MAKASSAR,BKM.COM–ADA banyak cara untuk bisa meraih prestasi. Salah satunya aktif berorganisasi sedari kecil, menangkap serta mengambil setiap peluang dan kesempatan. Hal itu dilakoni oleh Eshin Usami Nur Rahman, seorang dokter muda.
ESIN, begitu sapaan karib cewek berhijab ini. Pemberian nama itu punya latar belakang. Yakni dari sebuah nama dalam sebuah film Jepang berjudul Oshin. Film ini cukup terkenal di era tahun 80 atau 90-an.
”Karena filmnya terkenal sekali waktu itu, akhirnya orang tua berinisiatif untuk memberikan nama Oshin. Namun, karena kebetulan saya ini adalah warga lokal, jadi akhirnya sedikit dimanipulasi. Diplesetkan.
Nah, akhirnya namanya jadi Esin. Esin ini sebenarnya adalah singkatan dari kampungnya orang tua. Ayah dari Enrekang, sementara ibu dari Sinjai. Jadilah Esin,” tutur Esin yang menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Ia lalu diajak membahas tentang perempuan. Baginya, perempuan lebih bermakna ke arah harta. ”Kenapa disebut harta? Kalau kita ngobrol sama orang-orang misalnya, bahkan di tetangga, di teman-teman, pertemanan perempuan, pertemanan laki-laki, perempuan pasti akan selalu jadi pembahasan. Jadi, sebagai seorang perempuan justru kita adalah sebuah harta yang patut untuk dijaga, dapat untuk dimaknai, dan juga sebagai kekayaan yang bisa untuk disimpan dan dipertahankan. Harta itu satu kata tapi banyak maknya,” ujarnya.
Ditanya tentang perjalanan karirnya, sebagai seorang perempuan dan anak muda, ia merintis dari bawah. Di belakangnya ada banyak sekali cerita yang panjang. Banyak hal-hal yang sebelumnya dipupuk hingga sekarang.
”Mawar yang tumbuh hari ini tidak ditanam kemarin sore. Seperti itu kurang lebihnya. Jadi memang butuh proses panjang. Dan kalau saya pribadi, dari sejak SD sampai sekarang itu sebenarnya salah satu orang yang sangat suka berorganisasi,” ungkapnya.
Ia lalu menyebut ketika duduk di bangku SD kelas satu hingga enam. Di organisasi paling kecil, Esin selalu menjadi ketua kelas. Lanjut ke SMP dan tergabung ke MPK dan BEP (Badan Eksekutif Pelajar). Kemudian aktif lagi berorganisasi ketika duduk di bangku SMA.
”Ketika kuliah, aktif di himpunan seperti mahasiswa pada umumnya. Bergabung juga di BEM (Badan Eksekutif Makasiswa). Ikut AISEC serta organisasi lainnya. Jadi sudah terbiasa dengan mengambil peluang yang ada,” terangnya.
Ditanya tentang kata mawar sebagai perumpamaan yang dipilihnya, Esin mengatakan bahwa mawar itu adalah bunga yang bila dilihat sangatlah indah. Ketika dicium mengeluarkan bau wangi. Namun ketika menyentuhnya dia berduri.
”Jadi ibarat mawar,punya pertumbuhan yang cukup panjang. Kenapa saya katakan bahwa mawar yang indah hari ini tidak ditanam kemarin sore, karena memang mawar itu butuh proses yang panjang. Saya merasa bahwa ini ada sinkronisasi antara setiap perjalanan seseorang untuk mencapai sesuatu
hingga sampai ke tujuannya, karena ada pertumbuhan-pertumbuhan yang dialami dan itu adalah proses yang panjang. Kurang lebih sama dengan ibaratnya proses pertumbuhan dari sebuah mawar,” jelasnya.
Ditanya tentang kemampuannya dalam memimpin yang tertanam sejak kecil, Esin mengakui bahwa ia memang terbiasa dididik untuk itu, baik di sekolah maupun rumah. ”Tentunya orang tua punya peran yang sangat besar dalam hal ini. Dari dulu orang tua saya itu selalu memberikan kebebasan seutuhnya kepada anaknya. Kebebasan untuk memilih, kebebasan untuk mengambil kesempatan, dan juga kebebasan untuk menarik semua peluang yang ada.
Jadi pola-pola yang seperti itu yang akhirnya terbentuk,” ungkap Esin.
Ia menyebut bahwa life is choice. Sebagai perempuan, seharusnya mulai dari dini, bahkan ketika menjadi seorang ibu, punya anak nantinya, juga harus mendidik mereka untuk menjadi bisa memilih walaupun dia perempuan. Karena menentukan pilihan yang tepat itu sulit. Menentukan pilihan yang tepat itu bukan hanya untuk perempuan, bukan hanya untuk laki-laki, tapi untuk semua kalangan.
Sejak kecil menjadi pemimpin, Esin tak menampik bahwa dirinya tidak terlepas dari masalah yang ada. ”Biasanya perempuan ini dikatakan sebagai sosok yang perasa, sosok yang bisa mengerti perasaan, hal-hal yang justru sebagai persoalan. Karena kita memiliki kelebihan berupa kepekaan, berupa perasaan tadi. Hal tersebut yang justru sebenarnya bisa kita ubah. Kalau ada yang beranggapan, misalnya pemimpin, dia hanya berteguh kepada apa yang menjadi tujuannya. Berbeda dengan bagaimana cara kita memimpin apabila kita seorang perempuan.
Sebagai orang yang dikenal sebagai perempuan perasa. Dari situ, kita akan tetap mencapai tujuan. Namun karena ada indera perasanya ini, sehingga semua orang-orang yang ada di sekitar, semua orang-orang yang menjadi teman-teman berjuang,
akan kita rasakan, oh, sepertinya dia searah sama kita, akhirnya kita bisa bersatu ke tujuan yang sama,” jelasnya lagi.
Dengan jiwa perasa yang dimiliki seorang perempuan, menurut Esin, ada bagus dan tidaknya. Bagusnya, karena seseorang bisa betul-betul memahami orang-orang yang ada di sekitarnya. Karena indera perasa itu pula bisa menjadi hal-hal yang rancu. Karena akhirnya berberharap semua orang untuk mencapai tujuan dan harus dalam perasaan yang senang.
”Sementara tidak mungkin, bahkan sangat jarang terjadi, dalam satu tujuan yang sama, dalam satu perintah yang sama, semua orang yang ada di dalam itu dalam perasaan senang.
Karena kita akhirnya sadar, oh, kayaknya ini ada yang tidak senang. Oh ini kayaknya ada yang kurang interest. Akhirnya kita tahu dalam mencapai tujuan itu, kayaknya orang ini yang tidak suka, orang ini yang akhirnya merasa kurang nyaman, dan sebagainya,” bebernya. (rus)

