Metro

Mengais Rezeki di Hari Kemerdekaan Dulu Hanya Diupah, Sekarang Miliki Ratusan Bendera


AGUSTUS adalah bulan kemerdekaan. Menjelang 17 Agustus, pedagang musiman mulai menjajakan bendera merah-putih di pinggiran jalan. Tak sedikit yang mau membeli.

Laporan: ARIEF AL QADRI

Sebab, sesuai UU No 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, setiap warga negara wajib mengibarkan bendera setiap peringatan Hari Kemerdekaan.
Karena kebutuhan pengadaan bendera meningkat, tak heran jika ada yang menjadikannya sebagai barang dagangan.
Kebutuhan akan bendera tersebut menjadikan suami-istri Dg Bija (45) dan Jani (45) beralih haluan dari berjualan kue ke bisnis bendera setiap menjelang 17 Agustus. Warga Desa Tamanjeleng, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa ini telah empat tahun menjual bendera dipinggiran Jalan AP Pettarani.
Dulunya, bapak yang memiliki empat orang anak itu hanya ikut bersama temannya menjual bendera di pelataran Jalan Ratulangi dengan upah seratus ribu perharinya. Uana tersebut ia gunakan untuk makan sehari-hari bersama keluarganya.
Namun seiring berjalannya waktu, ia memutuskan dan memberanikan diri meminjam uang kredit untuk dijadikan modal usaha dengan membeli beberapa kodi bendera dan mulai dijajakannya dipinggir jalan dengan harapan dapat meraup untung besardengan modal sendiri.
“Saya sangat bersyukur hasil pendapatan penjualan bendera musiman ini sangat lumayan. Disamping membiayai kehidupan sehari-hari di rumah juga dapat membantu membiayai sekolah anak saya,” tuturnya.
Meskipun rela berpanas-panasan dan menghirup polusi udara kotor setiap harinya, namun ia tetap semangat mencari rezeki sambil menunggu warga kota datang membeli bendera. Ia mengaku setiap harinya dapat membawa pulang hasil dari penjualan sebesar Rp2 juta perharinya. Uang tersebut dipisahkan antara utang modal kredit dan uang kebutuhan keluarganya.
Ditanya apa aktivitas dia pasca17 Agustus, sambil tersenyum Dg Bija mengaku akan kembali melakoni usaha pertamanya yaitu menjual kue basah seperti donat, pawa, putucangkir, roti goreng dan juga pisang goreng. Kue tersebut dijajahkan ke warung-warung yang ada disekitar tempat tinggalnya. Meskipun hasil penjualan bendera yang didapatkan lebih menjanjikan ketimbang menjual kue, namun ia tetap setia bergelut dengan usaha kuenya untuk melanjutkan hidup.
“Kalau menjajakan bendera itu hanya sekali setahun, menjual kue itu rutin kami kerjakan sekeluarga agar tetap bertahan hidup,” ujarnya. (arf/b)

Komentar Anda





Comments
To Top
.