BONE, BKM — Seorang gadis manis berusia 13 tahun, Andi Nur Widya, warga Desa Gattareng Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone dikabarkan meninggal dunia setelah tepat satu bulan menerima vaksin kedua.
Orang tua Nur Widya, A Mujtaba yang dikonfirmasi melalui sambungan telepon Senin (27/12) menceritakan awal mula putrinya mulai sakit hingga meninggal.
Awalnya putri divaksinasi di sekolah dan saat itu memang tidak minta izin ke orang tua. Setelah divaksinasi sudah mulai terlihat efeknya, Nur sering terlihat lemas dan sering tidur.
“Awalnya saya liat anak saya ini selalu loyo, dan ketika sudah pukul 17:00 dia pulang ke rumah dan langsung mandi kemudian tidur. Itu berlangsung beberapa hari tapi awalnya saya belum tahu kalau dia sudah divaksinasi,” ujar A Mujtaba.
Sebulan kemudian Nur kembali divaksin dosis dua di sekolah. Pihaknya baru mengetahui setelah anaknya mengeluh dan menyampaikan kalau semenjak dia selesai divaksinasi dia sering tidur terus.
“Anak saya ini memang ada riwayat penyakit, dia mengalami keterlambatan pertumbuhan, dokternya juga mengatakan ada gejala jantung,”tambahnya
Setelah divaksin dosisi dua beberapa hari setelah itu saya melihat kedua kakinya bengkak. Saat itu kami melarang ke sekolah untuk sementara waktu tapi Nur menangis dan tetap pergi ke sekolah.
Setelah kondisinya semakin memburuk Nur dibawa ke puskesmas untuk diperiksa. Nnamun saat itu dokternya tidak ada, sehingga hanya diberikan obat oleh perawat dan kondisinya terlihat membaik.
Beberapa hari kemudian, anaknya kembali bolak balik puskesmas dan juga Puskesmas Kajuara. Kemudian yang terakhir di puskesmas, disitulah Nur menghembuskan nafas terakhirnya, padahal rencananya besoknya mau dirujuk ke Rumah Sakit Sinjai.
“Anak saya meninggal tanggal 22 Desember Rabu malam, belum genap satu minggu dek, anak saya ini paling bungsu dari tujuh bersaudara. Dia baru kelas satu di MTS Patimpeng,”jelasnya.
Orang tua korban mengaku menyesalkan sikap pemerintah setempat yang datang ke rumahnya sementara guru-gurunya sendiri hadir melayat. Sementara Kades Gattareng Irfan membenarkan ada warganya meninggal setelah beberapa hari di vaksin di sekolah. Selaku pemerintah desa Irfan mengatakan paling tidak kedepan manajemen untuk dilakukan vaksinasi harus diperbaiki.
“Harapan kita kedepan jangan hanya mementingkan persoalan banyaknya divaksin tapi melalaikan persoalan nyawa, dan ini memang perlu dievaluasi terkait pelaksanaan vaksin,” tegas Irfan. (man/C)

