MENJADI petugas Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) di PLN ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Diperlukan kesabaran dan juga keberanian untuk ikut bergabung di dalamnya.
Laporan: ARIF AL QADRY
Cacian dari warga yang merasa keberatan jika meteran listrik di rumahnya diperiksa oleh para petugas P2TL, sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para petugas di lapangan.
Bahkan tidak jarang pula warga lainnya mengancam untuk melukai petugas jika meteran listriknya diperiksa, karena pelanggaran. Apalagi kalau dibawa dan sita ke kantor PLN.
Padahal sesuai dengan fungsinya, operasi P2TL adalah operasi dengan menyasar penyalahgunaan pemakaian listrik untuk ditertibkan. Dan menyelamatkan pemakaian listrik dari oknum yang tidak bertanggung jawab.
Hal tersebut dirasakan, Muh Abubakar, petugas P2TL bagian perlengkapan KWH dari PT Cahya Alam Teknis yang menjadi mitra PLN.
Menurut pria kelahiran Ujung Pandang, 15 Juli 1979, sebenarnya P2TL bukan hanya bertugas menertibkan penyalahgunaan pemakaian listrik, tetapi juga menindak lanjuti laporan setiap masalah yang dirasakan pelanggan. Seperti misalnya meteran sudah tua dengan kondisi buram, ataupun KWH bermasalah dengan tidak sesuai pemakaian dan pembayarannya.
Semua pengaduan masyarakat sangat berarti baginya. Untuk itulah, setiap pengaduan yang masuk segera ditindak lanjuti dengan cara turun langsung ke lapangan melakukan survei, serta memberikan kenyamanan bagi pelanggan PLN.
“Kalau kita turun melakukan survei dan menemukan masalahnya kita memberikan solusinya. Sering masalah ada di KWH, sebab pemakaian tidak sesuai dengan pembayarannya jadi kita ganti kilometernya. Termasuk bagi pelanggan yang melalukan pelanggaran kita sita meterannya,” sebutnya.
Kata Abu, belum lama dirinya bergabung di kantor PLN Rayon Daya tepat pada 2016 lalu. Suka duka menjadi petugas lapangan cukup banyak dia rasakan. Termasuk di mana dirinya sering mendapat penolakan pemeriksaan KWH sampai pengusiran. Meski sedikit merasa kesal, tetapi dia tetap harus bersikap profesional dan sabar menghadapi berbagai macam karakter pelanggan.
“Tetap kami punya target untuk mengganti KWH meter pelanggan. Khususnya pelanggan terbukti melakukan pelanggaran pemakaian listrik,” katanya.
Sebenarnya sejak dulu dia sudah bekerja di PLN dengan posisi yang sama, mungkin sekitar 2013 lalu. Tetapi tidak berselang lama dia keluar dan menganggur. Karena memiliki pengalaman di bidang kelistrikan ditambah pernah belajar di SMK dengan jurusan kelistrikan, dia kemudian mencoba kembali mendaftar di perusahaan yang bermitra di PLN.
Tidak cukup lama dia menunggu, dia mendapat panggilan untuk masuk bergabung di perusahaan tersebut. Dan diberikan posisi pada bagian perlengkapan KWH meter. Saat itu juga dinyatakan diterima, dia langsung turun ke lapangan bersama teman-temanya melakukan operasi.
“Saya sudah senang dengan pekerjaanku ini dan saya cintai. Penolakan ataupun cacian itu tantangan sendiri. Kuncinya sabar dan ikhlas saja,” sebutnya. (arf)

