MAKASSAR, BKM–Kontestasi pemilihan bupati (Pilbup) di kabupaten Jeneponto masih cukup lama, namun sudah ada bakal calon bupati dan wakil bupati yang telah melakukan sosialisasi diantaranya M Sarif Patta, Syamsuddin Karlos, Alimuddin serta Paris Yasir.
Dr Ashari Faksirie Rajamilo Kr Raja juga mulai tampil dalam sebuah dialog publik dengan tema ‘UMKM Menjadi Perhatian Figur Muda Jeneponto’ di Cafe Mama Panakkukang Makassar, Rabu (12/7).
Ashari tampil mengulas banyak hal, soal kelebihan hingga kekurangan yang ada di Jeneponto.
Menurutnya, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jeneponto yang selama ini selalu bertengger pada tiga besar daerah miskin, maka digitaliasi teknologi dalam pengelolaan UMKM menjadi sebuah keharusan.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Sulsel ini menjelaskan, metode-metode tradisional dalam mengembangkan usaha, tidak lagi relevan dengan perkembangan jaman hari ini. Jika tidak mengadopsi teknologi digital, UMKM akan selamanya menjadi toko kelontongan yang tidak kunjung berkembang menjadi usaha skala besar.
“Sekarang ini tidak bisa lagi kita tradisional dalam berbisnis. Digitalisasi itu adalah kepastian. Pada 20 tahun yang lalu, siapa yang berani membayangkan bahwa perusahaan taksi sebesar Bluebird itu bisa bangkrut oleh adanya disrupsi digital? Dulu kalau naik taksi kita selalu khawatir dengan argo, sekarang tidak lagi karena sudah ada kejelasan harga sebelum kita naik taksi online,” kata putra mantan Bupati Jeneponto dua periode, Radjamilo Karaeng Sicini, ini.
Menurutnya, bantuan yang disediakan pemerintah untuk UMKM sebenarnya sangat besar, mencapai ratusan milyar rupiah. Akses untuk mendapatkan pembiayaan pemerintah itu senantiasa tersedia dan terbuka lebar. Hanya saja, sangat sedikit UMKM yang memenuhi persyaratan yang diwajibkan untuk bisa memperoleh pembiayaan tersebut, antara lain wajib memiliki izin berusaha, memiliki produk, dan mengantongi HAKI/Paten atas produk tersebut.
“Seandainya saya pemimpin, maka target dalam tiga tahun ke depan, kampung saya harus bagus. Jeneponto sebenarnya punya potensi ekonomi besar, cuma tidak terekspos ke publik. Karena itu, Kalau kita mau bangun Jeneponto harus dengan digitalisasi teknologi modern,” tegasnya.
Pengusaha muda Jeneponto, Efendi Alqadri Mulyadi Krg Mustamu, berharap Pemkab Jeneponto lebih memperhatikan pengembangan SDM UMKM, bukan sisi bantuna modal usaha saja. Dia menyebut para pelaku startup Jeneponto yang umumnya didominasi anak muda, lebih membutuhkan mentoring dibanding modal usaha. Sebab modal utama dalam berbisnis adalah ide dan kualitas produk. (rif)
HARAPAN yang dipaparkan Ashari Faksirie Rajamilo (AFR) mendapat apresiasi dari praktisi Digital Marketing Specialist (DSM) Syaripudin yang menyebut strategi AFR dalam pengembangan UMKM melalui digitalisasi teknologi sebagai langkah yang tepat dan efisien. Digital marketing adalah langkah paling murah dan efektif bagi UMKM.
“Meningkatkan visibilitas market melalui digital marketing akan sangat cepat, efektif, dan efisien, dibanding cara konvensional. Harapannya, bagaimana Kopi Rumbia ini bisa dirasakan orang Bandung tanpa mereka harus datang ke Jeneponto. Tapi ingat, berbicara digital marketing bukan sekedar iklan di media sosial, tapi bicara kerangka pemasaran mulai dari packaging, konten, sampai layanan after sales,” imbuh Kang Syarip, sapaan akrab Syaripudin.
Hal sama disampaikan pakar ekonomi, Dr Sultan bahwa masalah utama pengembangan UMKM adalah SDM. “Berdasarkan hasil penelitian, 99 persen pelaku UMKM di Sulsel tidak memiliki catatan Keuangan. Sehingga mereka tidak tahu apakah yang dibelanjakan sehari-hari untuk kebutuhan dapur itu adalah keuntungan usaha atau modal usaha. Jadi banyak UMKM yang sulit berkembang karena tidak tertib dalam pengelolaan keuangan,” kata Rektor STIE Makassar Maju ini.
Sementara, pakar kebijakan publik dari Unismuh Makassar, Dr Abdi mengapresiasi ide-ide cemerlang AFR untuk pembangunan UMKM. Menurutnya konsep 6 M yang terdiri atas Man, Material, Method, Money, Machine, dan Market tidak lengkap jika tidak dibarengi kerjasama lintas sektor yang disebut pentahelix.
Konsep pentahelix atau multipihak adalah kondisi di mana unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media bersatu padu berkoordinasi serta berkomitmen untuk mengembangkan inovasi pengetahuan yang memiliki potensi untuk dikapitalisasi. Dengan kata lain, pentahelix adalah konsep gotong royong untuk menghadirkan kesejahteraan bersama.
“Lebih banyak UMKM-nya Jeneponto dibanding penduduk Bantaeng. Ini potensi yang sangat besar. Mari kita hidup kan pentahelix tadi. Program pengembangan yang dihadirkan ke depan harus sistematis berkelanjutan, jangan hanya mati di tataran ide,”pujinya. (rif)

