Bisnis

BNI Raup Laba Rp1,43 T


MAKASSAR, BKM — Semester pertama tahun 2015, PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk berhasil meraup laba bersih sebesar Rp2,43 triliun. Laba tersebut turun sekitar 50,8 persen dibandingkan perolehan laba pada semester pertama tahun 2014 yang mencapai Rp4,94 triliun. Direktur Utama BNI, Achmad Baiquni dalam konferensi pers di kantor pusat BNI, Jakarta, Kamis (30/7), menyebutkan, penurunan laba dikarenakan peningkatan cadangan pinjaman bermasalah (coverage ratio) menjadi 172,2 persen dari tahun lalu. Ini untuk menekan naiknya Non Performing Loan (NPL).
Cadangan Pinjaman Bermasalah tersebut merupakan langkah antisipatif BNI untuk memperkuat fundamental keuangan guna menghadapi turbulensi kondisi makro ekonomi ke depan. BNI telah mereview kondisi bisnis para debitornya, terutama debitor korporasi dan menengah, untuk provisi ditingkatkan 172,2 persen atau hampir 3 kali lipat.
Karena diambil untuk provisi, lanjut Baiquni, maka konsekuensinya laba bersih semester pertama ini harus berkurang hingga 50 persen. Tapi laba bersih bagi Baiquni, bukan semata ukuran kinerja bisnis. Karena bisnis BNI tumbuh berkelanjutan secara baik. Terbukti dari pendapatan bersih sebelum pencadangan BNI yang tumbuh positif 9,1 persen.
Adapun pendapatan bunga bersih perseroan meningkat 14 persen dari Rp10,8 triliun pada semester pertama tahun 2014 menjadi Rp12,3 triliun. Begitu pula pendapatan non bunga meningkat 2 persen dari Rp4,20 triliun pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp4,28 triliun. Dari penyaluran kredit, perseroan mencatatkan kenaikan sebesar 12,1 persen dari Rp269,51 triliun pada kuartal pertama tahun 2014 menjadi Rp288,7 triliun pada kuartal pertama tahun 2015. Namun, rasio kredit bermasalah atau NPL perseroan naik dari 2,2 persen menjadi 3 persen.
Menurut Baiquni, pertumbuhan kredit tersebut terutama ditopang pinjaman kepada BUMN yang baik 23,9 persen atau menjadi Rp50,5 triliun. Sementara penyaluran pinjaman pada Usaha Menengah dan Kecil (UMK) tumbuh 9,7 persen. Adapun pinjaman konsumer BNI per akhir semester pertama tahun 2015 mencapai Rp53,5 triliun atau naik 10,6 persen dibandingkan semester pertama tahun 2014.
Di samping itu, perseroan mampu menumbuhkan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai 4,2 persen dari Rp314 triliun semester pertama tahun 2014 menjadi Rp327,3 triliun pada semester pertama tahun 2015. Sementara giro dan tabungan (Current Account Saving Account/CASA) meningkat 4,2 persen dari tahun lalu sebesar Rp314 triliun tahun lalu menjadi Rp327 triliun tahun ini. (*mir)
/c)

Komentar Anda





Comments
To Top
.