Connect with us

Kriminal

Mantan Pejabat BPN Makassar Hanya Tahanan Kota

-

MAKASSAR, BKM -– Meski dalam waktu dekat akan menjalani proses sidang di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Makassar, mantan Kepala Seksi Sengketa Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Makassar, Muhammad Hatta selaku tersangka kasus dugaan korupsi suap dan gratifikasi pembatalan serta pembuatan sertifikat hanya ditetapkan sebagai tahanan kota.

Tersangka diseret ke meja hijau setelah berkas perkara kasus tersebut dirampungkan oleh jaksa Bidang Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulselbar.

“Berkas perkaranya sudah rampung. Tersangka hanya dijadikan tahanan kota oleh penyidik dengan alasan selama penyidikan dinilai bersikap kooperatif. Tersangka sedang sakit.” kata Koordinator Pidsus Kejati Sulselbar, Noer Adi, Jumat (11/9).

Noer menjelaksan, pimpinan pekan depan akan menunjuk jaksa penuntut umum untuk mengadili Hatta. Jaksa penuntut akan menyusun dakwaan untuk kepentingan persidangan. Setelah itu, berkas akan dilimpah ke pengadilan.

Sekedar diketahui, tersangka dalam kasus ini dinilai telah menerima gratifikasi sebesar Rp60 juta pada tahun 2002 dari seorang pengusaha bernama Jefri Wiseng yang juga tersangka dalam kasus ini.
Dana tersebut digunakan tersangka untuk memuluskan pengurusan sertifikat tanah meski syarat pengurusan tanah itu tidak lengkap. Tanah itu seluas 3 hektar yang berada di wilayah Kelurahan Parangloe, Kecamatan Tamalanrea, Makassar.
Tersangka Jefri sendiri hingga kini belum dapat dilimpahkan ke pengadilan dengan alasanmasih ada bukti yang perlu didalami. Bukti yang dimaksud terkait perbuatan pidana suap yang dilakukan Jefri. Dalam kasus ini kedua tersangka dijerat dalam pasal 12 undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi. Keduanya disangkakan telah memberi dan menerima sesuatu atau janji supaya berbuat sesuatu yang berlawanan dengan tugas dan kewenangannya.Penyidik mulai mengusut kasus ini setelah menerima laporan dari warga yang mengaku mengetahui terjadinya gratifikasi tersebut. Adapun bukti berupa tanda terima uang, masing-masing sebesar Rp50 juta dan Rp10 juta. (mat-ril/c)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini