Headline

Penghentian Proyek Jalan Tak Bisa Redam Kemacetan


Pembebasan lahan yang berlarut-larut dan tidak menemukan titik terang menjadi salah satu pemicu sejumlah ruas jalan Trans Sulawesi belum tuntas perbaikannya. Akibatnya, di beberapa titik, mengalami penyempitan sehingga sangat susah dilalui kendaraan di jalur kiri dan kanan secara bersamaan. Kalaupun digunakan untuk dua jalur, kendaraan harus berhati-hati agar tidak terjadi kecelakaan.

Laporan: Rahma Amri

Seperti di sejumlah ruas jalan yang ada di Kabupaten Maros. Salah satunya, dekat perbatasan Maros-Pangkep.
Selain itu, kontur serta struktur tanah di beberapa tempat yang tidak stabil membuat jalan kerap mengalami kerusakan. Apalagi jika sering dilewati kendaraan bertonase berat. Seperti di ruas jalan poros Maros-Pangkep, sekitar belokan menuju ke Pabrik Semen Bosowa yang selalu dikeluhkan pengguna jalan. Hampir setiap tahun jalan itu diperbaiki. Jika hujan, jalan akan cepat rusak dan genangan air ada dimana-mana.
Di daerah itu, saat puncak arus balik terjadi pada H+3 dan H+5, terjadi perlambatan arus lalu lintas di sekitar wilayah itu.
“Sementara dilakukan pengerasan jalan,” kata salah seorang warga, Ali Sadikin (45 tahun) kepada sejumlah pengendara bermotor yang antre melewati jalan tersebut.
Satu jalur dengan panjang sekitar 200 meter ditutup. Akibatnya, satu jalur harus digunakan untuk kendaraan arah dari dan ke Makassar.
Selain rusak, kendaraan yang tidak sabar antre memaksa melewati jalan rusak sehingga menimbulkan debu yang cukup tebal. Sama seperti yang terjadi di ruas jalan sekitar Ma’rang Kabupaten Pangkep yang harus dilewati secara berhati-hati karena diselimuti debu.
Janji Kepala Satuan Kerja (Satker) Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BNPJN) IV Trans Sulawesi, Budiamin, menyiapkan water tank untuk menjaga jalan tidak berdebu, seperti yang dijelaskan sebelumnya tidak maksimal dilakukan.
Total panjang jalan yang diperbaiki khusus poros Makassar-Parepare sepanjang 125 km dengan anggaram sekitar Rp125 miliar. Perbaikan berkala itu dilakukan setiap 4-5 tahun sekali.
Selama arus mudik dan arus balik terjadi, Satker BBPJN Trans Sulawesi menghentikan seluruh aktifitas pekerjaan jalan.
Budiamin menjelaskan, langkah itu diambil untuk meminimalisir gangguan lalu lintas di titik-titik yang diperbaiki.
Pekerjaan jalan akan kembali dilaksanakan setelah arus balik sudah tidak ada lagi atau sekitar H+7. (b)

Komentar Anda





To Top
.