Bisnis

Manulife Edukasi Perusahaan Miliki Program Pesangon


MAKASSAR, BKM — Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Manulife Indonesia secara agresif dan intens mengedukasi perusahaan atau korporat untuk memiliki program pesangon kepada karyawannya. Seperti halnya yang dilakukan di Hotel Novotel Makassar, Kamis (8/10). Sebanyak 30 perusahaan dari berbagai bidang usaha, seperti pertambangan, perkebunan, perhotelan, dan otomotif diedukasi mengenai pentingnya program pesangon ini.
Menurut Karjadi P, Vice President Head of Employee Benefits Distribution Dept Manulife Indonesia, sejak mulai dilaunching pada tahun 2013 lalu, program pesangon ini telah mampu menggarap 2 ribuan perusahaan dengan 500 ribu lebih karyawan peserta. Khusus di Makassar sendiri, baru ada lima perusahaan yang menjadi peserta program pesangon.
”Dari dua ribuan perusahaan peserta program pesangon ini, jumlah dana yang terserap sebesar Rp300 miliar. Dari jumlah tersebut, kontribusi Makassar baru dikisaran satu persen atau Rp3 miliar. DPLK Manulife Indonesia sendiri hingga akhir Desember 2014, mengelola aset lebih dari Rp11,3 triliun,” ungkap Karjadi didampingi Sanjayan Sribathi, Senior Sales Manager Employee Benefits Distribution Dept, Branch Manager Manulife Indonesia-Makassar, Theresia, dan Syarifuddin Yunus, pada acara Employee Benefit Gathering dengan tema ‘Pesangon: Pendanaan Imbalan Pascakerja dan Korelasinya dengan BPJS Ketenagakerjaan.
Karjadi mengatakan, Program pesangon ini memiliki arti cukup besar untuk membantu perusahaan dalam menyiapkan dana pesangon bagi para pekerjanya. Karena dengan hanya menyisihkan pendapatan dengan jumlah yang relatif cukup kecil, perusahaan setidaknya telah memberi harapan kepada pekerjanya untuk menata hidup yang lebih baik saat pekerja itu berhenti bekerja.
”Kalau berbicara ideal dan sesuai dengan aturan yang ada, perusahaan harus menyetorkan sebesar delapan sampai sepuluh persen dari total pendapatan pekerjanya. Tapi kalau perusahaan merasa berat, bisa juga disesuaikan dengan kemampuan perusahaan. Misalnya perusahaan hanya mampu menyisihkan Rp4 juta per bulan untuk persiapan dana pensiun karyawannya, yah itu bisa juga dilayani. Tapi tentunya jumlah yang akan diterima karyawan dari perusahaan tersebut berbeda dari perusahaan yang menyetorkan delapan sampai sepuluh persen dari pendapatan karyawannya,” terangnya.
Program pesangon yang ditawarkan Manulife ini tidak akan tumpang tindih dengan rencana penerapan program dari BPJS Ketenakerjaan. Dimana, BPJS Ketenagakerjaan dimaksudkan untuk memenuhi jaminan hari tua (JHT) sesuai UU No 3/1992 dan jaminan pensiun berdasarkan UU No 40/2004.
Sedangkan program dana pesangon Manulife Indonesia bertujuan untuk memenuhi kewajiban pembayaran pesangon sesuai UU No 13/2003. Di samping itu, ini menjadi solusi pemberi kerja dalam pencadangan dana pesangon karyawannya. ”Untuk itu, DPLK Manulife Indonesia mengambil peran terdepan untuk mengedukasi perusahaan tentang pentingnya program pesangon. Hal ini dimaksudkan agar ketika pekerja itu tidak lagi bekerja, bisa tetap merasa nyaman dan sejahtera seperti saat masih bekerja,” ujarnya. (mir)

Komentar Anda





Comments
To Top
.