Bisnis

BPJS Hadir, Jangan Takut Bersalin Lagi


Hamil dan bersalin merupakan dambaan setiap istri. Tidak ada satu pun perempuan yang sudah bersuami yang tidak ingin hamil dan melahirkan. Justru sebaliknya, banyak ibu-ibu dan istri-istri yang ingin mendapatkan momongan tetapi belum hamil.
Namun tidak jarang kehamilan ini justru menjadi momok yang menakutkan bagi setiap pasangan, karena diyakini bahwa dana yang akan dikeluarkan tidaklah sedikit. Mulai dari biaya konsultasi hingga ongkos persalinan dan perawatan setelah persalinan. Biayanya lumayan cukup besar. Tidak mengherankan jika banyak istri dan ibu-ibu agak takut hamil dan bersalin.

Ibu Ani (29 tahun) adalah satu dari sekian banyak istri yang takut hamil dan melahirkan. Ibu rumah tangga yang berdomisili di sebuah kampung kecil di Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan itu selalu berpikir panjang untuk hamil lagi. Bukan karena mereka tidak ingin punya anak banyak. Bahkan orang-orang di kampungnya lebih senang jika memiliki keturunan banyak. Pameo banyak anak banyak rezeki berlaku di kampung ini.
Ani sejatinya sudah memiliki dua orang anak. Keduanya cowok. Anak pertama Ocan sudah berumur sebelas tahun dan duduk di bangku sekolah dasar kelas lima. Putranya yang kedua Andi berusia delapan tahun dan duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.
Perempuan yang hanya menamatkan pendidikannya di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini sebetulnya masih ingin hamil lagi. Ia dan suaminya, Sampara, sudah cukup lama mendambakan hadirnya bayi perempuan. Kedua anaknya juga mendambakan adik perempuan. Hanya saja karena biaya persalinan yang cukup mahal, ia takut hamil dan melahirkan. Meskipun tinggal di kampung dan pelosok desa dan tanpa bantuan dokter spesialis kandungan, biaya persalinan di daerah itu cukup besar. Tarif persalinan di Puskesmas berkisar Rp600 ribu rupiah. Bagi Ani yang suaminya hanya petani biasa, uang sebesar itu amat sangat susah diperolehnya.
Pasca persalinan anaknya yang kedua pada 2008 lalu, Ani berkomitmen untuk tidak mau hamil lagi. Sejak saat itu ia memutuskan untuk menjadi akseptor. Ia menjadi peserta Keluarga Berencana dengan mengonsumsi pil KB setiap bulan. Alasannya biaya persalinan cukup besar. Ia menceritakan biaya persalinan kedua anaknya itu saja dipinjam dari keluarganya di kampung. Penghasilan suaminya yang berprofesi sebagai petani hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari.
Ketakutan hamil dan bersalin tidak hanya dialami Ani. Siti Akhirah, tetangga Ani juga mengaku begitu. Ibu rumah tangga yang sering membantu suaminya kerja di sawah ini mengaku sudah memiliki tiga orang anak. Dua laki-laki dan satu perempuan. Harapannya bisa menambah anak perempuan satu lagi sehingga anaknya menjadi dua pasang. Hanya saja karena takut dengan biaya persalinan yang tinggi, Ira –sapaan akrab Siti Akhirah memilih menunda program hamil sejak 2010 lalu.
“Tambah anak itu enak. Tetapi kalau biaya persalinannya mahal, itu juga menjadi persoalan,” katanya.
Menurut dia, kebanyakan ibu-ibu di kampungnya mengalami hal sama: takut hamil karena biaya persalinan yang tinggi. Karenanya sebagian besar ibu-ibu muda di kampung tersebut memilih menggunakan alat kontrasepsi. Apalagi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) aktif mengampanyekan program KB dan membagi-bagikan alat kontrasepsi secara gratis hingga ke pelosok. Termasuk di kampung Ani dan Ira.
Rasa takut Ani dan Ira mulai hilang setelah tahu program asuransi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Program asuransi ini juga mengcover biaya persalinan dan perawatan pasca persalinan bagi seluruh klien atau peserta BPJS.
Keduanya juga sudah mengetahui manfaat BPJS dari tantenya, Syahidah yang baru saja bersalin di Makassar. Syahidah yang akhir September lalu melahirkan putra keduanya di RS Bersalin Pertiwi Makassar sumringah menceritakan manfaat menjadi peserta asuransi BPJS. Proses persalinan keduanya kali ini sama dengan persalinan anak pertamanya 2013 lalu. Keduanya melalui proses operasi cesar. Yang beda hanya biayanya. Kalau pada persalinan pertama, Syahidah mengeluarkan biaya persalinan Rp2,7 juta, kini di persalinan keduanya gratis. Semua biaya persalinan ditanggung BPJS.
“Alhamdulillah persalinan kedua saya ini gratis. Semua ditanggung BPJS. Makanya saya bilang ke ponakan-ponakan saya tidak usah takut bersalin. Sekarang ini sudah ada BPJS Kesehatan yang menjamin seluruh biaya persalinan dan perawatan,” kata Syahidah.
Istri tukang bentor ini menjadi peserta BPJS Kesehatan pada Maret 2015. Enam bulan menjadi peserta asuransi pemerintah itu, ia sudah merasakan manfaatnya. Kepada beberapa sahabat dan keluarganya, ia aktif mengajak untuk ikut program asuransi BPJS Kesehatan.
Karena penjelasan sang tante, Ani dan Ira pun kini menjadi peserta BPJS Kesehatan. Kedua ibu rumah tangga yang masih memiliki hubungan kekerabatan itu berharap bisa segera hamil dan melahirkan. Keduanya tidak lagi takut hamil dan melahirkan karena sudah memiliki kartu perserta asuransi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BJPS) Kesehatan. Keduanya juga rutin mengonsumsi makanan bergizi agar segera mengandung dan mendapat momongan lagi. Ani berharap dapat bayi perempuan sebagai teman buat dua putranya. Begitu juga Ira berharap kebagian bayi perempuan lagi agar keturunannya genap menjadi dua pasang.
Layanan BPJS Kesehatan tidak hanya menanggung biaya persalinan dan perawatan pasca persalinan. Kepala Cabang BPJS Kesehatan Makassar, Andi Rismaniswati dalam beberapa kesempatan mengatakan BPJS juga mengcover perawatan jenis penyakit lain termasuk penyakit kronis seperti kanker dan lainnya. BPJS Makassar sudah bekerja sama dengan lebih 300 fasilitas kesehatan di Makassar dan sekitarnya.
Khusus untuk ibu-ibu hamil, BPJS Kesehatan juga menyiapkan sejumlah pelayanan untuk progam kehamilan dan persalinan. Program jaminan BPJS Kesehatan itu antara lain pelayanan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) untuk menjaga kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi, persalinan, pemeriksaan bayi yang baru lahir, pemeriksaan pasca persalinan (postnatal care) terutama selama nifas awal selama tujuh hari setelah melahirkan, dan pelayanan keluarga berencana atau alat kontrasepsi.
Pelayanan antenatal care dan postnatal care dapat dilakukan di fasilitas kesehatan pertama seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), klinik, atau dokter keluarga. Pemeriksaan ini dilakukan di tempat yang sama, kecuali dalam keadaan darurat. Tujuannya agar ada keteraturan pencatatan pantograf, monitoring perkembangan kehamilan, dan memudahkan administrasi klaim kepada BPJS Kesehatan. Perlu Anda ketahui, pemeriksaan ANC di tingkat lanjutan hanya dapat dilakukan jika terdapat indikasi medis yang mengharuskan Anda mendapat penanganan spesialis di fasilitas kesehatan lanjutan.
Persalinan normal diutamakan dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Penjaminan persalinan normal di fasilitas kesehatan tingkat lanjutan hanya dapat dilakukan dalam kondisi darurat. Yang dimaksud kondisi darurat adalah perdarahan, kejang pada kehamilan, ketuban pecah dini, gawat janin, serta kondisi lainnya yang mengancam keselamatan jiwa ibu dan bayinya. (fachruddin palapa)

Komentar Anda





Comments
To Top
.