MAKASSAR,BKM.COM–INI adalah era kita. Hari ini adalah hari kita. Kita bebas mau mewarnai apa yang ada di Makassar, Sulsel, bahkan di Indonesia. Kita punya kemampuan itu. Maka syarat yang pertama adalah kita harus percaya diri. Bahwa apa yang kita lakukan akan menjadi investasi 5, 10, sampai 20 tahun ke depan
pada negara yang sama-sama kita cintai. Jadi jangan pernah ragu untuk melakukan apapun. Selama itu anu baiji, maka gaskan. Kira-kira sederhananya begitu. Karena banyak orang mau melakukan, tapi tidak yakin. Masak sih saya bisa menjadi bagian dari sumber perubahan di kota ini?
BAGI kaum millenial Makassar, nama Rijal Djamal sudah tidak asing lagi. Ia seorang content creator yang terkenal dengan kepandaiannya dalam berpantun.
”Sungguh enak buah markisa, enak juga buah ciri. Senang sekali ini kurasa bisa ketemu Kakak Putri,” begitu pantun yang disampaikan Rijal ketika menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
”Tidak cantik seorang penari jika tidak pakai pita. Tidaklah kita datang kemari kalau bukan karena cinta,” balas host.
Rijal yang diwawancarai Putri Kumalasari sebagai hostmembahas tentang Insight, akronim dari Inspirasi, Gagasan, Tekad, dan Harapan. Pemuda dan sejumlah problematikanya juga dibicarakan.
Pemuda dari kacamata Rijal, tidak ditentukan oleh usia. Selama semangat, motivasi, dan inovasi masih kuat,
maka selamanya dia adalah pemuda.
”Bagi saya anak muda cuma tiga hal. Pertama dia harus berpikir maju. Kalau anak muda dengan kekuatan dan kemampuan yang dia punya, kemudian dia tidak melakukan lompatan berpikir yang maju ke depan, maka sebenarnya dia bukan anak muda.
Saya sepakat bukan soal usia. Anak muda ini harus berpikir maju. Dia harus berpikir lima tahun, sepuluh tahun ke depan ide apa, gagasan apa, dan sebagainya. Karena dengan dia berpikir maju, dia tahu seperti apa memposisikan dirinya. Sepuluh tahun, mau jadi apa, dan mau berkonstribusi apa .
Yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana dia berkonstribusi. Karena banyak orang yang mau jadi apa, tapi tidak tahu mau bikin apa ketika berada di posisi itu,” terang Rijal.
Yang kedua, lanjutnya adalah kreatif. Kenapa kreatif? Karena eranya sekarang adalah membutuhkan kreatifitas yang tinggi. ”Hari ini, kalau tidak kreatif, sepertinya tidak akan bisa mendapatkan apa yang kita harapkan. Kecuali kalau kita punya privilege.
Misalnya karena kita anaknya, apakah kita mungkin keluarganya dan sebagainya, bisa jadi kita punya privilege. Tapi kalau mau dapat privilege secara natural, maka kreatiflah yang menjadi salah satu kunci,” imbuhnya.
Yang ketika adalah gagasan masa depan. Anak muda selalu pasti punya kegagasan, punya kebaruan, punya optimisme. Jika semua energi ini kalau disatukan, maka yakin dan percaya, itulah anak muda yang sebenarnya sesuai dengan eranya. ”Bagaimana pemuda memiliki tekad yang kuat dan konsisten akan tekadnya, itu yang mungkin susah. Karena mungkin yang menggebu-gebu di awal,
tapi surut di tengah, dan hilang di akhir. Komitmen memang menjadi salah satu PR besar. Semua orang bisa melakukan apapun, tapi belum tentu bisa panjang napasnya. Makanya, kayak saya sebagai content creator, yang dibutuhkan sebenarnya bukan lagi hanya ide,
tetapi punya napas panjang, endurance, daya tahan. Karena ketahanan itulah yang diukur. Tapi sekali lagi, kita akan bisa konsisten, kalau di awal kita punya komitmen. Tidak bisa kamu mulai kalau tidak komitmen dari awal, dan tidak bisa jadi itu apa-apa, kalau kamu tidak konsisten,” tandasnya.
Ia lalu memberikan contoh dirinya selaku content creator. ”Harusnya komit dengan diriku. Saya menjadi content creator
fokusnya adalah memberikan dampak ke orang lain. Bukan hanya mengejar yang receh, misalnya likes, views, komen, share, dan sebagainya. Saya tidak terlalu butuh. Itu penting, tapi tidak terlalu butuh. Karena komitmenku di awal bukan di situ,” terang Rijal.
Lalu kemudian bisa konsisten.
Konsisten menjadi alasan terbesar kenapa kita memulai. Makanya penting bagi anak muda, buat teman-teman yang ingin menjadi penggagas, atau menjadi inisiator, visioner, dalam bidang apapun. Dibutuhkan komitmen yang kuat dan konsisten, serta napas panjang.
Rijal punya saran bagi para pemuda-pemuda yang sudah punya ide dan gagasannya,
tapi masih ragu untuk mengimplementasikannya. Menurutnya, ide terkadang terhambat karena persoalan circle.
”Begini, ada orang yang punya gagasan bagus, ide bagus ini, tapi karena circlenya tidak supporting system,
akhirnya ide itu sulit terimplementasikan. Makanya, berapa kali saya selalu sampaikan di berbagai macam forum, saya bilang, ade-ade kalau kita berteman dengan selalu orang yang ceritain orang, paggosiplah begitu, sehebat apapun id-nya, pasti kita juga akan menjadi paggosip. Oleh karena itu, selektif memilih pertemanan,” imbuhnya.
Selanjutnya adalah kompetensi. Karena kompetensilah yang membedakan kita dengan yang lain. Terkadang orang punya ide, tetapi kemampuan atau kompetensi
untuk mengeksekusi itu tidak ada.
”Caranya bagaimana supaya ada kompetensi kita? Oh, gampang. Kalau misalnya ada ide, tapi tidak punya kompetensi dan sebagainya. Sederhana sekali. Anda, selain memilih circle pertemanan yang baik tadi, kedua adalah Anda wajib punya role model.
Karena kadang-kadang orang mau berbuat, tapi tidak ada role modelnya. Role model ini penting. Kalau bahasanya anak-anak di Makassar, adalah punya mentor. Mentor terbagi ada dua, online dan offline. Nah, ini bisa kita manfaatkan. Jadi, kalau bisa, mungkin ada ide yang Anda komplementasikan,” terang Rijal. (*/rus)

