pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Kekuatan PDIP di Sulsel Memudar

IST Prof Sukri Tamma

MAKASSAR, BKM–Guru besar Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Sukri Tamma menilai jika kekuatan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Sulawesi Selatan memudar.
Menurut Sukri Tamma, secara nasional PDIP mungkin adalah partai pemenang, tetapi itu tidak berlaku di Sulsel. Situasinya terbilang sulit, apalagi dengan ambisi untuk menjadi penguasa.
Khususnya keinginan untuk memenangkan kadernya yaitu Moh Ramdhan (Danny) Pomanto di Pilgub Sulsel 2024. Partai berlambang banteng gemuk itu harus berjuang keras untuk memenangkan Pilgub.
“Kalau kita bicara wilayah atau daerah, dalam hal ini Pilkada punya kondisi objektifnya masing-masing, punya sentimen sosial politik masing-masing. Kemudian juga terpenting adalah ketokohan,”ujar Sukri Tamma dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (28/9).

Menurut dia, untuk ketokohan kader PDIP dalam sejarah di Sulsel lebih selalu kalah bersaing dengan partai lain. Terutama oleh Golkar yang begitu mendominasi.
“Karena Sulsel itu sejarahnya memang adalah Golkar, berpuluh tahun berkuasa. Sekarang ini saja baru bergeser ke partai-partai lain seperti Nasdem, Gerindra, dan lain-lain,”ucapnya.
“Sehingga ketika ingin bersaing dengan kader partai lain, PDIP selalu sulit, bahkan harus mengalah, sebab jika memaksakan, harus siap kalah,”tambah dia.
Meski begitu, Sukri tak ingin menutup mata bahwa PDIP punya sejumlah kader yang cukup bagus bertarung di Pilkada serentak. Namun, masalahnya adalah apakah itu cukup jika disandingkan dengan kekuatan partai.
“Infrastruktur kepartaian PDIP tidak terlalu bagus, apalagi di Pemilu 14 Februari kemarin tidak masuk empat besar di Sulsel. Ini jelas menunjukkan tantangan berat yang harus dilalui untuk memenangkan kontestasi baik Pilgub maupun Pilkada di seluruh daerah,”terangnya.

Lebih lanjut dia, jika bicara mengenai kader yang diusung di Pilkada, semua mata pasti tertuju pada kontestasi Pilgub dimana PDIP mengusung Danny Pomanto berpasangan Azhar Arsyad.
Bagi Sukri, Danny memang punya ketokohan yang cukup bagus, namun itu mungkin hanya berlaku di daerah Makassar. Sehingga ada pekerjaan besar untuk membuatnya diterima di 24 kabupaten/kota di Sulsel. Dalam sisi geopolitik, Danny yang berdarah Gorontalo juga sangat sulit membangun sentimen primordial di Sulsel.

“Apakah itu PDIP ataupun Danny, dua-duanya harus bekerja keras karena saling terkait. Karena Sulsel bukan hanya Makassar saja,” tukasnya.
Tidak hanya itu, tantangan besar lainnya bahwa hampir seluruh partai besar termasuk pemenang Pemilu di Sulsel berada di barisan lawan mereka yaitu Andi Sudirman-Fatmawati Rusdi.
PDIP akan melawan partai pemenang yaitu Nasdem yang berkoalisi dengan Golkar, Gerindra, PKS, dan Demokrat. Kemudian ada PAN, Hanura, Gelora, dan PSI yang totalnya sebanyak sembilan partai.
Sementara PDIP, hanya dengan dua tambahan partai besar yaitu PKB dan PPP. Sisanya partai non parlemen seperti Partai Buruh, PBB, dan Ummat.

“Di situasi ini, dengan Pilgub yang hanya diikuti dua pasangan calon, koalisi partai yang punya kekuatan lebih besarlah yang berpotensi menang. Apalagi sudah ada survei yang menunjukkan selisihnya yang bahkan mencapai sekitar 30 persen,”tandasnya.



×


Kekuatan PDIP di Sulsel Memudar

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link