pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Profesi baru sebagai content creator alias pembuat konten ternyata mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah. Jika ditekuni, nilai kontrak hingga ratusan juta dalam setahun bisa dicapai. Angka yang terbilang lumayan tinggi.

Anda tentu sering mendapati sepasang suami istri yang perilakunya begitu menggelitik ketika berselancar di media sosial. Mereka adalah Adhy Basto (Bassi Toayya) dan Jade Thamrin. Duet ini kerap melakonkan hal-hal yang menjadi fenomena di tengah keluarga. Seperti ulah sang istri yang mengerjai suami untuk mendapatkan uang yang disembunyikan di tempat khusus.
Cerita seru keduanya disampaikan dalam program 3S (Serba Serbi Selebriti) yang tayang di Youtube Berita Kota Makassar. Kepada Putri Sasongko yang mewawancarainya, mereka bebeberapa kali berkelit dan tidak ingin disebut sebagai selebgram. Melainkan sebagai pembuat konten. Adhy dan Jade pun menjelaskan alasannya.
”Selebgram itu sendernung lebih tinggi levelnya. Orang yang terkenal. Kami juga bukan influencer. Karena kalau influencer itu cenderung mampu mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu. Jadi, kalau dalam bahasa Makassarnya, gele-geleka kalau disebut selebgram. Kami lebih pada konten creator,” terang Adhy.
Membuat sebuah konten, diakui Adhy sebagai pekerjaannya. Hasilnya kemudian ia unggah di media sosial untuk diperlihatkan kepada publik. Tentu ada yang suka dan ada yang tidak suka. ”Kami tidak mungkin memaksakan kepada mereka untuk suka dengan karya kami,” tutur Adhy.

Hal itu diamin Jade Thamrin. Perempuan cantik berhijab ini, menyebut bila mereka disebut sebagai selebgram, itu adalah bonus dari pekerjaan yang dilakoni selama ini. ”Selebgram itu lebih cenderung cantik. Kerjaan mereka seperti selebriti atau artis dan lebih millenial. Kami ini sudah tua,” cetusnya sambil tertawa.
Walau begitu, Adhy dan Jade bersepakat dengan prinsip tidak ingin seperti dinosaurus. Sebesar dan sehebat apapun binatang purba itu, saat ini tinggal sejarah.
Soal konten yang mereka hasilkan, diakui terkadang lahir dari ide yang ringan-ringan. Misalnya mengangkat cerita yang dialami dalam kehidupan berkeluarga. Dari situ biasanya penonton merasa bahwa cerita tersebut mewakili dirinya.
”Kalau saya lebih mewakili ibu-ibu yang suaminya sekke-sekke. Meski begitu, banyak juga bapak-bapak yang menontonnya. Jadi kita tidak usah berpikir jauh untuk menghadiskan konten. Cukup yang dekat-dekat dan di sekitar kita saja dulu,” terangnya.
Di bagian lain ceritanya, Adhy bertutur tentang aktivitasnya di dunia entertaint dan visualisasi digital. Untuk dunia visual, ia baru geluti dalam kurun waktu empat tahun terakhir, tepatnya di 2018. Sementara enternaint sudah 20 tahun dilakoni.
Demikian pula Jade, bergabung dengan Bassi Toayya di tahun 2018. Sebelumnya, ia berada di belakang layar dan bekerja di salah satu rumah produksi (production house) sebagai kru art director. Film Indonesia bernuansa lokal telah dihasilkannya.

Selama kebersamaan keduanya, Jade disebutkan kerap menghasilkan ide untuk sebuah konten dan Adhy yang mengaktualisasikannya dalam bentuk visual. Sebab, sebagai perempuan ia lebih memahami tentang ibu-ibu.
Menjadi partner yang begitu dekat dalam peran, banyak bertanya-tanya apakah Adhy dan Jade adalah suami istri. ”Saya tegaskan bahwa saya bukan suami dia, dan dia bukan istri saya,” tandas Adhy.
Namun, dari segi rezeki keduanya telah menghasilkan nilai yang cukup besar. Bahkan ada satu produk yang memercayakan kepada keduanya untuk menjadi brand ambasador membayar hingga Rp300 juta dalam setahun. Tapi tidak semuanya hanya dinikmati oleh mereka berdua. Melainkan dibagi dengan tim. (*/rus)

SATU lagi film Indonesia yang dihasilkan sineas Makassar rampung diproduksi. Judulnya Selimut Kabut Rongkong. Tidak lama lagi film ini akan diputar di bioskop tanah air.

TIGA orang yang terlibat dalam pembuatan film tersebut hadir dalam Podcast untuk kanal Youtube Harian Berita Kota Makassar, Senin (7/6). Mereka adalah Sutradara Indra J Mae, pemeran utama Dinda Talisa, serta supervisor acting Andi Agung Iskandar. Ketiganya berbagi kisah kepada host Putri Sasongko.
Indra menjelaskan awal mula film dibuat. ”Awalnya ingin buat film wisata daerah, namun tidak ketemu dengan pemerintah daerah. Akhirnya ketemulah dengan tokoh masyarakat setempat. Di situ dibahas dan disepakati untuk membuat film yang mengangkat tentang daerah Rongkong,” tutur Indra.
Survei pun dilakukan. Ternyata ada banyak potensi pada wilayah pegunungan yang berada di Kabupaten Luwu ini. Film bergenre drama dan juga ada adventurenya ini berusaha memberikan edukasi sosial, menyajikan tentang infrastruktur yang minim, serta penggarapan unsur-unsur budaya setempat yang begitu kaya.
”Bunga Melati menjadi tokoh sentral dalam film ini. Ia masuk ke wilayah Rongkong dengan membawa ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Kemudian terlibat dalam masalah tanah adat,” jelas Indra lagi.
Dinda Talisa yang berperan sebagai Bunga Melati, mengungkap alasan sehingga dirinya tertarik terlibat dalam film ini. ”Sewaktu membaca sinopsisnya ternyata di luar ekspektasi saya tentang film. Aluranya sampur-campur. Ada sedih, senang dan juga menyeramkan. Baru di film ini saya begitu sangat interest,” terang Dinda.
Apalagi, lanjut gadis cantik usia 20 tahun ini, mereka yang bermain dan juga berada di balik layar film ini cukup dikenal oleh ibundanya.
Dunia entertain bukan hal baru bagi Dinda. Sejak duduk di bangku SMP ia sudah kenal dengan modeling. Dikenal oleh event organizer dan fotografer, Dinda kemudian cukup dikenal. Akhirnya diajak casting untuk bermain film. Sejumlah judul film pun telah ia lakoni.

BKM/NUR HAMZAH FILM-Dari kiri ke kanan Sutradara Indra J Mae, pemeran utama Dinda Talisa, dan Supervisor Acting Andi Agung Iskandar. Ketiganya foso bersama usai tampil podcast di studio BKM Lantai III Graha Pena, Senin (7/6).

Siapa sangka, di tengah aktivitasnya di dunia entertainment, Dinda saat ini masih duduk di bangku kuliah. Ia tercatat sebagai mahasiswi ilmu komunikasi di Unhas. Pada waktu bersamaan, Dinda juga bekerja di sebuah perusahaan konsultan media di Sulsel. Karenanya, dia harus pintar-pintar membagi waktu.
”Tapi kalau diminta untuk fokus, saya lebih pilih selesaikan kuliah dulu. Kalau bisa dikerjakan semuanya, kenapa tidak,” tandasnya.
Andi Agung Iskandar mencoba meluruskan tentang ”kecelakaan” pada penyebutan film lokal yang diproduksi di daerah. Menurutnya, semuanya merupakan film Indonesia dan film nasional yang dibuat di daerah.
”Sepertinya ada sekat di sini antara film nasional dan film lokal. Padahal ini film layar lebar, film Indonesia yang kebetulan digarap di lokal daerah,” imbuhnya.
Agung yang telah terlibat dalam produksi sejumlah film layar, mengaku tertarik terlibat dalam film Selimut Kabut Rongkong karena hampir semua yang terlibat adalah pemain lokal. Sebagai coaching actor sekaligus supervisor acting, ia cukup tertantang. Sebab mereka yang tidak pernah akting dan bermain film, langsung melakonkan perannya dan semuanya harus natural.
”Ini yang berat. Bagaimana harus mensiasatinya. Bukan hanya readingnya. Tapi seluruhnya,” tandas Agung.

Dengan latar belakang teater, Agung berusaha melatih para pemain di sela-sela pengambilan gambar. Bahkan latihan pun hingga tengah malam. Yang membuatnya termotivasi, karena semangat para pemain cukup besar. Mereka diajar tentang dialog, ilmu gestur dan hal lainnya. Hasilnya pun, diakui Agung cukup luar biasa.
Baik Agung maupun Dinda bersepakat, selama proses produksi berlangsung semuanya ril. Para pemain memainkan perannya masing-masing tanpa melibatkan pemeran pengganti.
Bahkan, Dinda sebagai pemeran utama mengalami sendiri kejadian yang harus jatuh terperosok. Ia benar-benar jatuh. ”Di situ semua bilang aman, jadi saya lakukan saja,” ujarnya.
Produksi film ini berlangsung selama dua hari. Agung menyebut, lokasinya berada pada ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Cuacanya lebih dingin dari Toraja dan Malino dan selalu berselimut kabut. ”Tapi semuanya terbayar dengan pemandangan yang begitu indah,” kata Agung, yang diamini Dinda. (*/rus)