GOWA, BKM — Di tengah arus globalisasi digital nilai-nilai kearifan lokal justru menjadi jangkar penting dalam membangun budaya literasi yang kuat dan berdampak.
Penggunaan digitalisasi sudah menjadi keharusan di era kekinian. Masyarakat mau tak mau, harus mengikuti tren ini sebab jika tidak akan menjadi personal yang gaptek.
Bahasan inilah yang mengemuka dalam lokakarya literasi digital bertajuk ‘Meningkatkan Literasi Digital di Era Transformasi Teknologi’ yang digelar sehari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursarsip) Kabupaten Gowa, pada Selasa (28/10).
Lokakarya literasi digital ini dibuka Kabid Pengembangan dan Pembinaan Sumber Daya Disperpusarsip Gowa, Aswar Said, di aula kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Gowa, Jalan Masjid Raya, Sungguminasa.
Dalam lokakarya yang diikuti puluhan peserta ini, Aswar yang mewakili Kadis Perpusarsip Gowa Suhriati menjelaskan, lokakarya ini mengajak peserta terutama generasi muda untuk berpikir kritis dan cermat memilah informasi serta berani menyuarakan nilai-nilai budaya lokal ke ruang digital global.
”Di era digital, informasi tersebar begitu cepat. Tantangan kita bukan hanya menyimpan dokumen masa lalu tapi menghidupkan kembali semangat literasi yang relevan untuk hari ini dan masa depan,” kata Aswar.
Dikatakan Aswar, generasi muda kini memegang peranan penting sebagai agen perubahan. Pemuda, tambah dia, tidak hanya piawai dalam teknologi namun juga tangguh dalam menjaga identitas budaya.
”Karena itu, lokakarya ini diharapkan dapat menggunakan platform digital sebagai sarana menyuarakan ide menyebarkan inspirasi dan melestarikan identitas kita sebagai bangsa yang kaya akan nilai-nilai lokal. Perlu diketahui, lokakarya ini bertujuan untuk mendorong timbulnya budaya literasi digital yang tidak hanya cerdas secara informasi namun juga berakar kuat pada nilai-nilai lokal budaya baca yang bermakna content creative bertema lokal dan kolaborasi lintas generasi menjadi pondasi dalam upaya ini,” jelas Aswar.
Sementara itu, panitia pelaksana lokakarya, Irfan Latief menyebutkan, peserta yang ikut sebanyak 50 orang terdiri dari pegiat literasi, pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum.
Peserta mendapatkan ilmu tentang keliterasian dari dua pemateri yang didatangkan panitia. Masing-masing Achmad Ilham dan Badrullah. Keduanya dari Widyaiswara BPSDM Sulsel dengan tajuk materi yakni konsep literasi digital dan literasi digital berbasis kearifan lokal serta pemanfaatan AI gratis dan praktik penyusunan konten.
Salah seorang peserta dari pegiat literasi bernama Imam Akbar Muttaqin mengaku keikutannya sebagai peserta menambah wawasannya saat ini.
Imam mengatakan, banyak hal yang menjadi referensi untuk ilmunya. Sebagai seorang pegiat, kata Imam, dirinya yakin khasanah berpikirnya jauh lebih luas setelah dua pemateri mengulas dan menularkan ilmunya yang disampaikan secara lugas.
”Terimakasih kepada pihak Perpusarsip dengan menggelar lokakarya ini. Saya sangat terbantu, wawasan literasi saya makin luas apalagi terkait digitalisasi saat ini,” kata Imam. (sar)

