MALILI, BKM — Rumah nelayan Desa Wewangriu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur terbengkalai. Soalnya, bantuan hibah dari Kembantuan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) hingga kini belum difungsikan.
Pantauan Berita Kota Makassar menyebutkan puluhan rumah nelayan terlihat kosong. Bahkan, bola lampu yang tadinya terpasang diteras rumah terlihat copot satu persatu.
Selain itu, 50 unit genset dan 46 unit pompa air juga ikut hilang. Kabarnya, genset dan pompa air tersebut diambil oleh pekerja karena upah kerja mereka belum dibayarkan.
Kepala Tukang, Amirullah Dg Gau juga mengaku kalau upah kerjanya tidak dibayarkan hingga 4 bulan lamanya. Bahkan, motor pribadinya pun rela dijualnya untuk membayarkan upah buruhnya itu.
“Dari pada saya dipukul pak, saya suruh saja ambil itu genset sebagai upah kerjanya. Saya yang dikenal bukan mereka (kontraktor),” ungkap Dg Gau, warga Kabupaten Takalar itu via telepon, Sabtu (20/8) kemarin.
Dg Gau merincikan, upah kerja yang telah disepakati antara dirinya dengan kontraktor rumah nelayan itu senilai Rp300 ribu perharinya. Ia juga mengaku rela menjual motor seharga Rp6 juta untuk bayar anggotanya.
“Hitung maki saja pak gaji saya yang belum dibayarkan Rp300 ribu perhari selama empat bulan. Motor saya juga saya jual untuk bayarkan gaji anggota,” ungkap Dg Gau.
Ditemui terpisah, Pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Luwu Timur, Udin menambahkan, dari 50 unit mesin pompa air, empat diantaranya telah diamankan di gudang kantor.
“Dari pada hilang semua mesin pompa airnya lebih baik saya amankan digudang. Ada empat itu saya simpan,” ungkap Udin yang ditemui dihalaman kantor DKP Luwu Timur, Minggu (20/8) kemarin.
Sebelumnya, mantan Wakil Bupati Luwu Timur, Saldy Mansur mendesak penegak hukum meninjau proyek bantuan rumah nelayan yang ada di Kabupaten Luwu Timur. Menurutnya, bantuan hibah Kemenpera tersebut dinilai tak sesuai dengan peninjauan awal yakni 100 unit rumah nelayan namun kenyataannya hanya 96 unit.
“Persetujuannya 50 unit di Burau dan 50 unit di Malili tapi kenapa hanya 46 unit di Burau. Padahal waktu itu dengan Kiai Azis kami komunikasikan ke pak Dirjen untuk dua lokasi,” ungkapnya.
Ketua Pospera Luwu Timur, Erwin R Sandi mengatakan, berdasarkan data yang ada, anggaran yang telah dihabiskan untuk perumahan nelayan tersebut yakni Rp4.196.038.000 untuk 50 unit.
“Berdasarkan RABnya, satu unit dianggarkan Rp83.920.760 juta dan ada 100 unit rumah nelayan. Selain itu, ada tambahan pekerjaan seperti fasilitas umum, jalan beton Rp236.388.413, pekerjaan saluran Rp242.888.365 dan sambungan listrik dan air bersih Rp61.875.000 juta,” ungkap Erwin. (alp/B)

