SUNGGUH malang nasib dua pasangan suami-istri (pasutri) Daeng Badeng 77 tahun dan istrinya Dg Sitti. Kemiskinan membawa mereka terus bersama dalam duka. Tak layak disebut suka, karena pasutri yang uzur dimakan usia ini saban hari menjalani sisa hidup yang kian getir.
Laporan: Agips
Keduanya tinggal di sebuah rumah tak layak huni yang berdinding tripleks dan seng beralas tanah lembab, di Jalan Syech Yusuf, Lorong IV, RW 05, RT 06 Makassar.
sudah seminggu ini Daeng Badeng tergolek lemah dirumahnya karena sakit.
Daeng Badeng adalah seorang pengumpul plastik bekas yang hidup dalam keterbatasan.
Beliau hidup di sebuah rumah yang sangat kecil yang memprihatinkan dan bisa dibilang tidak layak untuk ditinggali. Dengan atap dari seng bekas seadanya.
Apabila turun hujan, air akan masuk ke dalam rumah yang telah mereka tempati selama 11 tahun itu. Daeng Badeng tinggal dengan seorang istri yang bernama dg. Sitti dan seorang anak lelakinya. Sedangkan tiga anak perempuan daeng Badeng telah menikah dan tinggal dengan suaminya masing-masing.
Keseharian daeng Badeng mengumpulkan plastik bekas dimulai pada pukul 06.00 pagi sampai dengan 18.00 sore dengan menggunakan becak.
Beliau mengayuh becaknya dari lorong-lorong hingga ke perumahan mewah semata-mata untuk menyambung hidup. Penghasilannya yang tidak menentu sebagai seorang pengumpul plastik bekas, hanya cukup untuk makan saja. Sedangkan anak lelaki daeng Badeng hanyalah seorang buruh lepas. Kadang ada kerjaan dan kadang pula tidak ada sama sekali.
Tidak adanya penghasilan tambahan yang bisa membuat kehidupan mereka sekeluarga keluar dari kesulitan. Terkadang daeng Badeng juga mendapat sumbangan dari tetangga yang merasa ibah kepadanya.
Sebenarnya anak-anak daeng Badang melarang daeng Badeng untuk mengumpulkan plastik bekas lagi. Mengingat usia daeng Badeng yang sudah sangat tua. Namun daeng Badeng berpikir untuk tidak merepotkan anak-anaknya.
Pria 77 tahun itu ingin berjuang sendiri demi memenuhi kehidupan sehari-hari. Sangat memprihatinkan memang jika melihat kehidupan keluarga daeng Badeng yang sangat jauh dari kecukupan. Daeng Badeng sekeluarga hanya berharap suatu saat nanti kehidupan mereka akan lebih baik daripada sekarang.
Keduanya melalui sisa hidup mereka, nyaris tanpa mengeluh dan putus asa. “Pernah saya dapat bantuan beras raskin dan uang, alhamdulilah bisa untuk makan beberapa hari,” ungkapnya.(*)

