JAKARTA, BKM — Para operator seluler di Indonesia kini mulai bersiap bertarung dijalur 4G. Bahkan, beberapa dari operator tersebut, pada saat ini mulai menggelar layanan serupa di beberapa kota di Indonesia. Salah satunya adalah PT Telkomsel. Anak perusahaan PT Telkom Indonesia ini telah memiliki alokasi spektrum sebesar 10 MHz (Mega Hertz) di frekuensi 900 MHz dan 1.800 MHz.
Senior Vice President LTE Project Telkomsel, Hendri Mulia Sjam, di Jakarta, Rabu (29/7), mengatakan, Telkomsel akan bekerja sama dengan Telkom untuk menghadirkan jaringan WiFi kepada pelanggan Telkomsel. Sehingga baik cakupan maupun kualitas layanannya bisa terbantu. Khususnya di wilayah indoor.
Telkomsel dan Telkom saat ini sudah menjalin kerja sama layanan WiFi 802.11n (setara dengan 4G) untuk melengkapi coverage Telkomsel 4G LTE. Terutama untuk layanan indoor di pusat-pusat keramaian. ”Berdasarkan riset, 60 persen traffic yang di-generate itu dari indoor coverage. Dengan demikian, Telkomsel bisa bersaing dengan kompetitor,” tegasnya.
Hendri mengakui, besaran spektrum yang dimilki suatu operator adalah aset yang sangat berharga. Karena spektrum itu adalah soulnya industri seluler. Ia juga berharap lelang spektrum di frekuensi 2.100 MHz juga bisa dimenangkan Telkomsel. Sehingga bisa menambah jumlah spektrum yang dimiliki Telkomsel. (*mir)
Penjual Bendera Menjamur, Pendapatan Menurun
MAKASSAR, BKM — Seminggu setelah lebaran Idul Fitri, beberapa sudut jalan di kota Makassar kini mulai diramaikan pedagang bendera musiman. Jumlahnya semakin bertambah seiring dengan makin dekatnya pelaksanaan perayaan peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 2015 mendatang.
Menjamurnya jumlah pedagang bendera ini, secara tidak langsung telah berdampak pada penurunan omzet penjualan maupun keuntungan yang diraih para pedagang itu. Dg Baji, salah seorang pedagang bendera musiman di Jalan AP Pettarani mengakui kalau dirinya sudah empat tahun menggeluti pekerjaan berjualan bendera, umbul-umbul maupun perhiasan bernuansa HUT Kemerdekaan lainnya.
”Dalam beberapa hari terakhir, penjualan bendera kami sepi. Ditahun lalu, mulai dari sebulan hingga sepekan sebelum perayaan tujuh belasan, pendapatan kami bisa mencapai Rp2 juta per hari. Tapi sekarang, hanya rata-rata berkisar Rp500 ribu per hari,” ujar Dg Baji, ketika ditemui BKM di tempat jualannya di Jalan AP Pettarani, Rabu (29/7).
Meski demikian, ia tetap merasa optimis kalau omzet penjualan maupun pendapatannya akan meningkat dalam beberapa hari ke depan. Melihat dari pengalaman tahun 2014 lalu, memasuki bulan Agustus pembelian biasanya mulai mengalami peningkatan. Pembeli kebanyakan berasal dari perkantoran di luar kota maupun dalam kota Makassar.
”Pada tahun 2014 lalu, permintaan pembelian bendera, umbul-umbul, maupun perlengkapan untuk memperingati perayaan 17 Agustus baru terjadi mulai dari awal Agustus. Pembeli kebanyakan dari perkantoran daerah lain di luar Makassar maupun di dalam kota Makassar. Mereka biasanya memesan hingga puluhan lusin bendera dan perlengkapan 17 Agustusan lainnya yang harganya bisa mencapai Rp10 jutaan,” tuturnya.
Tentang pembelian dari lingkup perumahan, Dg Baji mengatakan, tetap juga ada. Tapi jumlahnya sangat sedikit dibandingkan perkantoran. Adapun harga bendera yang dipasarkan bervariasi. Misalnya bendera merah putih untuk perkantoran dengan ukuran 2 meter seharga Rp70 ribu per lembar. Sedangkan untuk rumah yang ukurannya 2 meter seharga Rp45 ribu dan 1,5 meter seharga Rp30 ribu.
”Kalau umbul-umbul model kipas untuk perkantoran harganya Rp300 ribu per 10 kipas,” paparnya. (arf/mir

