MASIH ingat, kejadian awal Mei 2016, seorang anak tak beridentitas ditemukan Polsek Tamalate. Anak diduga tersesat atau ditelantarkan orangtuanya. Anak ini sama sekali tidak tahu dari mana asalnya.
Laporan: ARIF AL QADRY
Sepasang baju melekat dibadan, kuku hitam, panjang, dan badan berbau matahari, tatapan kosong. Saat ini anak, sudah bertemu orangtuanya. Bagaimana kisahnya.
RABU, 4 Mei 2016 pukul 16.00 Wita, ponsel Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BPPPA) Makassar, Tenri A. Palallo berdering, “Hallo di sini, ada anak perempuan menangis di Polsek Tamalate. Sudah hampir dua jam, semua orang sudah berusaha tapi tetap saja menangis, Anak telantar kodong….. bu ke sini liatki,” ujar penolpon, mengaku petugas.
Tenri bersama Kabid Advokasi Andi Amalia Malik, Kabid Perlindungan Anak (PUA) Asriaty langsung ke Tamalate. Di sana petugas kepolisian telah menyiapkan berkas penyerahan.”Oky nanti saya bawah,” kata Tenri yang meminta agar berkas penyerahan diganti, karena tertulis Dinas Sosial. “Maaf kami dari Pemberdayaan Perempuan Pak,” kata Asriaty.
Anak menangis terdiam, saat Tenri mendekapnya. Sepanjang jalan, Amalia menggodanya dan sang anak tetap diam sampai akhirnya diantar ke rumah aman BPPPA bersama dua anak perempuan lainnya –kasus penggagalan pencabulan CCTV Warroom dan terduga anak dilacurkan (Ayla)– Hari itu, tim Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) menangani empat kasus, dua yang dikembalikan ke orangtua dan dua ke rumah aman (shelter).
Sepanjang malam, anak ini tidak pernah bicara dan tidak makan. Tenri akhirnya membawa ke kantor BPPPA, meminta bantuan homecare Ujungpandang dan psikolog Iyam Af utusan Prof Dr Djufri UNM . Kesehatan aman dan yang jadi masalah karena ‘menyantol’ sama Tenri. Kehadiran psikolog membuatnya bisa bernafas lega, karena sang anak sudah mau makan.
Memudahkan komunikasi, Tenri lalu menamai Aisyah. Sepekan di damping psikolog, banyak informasi tentang Aisyah diketahui. Beberapa prilaku ‘menyimpang’ ditinggalkannya, misalnya merusak benda-benda dalam keadaan kesal, mengambil barang orang tanpa izin– Aisyah mulai menemukan dunia anak-anak; mengikuti festival forum anak Makassar di Hotel Alden. Menyampaikan pandangan dan membuka diri. “Saya mau sekolah,” katanya.
Sepekan lalu, seorang perempuan mengaku tante Aisyah, tapi karena tidak menyakinkan P2TP2A tidak membukakan ruang untuk bertemu. Senin (20/5) sepasang suami istri ke kantor BPPPA, yang selanjutnya diarahkan ke P2TP2A Jl, Anggrek Raya. Keduanya mengaku orangtua Aisyah, tapi tidak mampu memperlihatkan dukungan administrasi seperti akte kelahiran atau kartu keluarga.
Hasil koordinasi tim P2TP2A, Unit PPA Polrestabes Makassar, Psikolog dan tim NGO s mengisyaratkan keluarga ini boleh membawanya sekiranya mampu memberikan bukti yang tidak terbantahkan. Salah satunya pengakuan kedua belah pihak. Untuk membuktikannya, kedua orangtua difoto lalu diperlihatkan ke Aisyah.
Saat melihat foto itulah, Aisyah berkata, “ Ini ibuku, adekku, dan ayah tiriku.” Walau melihat ibunya, Aisyah menolak untuk bertemu. Keesokan harinya, kedua orangtuanya datang kembali dan membawa kartu keluarga beralamat di Tanjung Raya, Tamalate Makassar. Kedua orangtua ini, berharap dipertemukan anaknya. (*/bersambung)

