RANTEPAO, BKM — Bupati Toraja Utara (Torut) Kalatiku Paembonan, Selasa (10/5) membuka diskusi terbuka (Kombongan Kalua) di obyek wisata Ke`te Kesu. Kegiatan ini diprakarsai Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Lembang (BPMPL) membahas pelestarian budaya dan adat Toraja di 5 wilayah adat Kesu’, Buntao, Rantebua, Nanggala dan Tondon.
Kalatiku memberikan apresiasi kegiatan digelar BPMPL bergiliran di beberapa wilayah adat dari 32 wilayah adat di Toraja sebab pelestarian budaya sesuai aslinya masyarakat Toraja Utara terus pertahankan.
Menurut Kalatiku, di Toraja Utara masih banyak desa (lembang) selama ini kurang mendapatkan perhatian, namun menjadi tantangan kita bersama karena begitu kentalnya adat dan budaya didaerah ini sehingga bagaimana mempertahankan keaslian sebab menjadi daya tarik wisman dan wisnus.
Dijelaskan Kalatiku, sejalan dengan perkembangan jaman dan kemajuan tehnologi, Pemerintah Daerah (Pemda) akan memberi perhatian besar kepada Desa (lembang) sebab anggaran dana desa (ADD) hingga kini sudah mencapai Rp. 1 milyar, ditamba gaji para kepala Lembang di Toraja Utara naik 100 persen menjadi Rp.5 juta.
Pasalnya sistim pemerintahan dan pembangunan dewasa ini dikembangkan berlandaskan budaya dan adat lokal. Sehingga kombongan kalua di obyek wisata Ke`te kecamatan Kesu`bagian dari destinasi pariwisata.
Camat Kesu` Ely Pamalingan, sebelum penjelasan bupati katakan, kombongan kalua digelat setiap tahun di Toraja Utara selalu melibatkan para tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh budaya, serta pemangku adat.
Untuk itu, diskusi kali ini bagaimana memberikan pedoman penting kepada masyarakat terkait pegangan sistem pengendalian sosial, termasuk mendukung peningkatan sumber daya manusia (SDM), memperkokoh jati diri masyarakat dalam mendukung kegiatan pembangunan dan pelestarian adat-istiadat Toraja.
Kombongan kalua’ Sambung Ely sangat penting dilakukan karena topik dibahas bagaimana adat dan budaya Toraja tetap lestari seiring dengan perkembangan jaman begitu cepat dan dahsyat. (gus/C)
Kalatiku Buka Diskusi Terbuka
×

