pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Beragama Hindu, Jadi Ketua Pembangunan Masjid

I Wayan Sukawiratnata, Guru SMP Dengan Toleransi Tinggi

MAKASSAR,BKM.COM–SIKAP toleransi menjadi elemen penting dalam kerukunan di tengah-tengah perbedaan suku maupun agama. Hal itu yang ditunjukkan oleh I Wayan Sukawiratnata. Seorang warga Bali beragama Hindu yang puluhan tahun menetap di Kabupaten Takalar.

WAYAN, begitu sapaan akrabnya. Ia menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Minggu (28/7). Profesinya seorang guru. Tepatnya di SMP Negeri 3 Mangarabombang.
Salah satu bentuk toleransi tinggi ditunjukkan Wayan di sekolahnya. Ia menjadi ketua panitia pembangunan masjid sekolah, walau beragama non muslim.

Ia lalu menceritakan awal mula menerima amanah tersebut. ”Saya seorang guru olahraga. Biasa kalau masuk lingkungan sekolah rasanya ada sesuatu yang hambar, lantaran tidak ada tempat yang menyejukkan, seperti tempat ibadah,” tuturnya.

Ia kemudian melaporkan hal tersebut kepada pihak sekolah untuk menginisiasi pembangunan musala atau masjid. Gayung bersambut. Digelarlah rapat untuk membahas rencana tersebut. Hasilnya, disepakati Wayan menjadi ketua panitia dibantu guru-guru lainnya.

Sebelumnya, Wayan sempat menolak untuk posisi tersebut, dengan pertimbangan dirinya seorang non muslim. Namun setelah berdiskusi lebih lanjut, dia pun bersedia untuk menjadi ketua panitia pembangunan masjid tersebut.

Sebagai seorang yang beragama Hindu, Wayan menjunjung tinggi nilai toleransi terhadap agama lain. Hal itu sudah tertanam dalam dirinya sejak kecil.

”Saya lahir di Dusun Piling, Desa Mangesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Di desa tersebut toleransi sangat dijunjung tinggi. Terdapat berbagai agama di permukiman tersebut, seperti agama Kristen, Islam, dan Hindu. Semuanya hidup rukun,” ungkap Wayan.

Dijelaskannya, sedari kecil dirinya sudah diajarkan untuk bertoleransi terhadap sesama. Hal itu pula yang mendasarinya untuk terlibat dalam pembangunan masjid di sekolahnya.

Di awal proses pembangunan masjid tersebut, Wayan menyampaikan kepada pihak sekolah untuk mencari donatur dari luar sekolah. Setelah berkordinasi dan mendapat izin dari kepala sekolah, ia lalu menggalang donasi dari berbagai kalangan.

Mulai dari anggota dewan, caleg, tokoh masyarakat, serta elemen lainnya.
Setelah berhasil mengumpulkan donasi awal,

Wayan kembali berkordinasi dengan para guru di sekolah tersebut untuk menyampaikan rencana pembangunannya. Dimulailah dengan membuat fondasi, lalu ke bagian dinding serta atap.

”Sekarang sudah hampir rampung dan mulai digunakan. Tinggal lantainya dan beberapa bagian lainnya. Kita targetkan bisa segera rampung dan diresmikan tahun depan.” jelas Wayan.

Bukan hanya itu bentuk toleransi yang dipraktikkan Wayan. Seorang putrinya ia kuliahkan di kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Sang anak mengikuti seluruh aturan yang diterampakn di kampus tersebut, seperti memakai jilbab dan aksesoris lainnya.

Wayan juga meminta agar anaknya belajar bahasa Arab agar memudahkannya dalam beradaptasi. Putrinya itu kini telah menyelesaikan kuliahnya dengan predikat cumlaude. Sekarang sudah bekerja di Bali.

Wayang juga mengisahkan bahwa dirinya pernah mewakafkan sebagian tanahnya di Takalar untuk digunakan bagi kepentingan umum. Hal itu dipicu karena jalanan di dekat kawasan tempat tinggalnya sering macet ketika itu lantaran sempitnya akses jalan untuk para pengendara. Ia pun dengan sukarela memberikan sebagian tanahnya untuk kepentingan umum.

Selain toleransi beragama yang tinggi, Wayan juga peduli dengan dunia olahraga. Ia memiliki sasana tinju di Kabupaten Takalar dan daerah lain. Termasuk di Bali. (yus)



×


Beragama Hindu, Jadi Ketua Pembangunan Masjid

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link