LUTIM, BKM — Anggota DPR RI Lutfi Andi Mutty (LAM) merilis dua kasus yang kini menjadi tantangan bagi Polri, Selasa (11/7).
Dua kasus yakni, penyiraman air keras ke wajah penyidik KPK Novel Baswedan dan penganiayaan atas ahli Teknologi Informasi (information technology atau IT) alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) Hermansyah.
Menurutnya, dua kejadian ini hanya contoh kecil bahwa kita belum siap berdemokrasi. Karena salah satu substansi demokrasi adalah menyelesaikan masalah secara damai yang mekanismenya lewat pengadilan.
“Apakah Indonesia sudah jadi negara Preman?. Belum hilang dari ingatan kasus penyiraman air keras ke wajah penyidik KPK Novel Baswedan, kembali kita dikejutkan olh kasus penganiayaan atas ahli IT ITB Hermansyah,” ungkap Lutfy.
Ia menjelaskan, substansi lain demokrasi adalah warga negara diberi kebebasan menyatakan pendapat secara lisan dan tertulis, sepanjang yang disampaikan itu bukan fitnah, tidak menghina dan tidak mengadu domba.
“Jadi, jika ada pihak yang merasa dirinya difitnah atau dihina, maka dia harus membawanya ke pengadilan. Bukan bertindak main hakim sendiri. Dua kasus ini juga menjadi tantangan bagi Polri untuk membuktikan bahwa Polri kian profesional sejak pisah dari TNI dan diusianya yg makin matang 71 tahun,” kata Lutfy.
Dia menyebut Polri merupakan pilar utama tegaknya wibawa hukum di negara demokrasi. Artinya, jika di negara totaliter, Polri adalah alat kekuasaan, maka di negara demokrasi, polri adalah alat negara yang hanya mengabdi pada tegaknya hukum.
“Karena itu kita semua percaya bahwa Polri bisa mengungkap pelaku kedua kasus di atas. Jika kasus teror bom saja yang hanya dengan hitungan jam bisa diungkap, bahkan baru merencanakan mau melakukan teror bom sudah bisa diungkap, masa kasus ini tidak?,” kata Lutfy.
Lutfy menambahkan, jika kejadian semacam ini terus saja terulang, jangan salahkan rakyat jika mereka tidak percaya lagi kepada Polri. “Dan itu artinya kita telah menjelma jadi negara preman,” ungkap Lutfy melalui rilisnya. (alp/C)
Kasus Novel-Hermansyah Tantangan Polri
×

