidak terjadi lagi konflik serupa di Sulsel.
Polisi juga telah membentuk tim untuk pola pengamanan. Selain itu, kepala daerah di masing-masing wilayah serta kerukunan daerah diminta bekerja sama untuk merangkul keluarga mahasiswa di Makassar.
“Terkait dengan kasus ini, kami dari kepolisian, berdasarkan hasil rapat koordinasi tadi (kemarin) sudah disepakati bahwa hukum adalah panglima. Kami akan melakukan penegakan hukum terkait kasus ini,” jelasnya.
Sementara itu, Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menegaskan bahwa masalah ini sudah diserahkan kepada aparat penegak hukum. Untuk itu ia berharap tidak ada lagi gerakan tambahan menyusul peristiwa yang telah terjadi.
“Dari pihak keluarga sudah menyatakan tidak mau lagi ada korban berikutnya. Mereka sudah ikhlas dan bersepakat bahwa itu harus dikembalikan kepada hukum. Pihak keluarga tidak mau ada korban berikut. Komitmen bersama, ini ada selalu bentur-benturkan. Hoaks yang beredar harus dikonter. Ada pihak-pihak tertentu yang coba memprovokasi. Kita akan kunjungi korban dan kami akan beri bantuan,” terang Andi Sudirman.
Karena permasalahan ini hanya dibenturkan oleh oknum tidak bertanggung jawab, ASS pun meminta agar masyarakat tidak mudah terprovokasi hoaks atau informasi apapun yang bertujuan memanas-manasi suasana. “Kalau kita tanya KEPMI dan IPMIL, mereka satu jalan, tidak ada masalah, itu dulu-dulu saja. Kita harus tahu oknum tertentu yang masuk memprovokasi,” tandasnya.
Usai bertemu ASS, kapolda berkunjung ke gedung DPRD Sulsel. Ia betemu dengan Ketua DPRD Andi Ina Kartika Sari dan Wakil Ketua DPRD Ni’matullah Erbe.
Usai pertemuan, Kapolda Irjen Nana Sudjana berjanji akan terus memfasilitasi dua kelompok yang bertikai. Tak hanya itu, pihak kepolisian akan melibatkan para tokoh serta pemerintah daerah masing-masing.
“Sebelumnya kami sudah melakukan pertemuan dengan tokoh masyarakat dari kelompok yang bertikai. Kami berharap pertemuan tersebut tetap berlanjut agar tercipta kondisi yang baik dan harmonis,” jelas kapolda.
Dalam kesempatan yang sama, kapolda juga menjelaskan antisipasi menyambut Natal dan tahun baru. Pihaknya tengah menyiapkan ratusan personel guna tercipta suasana yang kondusif dan aman. Mereka akan disebar di berbagai tempat guna membantu masyarakat.
Ketua DPRD Andi Ina Kartika mengaku, kedatangan kapoda terkait banyak hal. “Beliau (Kapoda) datang bersilaturahmi dan ingin menjadi mitra dengan pihak legislatif,” ujarnya.
Kapolda juga menyampaikan beberapa hal, termasuk pengamanan natal dan tahun baru. “Beliau minta kerja sama kepada kita terkait vaksinasi agar bisa tercapai 70 persen,” jelas Andi Ina Kartika.
Wakil Ketua DPRD Sulsel Ni’matullah Erbe mengakui jika saat ini baru target vaksinasi belum tercapat. “Kita masih di angka 46 persen. Dari 34 provinsi, kita di Sulsel berada urutan 26,” ungkap politisi Partai Demokrat ini.
Tanggung Biaya Korban
Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto mengatakan akan menanggung biaya pengobatan korban penyerangan yang saat ini menjalani perawatan di rumah sakit. Hal itu disampaikannya saat mengunjungi korban di dua rumah sakit berbeda, Senin (29/11). Satu dirawat di RS Pelamonia dan satu lainnya di RS Wahidin Sudirohusodo.
“Sebagai penanggung jawab di Kota Makassar, saya sudah sampaikan, pengobatan biar Pemkot Makassar yang tanggung. Ini kami sampaikan tanpa mengurangi hormat saya pada pemerintah daerah masing-masing. Karena ini kejadiannya di Makassar,” ungkap Danny.
Dia mengaku turut prihatin atas peristiwa yang terjadi. Dia mengajak pihak-pihak yang bertikai untuk tenang sambil menyerahkan persoalan ini kepada aparat berwajib guna dicari solusinya.
“Kami minta untuk tetap tenang. Jangan sampai pihak ketiga bisa mengadu domba dalam hal ini,” pinta Danny.
Dia juga berharap kepada pihak terkait, khususnya aparat berwajib untuk menelusuri akar permasalahan sehingga pertikaian tersebut terjadi. Kepada seluruh pihak, Danny juga meminta agar jangan terpancing hoaks dan memposting informasi yang bisa memicu dan memprovokasi warga.
Tanggapan Kampus
Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Dr Majdah Muhyiddin Zain, mengatakan pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pemerintah asal daerah mahasiswa masing-masing agar tidak ada lagi aksi penyerangan asrama mahasiswa. “Sepertinya itu murni karena masalah personal. Tidak ada kaitannya dengan kampus. Nanti kami akan meminta pihak terkait di luar kampus untuk ikut bersama-sama menciptakan suasana kondusif di dalam kampus,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (29/11).
Namun, besar harapnya agar tidak ada lagi penyerangan susulan. Ia berharap kepala daerah masing-masing yang disebut asal mahasiswa yang terlibat tidak tinggal diam. “Kami yakin kepala daerah sebagai pembina mahasiswa dari daerah masing-masing tidak berlepas tangan,” imbuhnya.
Dihubungi terpisah, Rektor Universitas Fajar, Dr Muliyadi Hamid menegaskan bahwa perlu mengubah kebiasaan mahasiswa dari daerah. Karena buntut aksi yang terjadi kemarin, menghadirkan imej yang buruk.
“Tentu kami berharap peristiwa seperti itu tidak dicontoh oleh mahasiswa lain, utamanya mahasiswa Unifa. Karena ini warga Sulsel telanjur dicap sebagai masyarakat yang gandrung akan kekerasan. Padahal, fenonema itu hanya kasuistis dan cuma di kampus tertentu, atau karena persoalan pribadi,” jelasnya.
Pembantu Rektor III Universitas Hasanuddin Makassar, Prof Arsunan Arsin mengatakan untuk mencegah tawuran susulan di asrama mahasiswa dari daerah, pihak kampus akan segera melaporkan dan rapat bersama rektor. “Untuk langkah selanjutnya guna mencegah hal itu terjadi, kami mau melapor ke Ibu Rektor karena kami bukan pembuat keputusan,” katanya.
Sematara Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan UIN Alauddin Makassar, Prof Dr Aisyah mengatakan pihak kampus telah mewanti-wanti mahasiswa jika ada terlibat dalam kekerasan seperti kemarin, akan diberikan sanksi skrosing bahkan pemecatan. “Kita selalu tekankan ke mahasiswa UIN jangan ada lagi tawuran atau aksi seperti itu. Jika ada yang terbukti melakukan itu, kampus akan memberikan skorsing atau pemecatan setelah diproses oleh Komite Penegakan Kode Etik,” tandasnya. (jun-rhm-ita)

