Sulselbar

Danrem-Cakka Semangati Warga Luwu Korban Tolikara


BELOPA, BKM — Komandan Korem (Danrem) 142/Tatag (Taro Ada Taro Gau) Kolonel Inf Syarifuddin melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Luwu, Senin (27/7). Kedatangan Danrem baru ini disambut Bupati Andi Mudzakkar bersama Kapolres AKBP Adex Yudiswan, Kajari Belopa Zet Tadung Allo, Ketua DPRD Andi Muharir, Wakil Bupati Amru Saher dan Sekkab Syaiful Alam bersama para kepala SKPD.
Saat diterima di Rumah Jabatan Bupati Bukti Limpujang, Danrem didaulat berbicara dihadapan para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh ada, ormas, KNPI dan tokoh wanita. Tak terkecuali warga Luwu yang menjadi korban dalam peristiwa yang terjadi Tolikara, Papua.
Menurut Syarifuddin, kekuatan Forum Kerukunan Umat Bersama (FKUB) dalam menghadapi proxi war sangat tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebab saat ini konflik yang terjadi di dunia, 70 persen penyebabnya adalah masalah energi, yang kemudian dimanfaatkan oleh pihak ketiga.
“Terakhir kasus yang lagi hangat di Tolikara, Papua. Pertanyaannya, apakah kita di Luwu dan Indonesia mau menjadi tempat terjadinya konflik secara terus menerus?” kata Danrem.
Ditegaskan, untuk menghindari peristiwa seperti yang terjadi di Tolikara, sangat penting meningkatkan toleransi, kebersamaan dan harmonisasi antarumat beragama, apakah itu umat muslim maupun non muslim.
”Kuncinya kita tetap mempertahankan kebersamaan sehingga terhindar dari apa yang terjadi di Tolikara, khususnya bagi warga Luwu secara keseluruhan,” tandasnya memberi semangat.
Bupati Luwu Andi Mudzakkar dalam penjelasannya, mengatakan sejak enam tahun terakhir koordinasi FKUB berjalan baik. Bahkan telah terjalin secara harmonis berkat dukungan semua pihak, baik tokoh masyarakat, tokoh agama, dan terkhusus peran TNI dan Polri.
“Saran saya jangan lagi mengungkit ke belakang soal Tolikara. Harapan saya, mari kita lihat ke depan kebaikan kita. Tolikara ya Tolikara, dan Luwu ya Luwu. Jangan dikait-kaitkan dengan kejadian di sana,” tegas Cakka, sapaan akrab Bupati.
Dia mengingatkan, sangatlah merugi sebagai warga Luwu jika kerukunan beragama dan bermasyarakat tidak terpelihara dengan baik. Karenanya, Cakka mengajak warganya untuk membangun Luwu secara bersama-sama, sebab daerah ini merupakan bagian dari Indonesia.
”Selama ini kita selalu terbuka kepada siapa saja. Siapapun yang minum airnya Luwu, berarti dia orang Luwu. Kalau dia keluar, berarti orang Luwu yang merantau,” terangnya.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Luwu melaporkan, kegiatan ini dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), FKUB, Komunitas Intelijen Daerah (Kominda), KNPI, ormas serta organisasi wanita.
Khusus warga Luwu yang menetap dan mencari nafkah di Tolikara, tercatat ada 450 orang. Dari jumlah itu, ada lima kepala keluarga (KK) yang kiosnya terbakar.
Mereka adalah Mappe yang mengalami kerugian Rp600 juta. Termasuk uang tunai Rp50 juta dan satu unit motor miliknya terbakar. H Suparman mengakami kerugian Rp 400 juta dan Rp40 juta uang tunai ikut terbakar. Sedang Andi Madda mengalami kerugian Rp400 juta, Baharuddin Rp350 juta dan Sinring Rp350 juta. Semuanya adalah warga Padang Sappa, Ponrang, Padang Subur dan Kariako, Kabupaten Luwu.
”Sebagian warga Luwu lainnya di Tolikara, ada isi kiosnya yang dijarah saat kejadian berlangsung,” lapor Alim Bahri dihadapan Danrem serta Bupati.
Sebelum pertemuan dengan Danrem, Wakil Bupati Luwu Amru Saher dan Sekkab Syaiful Alam menggelar halal bihalal usai upacara Senin pagi di halaman kantor bupati. (wan/rus/b)

Komentar Anda





Comments
To Top
.