MAKASSAR, BKM — Geraldine Nadya Talumewo atau lebih akrab disapa Dea Geraldine kini sedang mempersiapkan diri all out menjadi Miss Universe Indonesia. Serangkaian kegiatan telah dilakukan di daerah kelahirannya Makassar, Sulawesi Selatan.
Untuk menjadi Miss Universe Indonesia, kata Dea, dirinya butuh persiapan banyak. Makanya, selama berada di Makassar ia banyak melakukan kegiatan. Termasuk video shoot dengan Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan.
”Saya sebenarnya bisa pulang besok. Tapi saya ada kegiatan video shoot di Dinas Pariwisata, maka saya baru bisa berangkat hari Sabtu malam,” tutur Dea di Trans Studio Mall Makassar, Kamis malam (11/9).
Dea juga mengungkapkan, dirinya akan menjalani masa karantina mulai dari tanggal 22 September sampai 26 September 2025. ”Untuk itu, saya kini sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi masa karantina tersebut,” kata Dea.
Dea mengakui, dirinya hingga terjun di Miss Universe ini berawal dari sebuah keraguan. Namun setelah adanya support atau dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari keluarga dan teman-teman, ia jadi bersemangat.
”Saya pun mencobanya dan akhirnya lolos. Saya pikir juga kalau bukan sekarang, kapan lagi. Jadi akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba,” ujarnya.
Untuk mencapai jenjang Miss Universe, aku Dea, dirinya banyak ditempa seorang coach pribadi. Coach ini yang menata dan mengarahkan apa saja yang harus dilakukan. Termasuk menjalani latihan khusus. Seperti menjalani sesi pemotretan resmi dan bereksperimen dengan konsep virtual yang menonjolkan karakter dirinya. Semua proses ini bukan hanya soal penampilan luar.
Dea mengakui, dalam ajang Miss Universe dirinya ingin mengangkat budaya Makassar khususnya dan Sulawesi Selatan umumnya. Sehingga Kota Makassar dan Provinsi Sulawesi Selatan akan makin dikenal masyarakat secara nasional.
Aktif di Banyak Bidang
Geraldine Nadya Talumewo atau lebih dikenal kini tengah menjadi sorotan publik. Perempuan kelahiran Makassar berusia 27 tahun, kini berhasil masuk dalam Top 16 finalis kontes kecantikan nasional, dengan babak grand final dijadwalkan pada 22 September mendatang.
Dea menyelesaikan Master of International Business di Curtin University, Singapura (2021–2022), Architecture Short Course di Royal College of Art, London (2019),
serta pendidikan Interior Design di Lasalle College of the Arts, Singapura (2016–2019).
Sebelumnya, Dea menempuh International Baccalaureate di Sekolah Pelita Harapan, Jakarta. Kini ia mengelola sejumlah bidang usaha, mulai dari interior design, fashion, hingga exhibition bersama Debindo.
”Kalau nilai kebudayaan org bugis yang pantang menyerah dan jiwa berani tinggi ini secara personal juga terrefleksi dalam mengikuti kompetisi Miss Universe Indonesia dan ingin orang tau bahwa ini adalah nilai kebudayaan yang juga bisa menjadi inspirasi,” jelas perempuan asal Sulawesi Selatan tersebut.
Dea juga menambahkan kecantikan itu tidak cuma soal penampilan luar. Justru akan lebih bermakna kalau dihubungkan sama cara kita berpikir dan bagaimana kita bersikap.
”Seorang perempuan benar-benar cantik luar dan dalam Intelektualitas bikin kita bisa ngobrol dengan isi, punya sudut pandang, dan peduli sama sekitar. Profesionalisme keliatan dari bagaimana kita disiplin, konsisten, dan bisa diandalkan. Jadi menurut saya, kecantikan itu kombinasi antara luar dan dalam penampilan, cara berpikir, dan sikap,” jelas Dea.
Menurutnya, Indonesia angka perempuan pekerja 30 persen lebih rendah dari laki-laki ini merupakan isu ketidaksetaraan gender di dunia kerja. Dimana advokasinya adalah pemberdayaan perempuan di Industri kerja.
Dari sana Dea semakin tertarik mengeksplorasi kriya khas daerah, mulai dari kain tenun hingga kerajinan tangan.
”Saya ingin mengangkat arts and craft dari Makassar dan Sulawesi Selatan, agar semakin dikenal luas,” tambahnya.
Kini, dengan latar belakang sebagai desainer interior, pelaku bisnis kreatif, sekaligus pegiat sosial, Dea Geraldine siap melangkah dipanggung besar kontes kecantikan.
”Bagi saya, ini bukan hanya kompetisi, tapi juga pengalaman berharga untuk belajar, berkembang, dan membawa budaya Indonesia ke level yang lebih tinggi,” ujarnya.
Karier profesional Dea terbilang beragam. Saat ini, Dea menjabat Direktur Expo Asia Global Net (2025–sekarang) yang mengelola Indonesia Village Expo & Forum 2025 bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.
Dea juga aktif sebagai Account Executive Debindo Mega Promo sejak 2024, serta Interior Designer & Sales Marketing Manager Amaira Karya Dharma sejak 2023.
Sebelumnya, Dea pernah berkarya diberbagai perusahaan internasional, mulai dari Hirsch Bedner Associates di Singapura, Global Crypto Offering Exchange, hingga MAMO Studio.
Dea juga terlibat dalam proyek-proyek desain prestisius, seperti rekonstruksi Kompleks Al Nouri di Mosul bersama arsitek Adi Purnomo.
Tak hanya didunia kerja, Dea juga mendirikan proyek fashion personal bernama KALI, di mana ia berperan sebagai Co-Founder, Creative Director & Fashion Designer. KALI menjadi ruang ekspresi perempuan untuk merayakan keberanian, feminitas, serta kekuatan diri tanpa kompromi. (mir)

