Bisnis

Jual Karpet Lebih Menguntungkan


MAKASSAR, BKM — Kondisi Jalan Hertasning Baru yang ramai dilewati pengguna jalan, ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah warga untuk menjajakkan dagangannya. Salah seorang di antaranya adalah Risma. Ia adalah pedagang karpet. Saat ini banyak ragam karpet yang dipasarkan, mulai dari buatan lokal yang didatangkan dari Jakarta sampai produk luar negeri atau impor dari Cina, Turki, dan Italia.
Harga yang ditawarkan Risma juga berbeda-beda. Untuk produk lokal, paling murah Rp110.000 per lembar dan karpet impor paling mahal dihargai Rp900.000 per lembar. Namun karpet impor ini bukan produk baru lagi, tapi cakar. Ia mulai berjualan karpet sejak tahun 2010, Ketika ditemui BKM di tempat jualannya, Jumat (23/10), mengakui, meski pengendara yang melintas di jalan ini cukup ramai, tapi tidak setiap hari tempat jualannya dikunjungi pembeli.
”Terkadang kalau ramai kami mendapat omzet penjualan dikisaran Rp5 juta sampai Rp6 juta per hari. Tapi kalau dalam keadaan sepi, itu hanya Rp2 jutaan. Itu pun belum bersih keuntungan,” katanya.
Risma mengakui, penjualan karpet mulai ramai saat jelang lebaran. Tapi pada bulan-bulan seperti sekarang, pembeli dapat dihitung dua sampai tiga orang yang datang. Para penjual karpet memilih berjualan di pinggir Jalan Hertasning karena selain biaya pajak yang lebih hemat, mereka juga mengaku kalau belum mampu menyewa ruko.
Meski kadang masih sering diganggu Satpol PP, namun mereka tidak terlalu menghiraukan. Mereka hanya berhenti berjualan sejenak dan melanjutkan berjualan kembali saat sudah aman. Sebelum menjadi penjual karpet, aku Risma, ia pernah berjualan barang campuran di rumahnya. Namun berjualan barang campuran tidak terlalu menguntungkan. Pasalnya, lebih banyak yang mengutang daripada bayar langsung. (ppl2/ppl3/mir)

Komentar Anda





Comments
To Top
.