MUSIM kemarau selalu identik dengan kekurangan air. Tak terkecuali bagi masyarakat yang bermukim di Lingkungan Bontoa, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep. Apakah itu masih terjadi sampai sekarang?
LAPORAN: ANDI RUSTAN
PEMUKIMAN warga Lingkungan Bontoa terletak tidak jauh dari tugu pintu masuk pabrik PT Semen Tonasa. Jaraknya kira-kira hanya 100 meter. Sebagian penduduknya ada yang tinggal di rumah panggung. Ada pula yang rumah batu. Beberapa diantaranya masih semi permanen.
Tidak seberapa meter dari jalan raya, terdapat rumah semi permanen yang sangat sederhana. Namun disampingnya terdapat tower air yang dilengkapi mesin pompa. Rumah ini milik Sahra. Wanita ini adalah pengelola bantuan dari CSR (Corporate Social Responsibily) PT Semen Tonasa untuk pengadaan air bersih bagi warga di Lingkungan Bontoa.
Pengadaan pompa air ini direalisasikan tahun 2012 dan dioperasikan 2013. Melalui bantuan CSR, disiapkan sumur bor, mesin pompa listrik hingga instalasi pipa ke rumah-rumah warga. Termasuk pengadaan meteran listrik untuk mengoperasikan mesin pompa setiap harinya.
Meteran listrik sistem vocer ini terpasang di dekat pintu masuk rumah Sahra. Kapasitasnya 1.300 watt. Pembayarannya dilakukan secara bersama-sama oleh 40 kepala keluarga yang mendapat pasokan air.
Setiap hari, distribusi air ke rumah diatur waktunya. Pengaturan dilakukan sesuai kesepakatan bersama. Pada pagi hari dari pukul 06.00 hingga 10.30 Wita. Setelah itu istirahat beberapa jam. Kemudian dilanjutkan pada sore hari pukul 15.00 hingga 20.00 Wita.
”Tapi biasa ada warga yang minta bantuan agar dialirkan di luar jam itu. Biasanya kalau ada acara yang mereka laksanakan. Termasuk kalau pada jam-jam tertentu tidak mendapatkan air. Semua kita layani,” terang Sahra, yang sedari awal adanya program ini telah ditunjuk sebagai pengelola.
Untuk kesinambungan operasional mesin pompa air, warga kemudian bersepakat membayar iuran setiap bulan. Awalnya sebesar Rp15 ribu. Namun belakangan jumlah tersebut tidak mampu menutupi biaya operasional pembelian vocer listrik, hingga akhirnya dinaikkan menjadi Rp20 ribu per bulan tiap KK.
Setiap bulan, menurut Sahra, vocer listrik yang terpakai antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Dari jumlah inilah yang biasanya juga dipakai untuk melayani permintaan layanan ‘khusus’ distribusi air bagi warga yang melaksanakan hajatan.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Sahra menyediakan buku khusus untuk melakukan pencatatan. Di buku itu tertera nama-nama kepala keluarga yang mendapatkan distribusi air. Termasuk iuran yang dibayar setiap bulannya.
Ada cerita lucu dan menarik yang disampaikan Sahra ketika dilakukan upaya pencarian sumber air untuk pengeboran. Seorang dukun dilibatkan dalam proses ini.
”Awalnya dukun bilang sumber air ada di bawah pohon nangka itu. Tapi katanya airnya keruh. Kemudian dia pindah di bawah pohon bagore ini. Air di bawah pohon bagore ini katanya banyak dan bersih. Makanya, dipasanglah disitu,” tutur Sahra sambil menunjuk sebuah pohon nangka yang ada di depan rumahnya, dan pohon bagore yang kayunya telah mengering disamping rumah.
Sebelum mengakhiri wawancara, Sahra sebagai pengelola menyampaikan harapan dari masyarakat Lingkungan Bontoa yang selama ini mendapatkan layanan air bersih. ”Mereka biasa bilang ke saya begini. Kenapa mesti bayar iuran tiap bulan. Ini kan bantuan. Mereka juga inginnya agar biaya listrik bisa dibayarkan. Saya biasanya memberikan pemahaman dan menyampaikan bahwa kita sudah sepatutnya bersyukur, karena ada bantuan seperti ini. Sebab masih banyak warga daerah lain yang mau, tapi belum mendapatkannya,” kata Sahra.
Ketua Forum Kesejahteraan Bontoa Muh Ilyas menyebutkan, melalui program CSR Semen Tonasa, dialokasikan anggaran sebesar Rp108 juta. Forum kemudian mengurusi semua pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Salah satu alasan sehingga Lingkungan Bontoa dipilih sebagai lokasi pemberian bantuan, menurut Ilyas, karena wilayah ini menjadi ‘ring 1’ pabrik Semen Tonasa. Maksudnya, selain karena wilayah Bontoa yang paling luas menjadi lokasi pabrik Semen Tonasa, warganya juga cukup merasakan dampak dari operasional pabrik.
Di tahun-tahun sebelumnya, Kelurahan Bontoa masuk dalam lingkar sembilan. Istilah ini ditujukan bagi daerah yang sekitaran pabrik Semen Tonasa. Sembilan kelurahan itu masing-masing Bontoa dan Kalabirang di Kecamatan Minasatene, Kelurahan Biringere, Sapanang, Mangilu, Samalewa, Bowongcinde dan Bulucindea di Kecamatan Bungoro. Satu kelurahan lainnya adalah Taraweang, Kecamatan Labakkang.
Untuk tahun ini, jumlah tersebut ditambah dua kelurahan. Masing-masing Bulu Tellue, serta Kelurahan Tabo-tabo, Kecamatan Bungoro. Sehingga sekarang dikenal dengan istilah lingkar sebelas.
Diakui Ilyas, penentuan lokasi sasaran program CSR dilakukan oleh forum yang dibentuk di masing-masing keluarahan. Forum ini melaksanakan rapat di kelurahan dengan memanggil semua pemangku kepentingan, seperti ketua RT, RW dan masyarakat. Sehingga keputusan yang diambil diterima semua pihak.
”Program seperti ini kan digulirkan setiap tahun secara bergiliran. Untuk saat ini ada dua titik di Kelurahan Bontoa, masing-masing di Lingkungan Bontoa dan Ciddokang,” jelas Muh Ilyas.
Khusus di Lingkungan Ciddokang, pengelolaannya ditangani H Sama. Mesin pompa air di tempat ini baru melayani 10 kepala keluarga, karena pengadaannya baru dilakukan tahun 2014 lalu. Sistemnya sama dengan yang diberlakukan di Lingkungan Bontoa.
Sebelum adanya mesin pompa air bantuan CSR Semen Tonasa, warga Lingkungan Bontoa biasanya harus berjalan sejauh 1,5 kilometer ke Lingkungan Ciddokang untuk mendapatkan air. Apalagi jika musim kemarau melanda.
Tapi itu dulu. Kesulitan air itu telah teratasi dengan bantuan CSR pabrik semen yang beroperasi tidak jauh dari pemukiman mereka. (*)

