Bisnis

Untung Ada BPJS Kesehatan


TIDAK sedikit orang di Makassar khususnya dan Provinsi Sulawesi Selatan pada umumnya telah merasakan manfaat dari keberadaan BPJS Kesehatan. Salah seorang di antaranya adalah Armi, warga Antang. Ketika ditemui saat usai melakukan persalinan di salah satu rumah sakit bersalin di Makassar, Armi menuturkan, dirinya sangat bersyukur dan beruntung telah menjadi peserta BPJS Kesehatan.

Laporan: Amiruddin Nur

Karena saat melakukan persalinan, ia harus dioperasi. Ia sudah sempat putus asa membayangkan biaya operasi yang harus dikeluarkan dengan nilai mencapai jutaan rupiah. Sementara ia tidak punya cukup uang untuk operasi. Uang yang dipersiapkan hanya untuk biaya melahirkan normal. Apalagi suaminya hanya sebagai seorang pegawai biasa.
Karena dokter yang memeriksa mengharuskannya segera melakukan operasi, ia hanya bisa pasrah. Ia betul-betul tidak menyangka ketika akan membayar biaya saat akan keluar dari rumah sakit bersalin itu. Oleh petugas administrasi, ia hanya dibebani pembayaran ratusan ribu rupiah. Kata petugasnya, biaya persalinan yang mencapai jutaan rupiah, ditanggung BPJS Kesehatan.
”Saya betul-betul sangat bersyukur dan beruntung telah menjadi peserta BPJS Kesehatan dari awal. Jika tidak, maka tentu seluruh biaya persalinan saya yang berjumlah jutaan rupiah, harus saya tanggung sendiri,” kata Armi.
Manfaat dan keuntungan menjadi peserta BPJS Kesehatan bukan baru kali ini saja dirasakan Armi dan keluarganya. Beberapa bulan sebelum melahirkan, suaminya pernah pula menjalani operasi di salah satu rumah sakit swasta. Kebetulan rumah sakit itu juga menerima pasien peserta BPJS Kesehatan. Waktu itu pihak rumah sakit menyampaikan kalau biaya operasinya mencapai jutaan rupiah. Karena suaminya juga adalah peserta BPJS Kesehatan, maka biaya operasinya ditanggung BPJS. Mereka hanya dibebani harga sejumlah macam obat yang memang tidak ditanggung BPJS Kesehatan.
”Meski kami tetap dibebankan harga obat, tapi kami tetap merasa sangat bersyukur dan beruntung telah menjadi peserta BPJS Kesehatan. Jika tidak, kami tak tahu harus mengambil uang dari mana untuk membayar biaya operasinya,” tutur Armi.
Sebelum merasakan manfaatnya, aku Armi, ia dan suaminya pernah berencana berhenti menjadi peserta. Karena untuk membayar iuran per bulan, mereka merasa keteteran. Pasalnya, penghasilan suaminya pas-pasan. Apalagi, selama beberapa bulan setelah menjadi peserta, ia dan keluarganya tidak pernah merasakan manfaatnya. Karena sakit yang dideritanya masih tergolong ringan. Artinya, cukup dengan membeli obat di apotek maupun toko obat, maka sakitnya sudah terobati.
Direktur Pemasaran dan Keanggotaan BPJS Kesehatan, drg Sri Endang Tridarwati, saat melakukan pertemuan dengan ratusan penerima pensiun di Hotel Swiss BelInn Makassar beberapa hari lalu, mengatakan, selama ini memang banyak masyarakat telah salah persepsi terhadap pembayaran iuran BPJS Kesehatan. Mereka merasa rugi telah membayar iuran lantaran mereka tidak mendapatkan manfaat dari pembayarannya. Padahal, secara tidak langsung mereka berpahala karena telah membantu biaya perawatan bagi peserta lain yang membutuhkan.
Program BPJS Kesehatan ini sendiri sebenarnya adalah program gotong royong. Artinya, orang yang sehat dan aktif membayar iurannya telah membantu mereka yang sakit dan membutuhkan biaya pengobatan.
”Untuk meminimalkan jumlah peserta yang harus menjalani perawatan di rumah sakit, kami secara intensif memberi sosialisasi dan pemahaman baik mereka yang telah berusia tua maupun usia muda untuk senantiasa menjaga kesehatan dan mengatur pola makan. Karena semakin banyak peserta yang sakit, maka akan semakin banyak pula beban biaya yang harus kami tanggung. Karena biaya perawatan satu hari untuk satu orang pasien, itu setara dengan pembayaran iuran lima sampai sepuluh peserta per bulan,” jelas Sri.
Dari data yang ada, pada tahun 2015 ini BPJS Kesehatan perkirakan nombok lagi sekitar Rp2 triliun lebih atau hampir sama dengan tahun 2014. Dimana, iuran yang terserap dari para anggota sekitar Rp45 triliun. Sedangkan pembayaran kompensasi biaya kesehatan peserta yang membutuhkan sekitar Rp47 triliun lebih. Banyaknya peserta yang menunggak pembayaran iuran, dinilai Sri sebagai sesuatu yang dilematis juga. Karena di satu sisi BPJS Kesehatan dituntut untuk dengan makin banyaknya peserta yang menunggak, tentu beban tambahan biaya yang harus ditanggung BPJS juga akan makin besar. Padahal, BPJS Kesehatan ini dihadirkan pemerintah untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya akan biaya kesehatan. Apalagi, kesehatan itu merupakan kebutuhan dasar bagi manusia.
”Dengan prinsip saling tolong menolong, Insya Allah BPJS Kesehatan akan dapat memberi pelayanan lebih baik kepada para pesertanya. Itu sama artinya tidak ada lagi peserta yang menunggak pembayaran iuran. Karena semua sudah sama-sama mengerti manfaat dan tujuan dari diadakannya program BPJS Kesehatan ini oleh pemerintah,” tutur Sri.
Sampai akhir 2014, jumlah peserta BPJS Kesehatan telah terdaftar lebih 150 juta orang. Sedangkan jumlah penduduk Indonesia hingga akhir 2014 telah mencapai lebih dari 250 juta. Ini berarti, sudah sekitar 60 persen masyarakat Indonesia yang terkaver dengan pelayanan BPJS Kesehatan. Pemerintah sendiri telah menargetkan mengkaver seluruh atau seratus persen masyarakat Indonesia dengan layanan BPJS Kesehatan pada 1 Januari 2019. (mir)

Komentar Anda





Comments
To Top
.