MAKASSAR, BKM–Menyatunya dua partai politik Partai Gerindra dengan PDIP di kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel dinilai sangat rentan dan berpotensi jika kader gerindra tidak akan solid. Mengingat Gerindra sejak awal ingin memperjuangkan Prabowo Subianto sebagai calon presiden, sementara PDIP tentu akan mempertahankan Joko Widodo sebagai presiden untuk periode kedua.
Di Sulsel Gerindra dan PDIP sama-sama mengusung pasangan Prof Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-SS). Akibatnya para kader yang diprakarsai Ryan Latif menolak keputusan DPP Gerindra.
Ryan Latief, menolak keputusan yang mengusung NA-SS karena bertentangan dengan keinginan relawan dan simpatisan Prabowo. “Kami dan seluruh simpatisan Prabowo di Sulsel sangat kecewa atas pilihan politik dengan bersatunya Partai Gerindra dengan PDIP Sulsel. Hal ini sudah sangat mencederai spirit perjuangan kami mengantarkan Prabowo menuju RI 2019 mendatang. Kami sangat kecewa tentunya,”ujarnya.
Ryan berharap, Prabowo tidak melakukan langkah blunder, namun harus bersikap dan komitmen melihat arus bawah masyarakat dengan segera menarik SK dukungan tersebut. “Kami berharap Prabowo menarik surat dukungannya di Pilgub Sulsel dengan melihat keinginan akar rumput”pintanya.
Pengamat politik Dr Azwar Hasan menilai jika efek koalisi gerindra dan PDIP memang menyebabkan kekecewaan bagi pendukung Prabowo karena dianggap tidak sejalan dengan komitmen menjadikan Prabowo sebagai Presiden. Sementara itu PDIP adalah partai pendukung utama Jokowi yang nantinya akan menjadi rival Prabowo. Pertanyaannya apakah kalau calon gubernur usungan bersama antara PDIP dan Prabowo jika kelak terpilih akan mendukung Prabowo atau Jokowi sebagai presiden? Masing-masing partai pasti akan memiliki alasan untuk mengklaim didukung oleh gubernur hasil usungan jika menang. PDIP Sulsel akan mengklaim lebih berhak didukung usungan presidennya karena PDIP sebagai yang paling awal menyatakan kepastian mengusung. Di sisi lain, gerindra juga akan mengklaim bahwa ia lebih berhak karena merupakan pengusung dengan jumlah kursi yang dominan sehingga berhak sebagai penentu kemana nanti gubernur usungannya harus berpihak. Tetapi pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh gubernur hasil usungan jika kelak berhasil menang. ‘Pertanyaannya apakah sebelum gerindra menyatakan usungannya, sudah ada komitmen dengan kepentingan Prabowo di Pilpres nanti atau tidak. Inilah yang harus diperjelas,”ujar Azwar Hasan.
Pengamat politik dari Unismuh Makassar Luhur A Prianto mengakui adanya potensi perlawanan dari kader Gerindra. “Sepertinya memang dukungan Gerindra ke NA-SS tidak bulat diterima semua elit Gerindra. Serba dilematis, partai ini sudah terbiasa dengan pola komando. Meskipun pada akhirnya menerima putusan DPP, tetapi biasanya kader yang resisten akan membangun hubungan dan dukungan dengan kandidat lain,”ujar Luhur, Minggu (29/10).
Menurutnya, berkoalisi dengan PDIP, tentu punya risiko-resiko elektoral bagi Gerindra. Terutama jika Prabowo serius running di Pilpres 2019. “Risikonya adalah soliditas kader untuk konsolidasi pemenangan Pileg dan Pilpres bisa bisa terkendala. Meskipun Hubungan Prabowo memang belakangan ini juga semakin harmonis dengan Jokowi. kecuali di soal Perpu Ormas, sikap Gerindra semakin akomodatif dengan pemerintahan Jokowi. Terutama pada kepentingan mengawal pemerintahan Anis-Sandi di DKI,”ucapnya.
Hal sama dilontarkan pengamat politik dari Unhas Adi Suryadi Culla. Menurut Adi, sikap Ryan latif dan mantan Ketua Gerindra Sulsel, La Tinro La Tunrung yang mulai menigngalkan NA-SS serta condong mendukung pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) memberi isyarat bahwa internal gerindra mulai terbelah. Ady beralasan, DPP gerindra sudah mengeluarkan rekomendasi, namun La Tinro malah mendukung IYL-Cakka. La Tinro memang bukan lagi ketua, tapi tentunya dia masih punya gerbong di dalam kepengurusan Partai Gerindra Sulsel,” jelas Adi. Olehnya itu, Ketua Gerindra Idris Manggabarani harus bersikap sebelum semakin banyak kader yang meninggalkan NA-SS dan merapat ke IYL-Cakka. Seperti diberitakan sebelumnya, La Tinro secara khusus menjamu IYL-Cakka di kediaman pribadinya, pada Jumat (27/10) lalu. Selain iparn IYL yakni Andi Darusalam juga hadir Ketua Relawan Pemuda Garuda Celebes, Ryan Latief. (rif)
Kader Gerindra Minta Prabowo Perhatikan Aspirasi Kader
×

