JIKA seorang ingin sukses dan berinovasi, tidak meski harus belajar di kampus lalu ditempa dengan teori A,B,C dahulu. Sebab banyak keluaran kampus yang telah ditempa teori tetap saja belum bekerja.
Laporan: ARIF AL QADRY
Contohnya saja Muh Farid, kalau ia membuktikan menjadi pedagang tidak perlu harus kuliah, sebab kesuksesan seseorang tidak bisa diukur oleh banyaknya materi.
Kepada penulis, Muh Farid atau yang akrab disapa Farid sudah lima tahun melakoni usahanya berjualan jam tangan. Menggunakan mobil pick up yang sudah di modifikasi menjadi tempat jualan, pria kelahiran Ujung Pandang, 23 April 1989 memajang barang dagangannya di tepi Jalan Hertasning.
Tingginya harga sewa toko di Kota Makassar, menjadi alasan bagi Farid menjadi pedagang kaki lima (PKL), menggunakan mobil pick up sebagai lapak jualannya. Menjadi PKL di tepi jalan dinilainya lebih menghemat biaya pengeluaran.
Agar aktivitas pengendara yang melintas di Jalan Hertasning tidak terganggu oleh lapak jualannya, Farid dibantu sepupunya baru membuka tempat jualannya pada pukul 17:00 sampai 22:00.
Ada banyak merek jam tangan dijualnya mulai dari harga Rp75.000 sampai Rp500.000. Meski jam tangan yang di jual termasuk KW, namun tetap memberikan garansi mesin dan baterai untuk semua aksesoris yang ada.
Casio G-Shock, Cardiff, Desainer, Ripcurl dan Kademan merek yang terlaris dan banyak dibeli mulai dari remaja sampai dewasa. Dominan pembeli yang mampir di tempat jualannya mengambil model sport.
“Yang datang lihat-lihat dan beli kebanyakan remaja. Model sprot banyak diambil. Semua jam tangan yang saya jual ada garansinya. Kalau mesin maksimal satu bulan dan baterai maksimalnya satu tahun,” ucapnya.
Semua jam tangan yang dijualnya diambil di Makassar sampai luar Pulau Sulawesi. Distributor jam tangan dia tahu dari keluarganya yang juga penjual jam tangan di Pasar Sentral Makassar. Sebelum memiliki usaha sendiri, dia sempat ikut bersama keluarganya. Setelah lima bulan bersama, dia kemudian memutuskan untuk berdiri sendiri berjualan jam tangan.
“Saya ambil dari distributor di Makassar dan ada juga di luar seperti Surabaya. Jadi sistemnya ambil barang dulu dan bayar setengahnya. Nanti satu bulan kemudian kita bayar lunas dan ambil lagi barang,” akunya. (arf)

