pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Pilkada Maros, Pangkep dan Bulukumba Tanpa Petahana

MAKASSAR, BKM–Meski kontestasi Pemilihan kepala daerah (Pilkada) kabupaten dan kota masih terbilang lama, mamun sejumlah politisi telah membangun komunikasi lintas partai politik, utamanya bagi kabupaten kota yang kepala daerahnya sudah memimpin dua periode.

Pada Pilkada serentak 2030 atau 2031, tiga dari 24 daerah tanpa petahana yakni Kabupaten Maros, Pangkep dan Bulukumba.
Di Bulukumba, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga Wakil Bupati HA Edy Manaf telah membangun komunikasi dengan legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulsel Andi Muhammad Anwar Purnomo dan Legislator Nasdem Mizar Roem. Hanya saja pertemuam ketiganya soal infrastruktur yang ada.

Edy Manaf berharap Anwar Purnomo dan Mizar dapat bekerja membangun daerah.
Soal Pilkada sama sekali belum dibicarakan, Anwar merupakan putra Mantan Bupati dua periode Andi Sukri Sappewali, sementara Mizar merupakan putra mantan Bupati Sinjai dua periode HM Roem.
Di Pilkada Bulukumba sebelumnya pernah bertarung Tomy Satria Yulianto dari PKB, Arum Spink dari Nasdem, dari Jamaluddin M Syamsir dari Golkar.

Di Maros belum terlihat komunikasi antara Andi Muhammad Irfan AB dari PAN, Suhartina Bohari dari Golkar, Sahiruddin Malik dari Nasdem serta Muzayyin Arif dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Demikian pula di Pangkep ada Abd Rahman Assegaf dari PKB, Andi Nirawati dari Gerindra, Sofyan Syam dan Andi Ilham Zainuddin dari Golkar serta keluarga Muhammad Yusran Lalogau.
Plt Ketua harian Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Golkar Sulsel HA Kadir Halid yang dihubungi Selasa (7/4) mengaku bila saat ini belum bisa diterka. “Saat ini yang layak maju di Pilkada nanti masih sulit diterka,”ujar Kadir Halid yang juga Ketua Komisi D DPRD Sulsel ini.

Dari sejumlah nama diatas empat diantaranya pernah dan saat ini menjabat sebagai wakil bupati (Wabup).
Abd Rahman Assegaf sudah dua kami mejabat Wabup Pangkep, Suhartina sekali jabat Wabup Maros, Tomy Satria Yulianto satu kali menjabat Wabup serta Edy Manaf dua kali menjabat. (rif)

Punya Pengalaman dan tak terseret dalam perilaku anti sosial

PENGAMAT politik dari Unhas Andi Haris Phd berpendapat bila itu merupakan hal yang umum dan ideal jika mereka yang layak maju untuk berlaga, baik itu dipentas politik maupun nasional adalah kader partai yang memang mau dan mampu bekerja untuk kepentingan rakyat. “Selain itu tentu saja mereka ini sudah teruji integritas dan moralitas nya,punya pengalaman yang banyak dalam kegiatan kemasyarakatan, punya kredibilitas yang baik dan tidak pernah terseret dalam perilaku anti sosial,”jelas Andi Haris Phd.

Hal beda disampaikan pengamat politik dari UIN Alauddin Makassar Prof Dr Firdaus Muhammad “Setiap partai semestinya siapkan kadernya maju di Pilkada dan dirancang jauh sebelumnya, bangun popularitas dan potensi elektoralnya, baik ketua partai maupun kader lain yang memiliki potensi maju”ujar Firdaus Muhammad.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unibos Dr Arief Wicaksono menilai karena putusan MK yang memisahkan jadwal Pemilu nasional dan daerah mulai 2029, maka Pilkada kabupaten/kota serentak berikutnya kemungkinan baru sekitar 2030–2031.
Saat ini parpol masih dalam fase persiapan jangka panjang untuk fokus ke Pemilu Legislatif 2029 menambah kursi DPRD sebagai modal besar buat usung kader di Pilkada nanti.

Layak maju itu relatif, tergantung elektabilitas, track record, dukungan internal Parpol, dan isu lokal di masing-masing kab/kota. Tapi secara umum, yang sering dianggap punya potensi banyak pengamat dan media adalah; Pertama, Kader yang punya popularitas tinggi di daerahnya. Kedua. Berpengalaman di DPRD, pemerintahan, atau organisasi massa. Ketiga, Didukung kuat struktur Parpol. Keempat, Punya basis suara yang terbukti dalam pemilu sebelumnya.
“Sampai April 2026 ini, belum ada daftar calon resmi untuk Pilkada mendatang karena masih terlalu dini. Tapi Parpol sudah harus mulai pemanasan dan membangun kader potensial.

Di level Provinsi beberapa figur yang cukup kuat dan punya peluang maju, misalnya Azhar Arsyad, punya pengalaman pilgub, basis NU kuat. Dari Nasdem ada Syaharuddin Alrif, Ketua DPW Nasdem Sulsel, sekaligus Bupati Sidrap, punya banyak suara di Pileg, dan sangat kuat di wilayah Ajatappareng. Dari Gerindra ada Andi Iwan Darmawan Aras, Ketua DPW Gerindra Sulsel. Dari PDIP ada Ridwan Andi Wittiri, Ketua DPD PDIP Sulsel. Adapun Golkar, Demokrat, PKS, sedang membangun kohesivitas internal saat ini.

Di level Kabupaten/Kota, peluang calon bupati/walikota dan wakilnya di Pilkada kabupaten/kota berikutnya yang paling realistis dan berpeluang besar adalah para incumbent (petahana), dan atau kader parpol lokal/nasional yang sedang naik daun di tingkat kab/kota, yang menjabat sebagai ketua DPC parpol, anggota DPRD berprestasi, atau tokoh muda partai.
Pada Pilkada 2024 lalu terdapat lima petahana yang tumbang yakni Syamsari Kitta di Takalar, Ilhamsyah Azikin di Bantaeng, Amran di Wajo, Yohanes Bassang di Toraja Utara dan Budiman Hakim di Luwu Timur. (rif)




×


Pilkada Maros, Pangkep dan Bulukumba Tanpa Petahana

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link