MAKASSAR, BKM — Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa Indonesia (PSMTI), akan dipusatkan di Makassar, Oktober mendatang. Rencananya, beberapa rangkaian kegiatan akan digelar di Hotel Clarion Makassar.
Ketua PSMTI Sulsel, Willianto Tanta, mengatakan, untuk pertama kalinya Rakernas PSMTI dipusatkan di Makassar. Selama ini, umumnya digelar di Jakarta, Palembang, Bali, dan provinsi lainnya di Kawasan Indonesia Barat. PSMTI akan menggelar peringatan HUT ke-17 dan Rakernas ke-14.
“Ada beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan, seperti kontak bisnis, dialog kebangsaan, dan donor darah,” kata Willi, saat bertemu Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Jumat (4/9).
Ia menjelaskan, rakernas dan peringatan HUT PSMTI akan dihadiri 1.000 orang Tionghoa dari seluruh Indonesia, yang sebagian besar adalah pengusaha. Menurutnya, sebagian besar dari mereka belum pernah datang ke Sulsel, termasuk Makassar.
“Inti dari pertemuan ini sebenarnya adalah bagaimana kita bisa membaur, jangan lagi ada sekat-sekat. Dari pengusaha atau organisasi Tionghoa harus saling bantudan peduli ke bawah,” ujarnya.
Willi menambahkan, dalam kegiatan tersebut juga akan dibahas terkait tekanan ekonomi nasional yang dihadapi Indonesia saat ini. “Mari kita sama-sama pikirkan, apa yang bisa diperbuat untuk negara ini,” pungkasnya.
Sementara, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, Rakernas penting dan sangat strategis untuk membicarakan kondisi negara yang sedang mengalami tantangan tekanan ekonomi global dan apa solusinya. “Saya bersyukur karena pertemuan nasional ini bisa digelar di Sulsel, khususnya di Makassar,” kata Syahrul.
Menurutnya, Sulsel adalah satu-satunya provinsi yang ekonominya tidak turun, bahkan naik dari 7,58 persen menjadi 7,82 persen. Beberapa even nasional dan internasional telah digelar disini.
“Rakernas itu menyatukan hati kita untuk menghadapi tantangan saat ini. Salah satunya, ekonomi nasional. Memang dibutuhkan manajemen yang baik, tapi tidak boleh terdramatisasi oleh pihak luar yang berlebihan,” terang Syahrul.
Ia menilai, apa yang dialami Indonesia saat ini akibat pengaruh pertarungan ekonomi Amerika, Eropa dan Cina. Tetapi, tekanan ekonomi ini tidak bisa hanya dijawab dengan lobi ekonomi, tapi juga lobi politik.
“Sulsel disaat orang tidak bisa ekspor, kami malah ekspor sampai tiga kali lipat. Dari target 18 negara, akhirnya 24 negara. Saya harap nasional juga begitu. Uang pemerintah harusnya bisa menstimulan kebutuhan rakyat,” tegasnya. (rhm/war/c)
Panguyuban Tionghoa Gelar Rakernas
×

