MAKASSAR, BKM–Jelang Musyawarah Wilayah (Muswil) Partai Amanat Nasional (PAN) Sulawesi Selatan, internal partai semakin memanas dengan munculnya tiga nama besar yang telah mendaftarkan diri sebagai calon ketua dewan pimpinan wilayah (DPW).
Ketiganya Ketua DPW PAN Sulsel adalah Ashabul Kahfi yang juga Anggota DPR RI, Ketua DPD PAN Maros Chaidir Syam yang juga Bupati Maros serta Ketua PAN Gowa Husniah Talenrang yang tak lain adalah Bupati Gowa ini.
Banyak pihak yang tetap mengungkulkan Kahfi sebagai petahana, demikian pula juga tidak sedikit yang mengandalkan Chaidir yang berkarir di PAN sudah lebih 20 tahun.
Hanya saja, Husniah memiliki faktor yang cukup menentukan lantaran kakaknya yakni Fadil Imran sangat diperhitungkan dalam kancah politik nasional.
Fadil Imran telah membuktikan bila kakaknya yakni Firdaus Manye mampu menjadi bupati Takalar serta adilknya yakni Husniah mampu menjadi bupati Gowa.
Ketua DPD PAN Makassar Hamzah Hamid mengakui bia Muswil sangat dinamis. Meski dirinya tak mendaftar sebagai formatur, namun dirinya memuji siapa saja yang mendaftar.
“Saya tak mendaftar sebagai formatur, tapi saya memuji dan mengapresiasi yang mendaftar”ucap Anggota DPRD Sulsel ini, Rabu (9/4).
Direktur Eksekutif Pro Politik Indonesia (PPI), Bahar Moenta, ketiganya memiliki peluang yang cukup besar, meskipun dominasi Pak Kahfi sebagai petahana masih kuat.
“Pak Kahfi tanpa cacat selama memimpin PAN. Di bawah kepemimpinannya, PAN berhasil mempertahankan tiga kursi DPR RI. Jika beliau masih berkeinginan maju, kemungkinan besar ia tetap terpilih, kecuali ada aturan internal yang membatasi periode jabatan,” ujarnya, Rabu (9/4).
Namun apabila Kahfi memutuskan untuk tidak mencalonkan diri, kata dia, persaingan antara Chaidir dan Husniah diperkirakan akan menjadi sorotan utama.
“Secara kekaderan dan pengalaman di PAN, Chaidir lebih unggul. Ia memulai karier dari bawah sebagai sekretaris DPD, ketua DPD, hingga ketua BM PAN Sulsel. Di sisi lain, Husniah juga menarik dengan nilai tambah sebagai perempuan, mengingat tren kepemimpinan perempuan di Sulsel sedang meningkat,”tambahnya.
Meski demikian, Husniah menghadapi tantangan berupa fokus yang lebih besar pada konsolidasi pemerintahan di Gowa, mengingat masa jabatan barunya sebagai bupati. Sementara itu, Chaidir yang telah memasuki periode kedua sebagai Bupati Maros dinilai lebih siap untuk mengambil langkah strategis ke depan.
Bahar juga menekankan pentingnya faktor komunikasi dan kompromi dalam politik.
“Muswil ini bukan sekadar ajang perebutan posisi, tetapi juga upaya memanfaatkan potensi kader untuk kemenangan di pemilu mendatang. PAN harus mengelola energi politiknya dengan bijak,” katanya.
Tak kalah penting, sikap DPP PAN akan menjadi faktor penentu dalam Muswil ini.
“DPP kemungkinan besar sudah memiliki arah tertentu. Muswil bisa saja dirancang seolah ada persaingan ketat, tetapi hasil akhirnya sering kali mencerminkan kesepakatan yang telah diatur sebelumnya,”jelansya.
Muswil PAN Sulsel kali ini diprediksi tidak hanya menjadi ajang adu visi dan strategi, tetapi juga momen konsolidasi penting menuju Pemilu 2029. (jun/rif)

