Metro

Putus Sekolah, Kerja Mengupas Jambu Mente


Sinar, Gadis Cantik yang Menghidupi Sendiri Keluarganya (1)

SINAR adalah seorang gadis remaja berusia 16 tahun. Ia tinggal di sebuah rumah yang berdinding tripleks dan papan di Jalan RT 008, RW 002, Sultan Abdullah I, Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo. Ia tampak tak seberuntung gadis-gadis remaja lainnya.

Laporan: RAHMAN

Di saat gadis-gadis remaja lainnya sedang asyik bersekolah dan bermain, gadis ini harus memikul beban yang cukup berat. Bagaimana tidak, ayah dan ibunya dan kakeknya keadaan sakit, sehingga tidak sepenuhnya mampu menghidupi kehidupan keluarga mereka.
Dengan menggadaikan masa sekolahnya, Sinar memulai beraktifitas menjadi pekerja serabutan dengan mengupas jambu mente.
Setiap hari ia menjadi tulang punggung keluarga, mulai dari bekerja di sebuah pabrik, memasak, mencuci.
Impian Sinar untuk hidup di rumah mewah dan mendapatkan apa yang diinginkan seperti gadis sebayanya hanya menjadi bagian halayan pengantar tidur di malam hari.
Sementara beban yang begitu berat dipundaknya harus dijalankan dengan sabar dan tabah karena jika tidak, maka nasib keluarganya menjadi terbengkali dan hancur.
Untuk menghidupi keluarganya, sehari-hari Sinar mengupas jambu mente dengan bayaran yang tidak seberapa. Dengan segala kemampuanya, Sinar berusaha mengupas mente sebanyak-banyaknya.
Dalam benak Sinar, dengan mengupas mente sebanyak-banyaknya maka beban untuk bisa membayar uang kontrakan rumah sebesar Rp50 ribu per bulan, beli air bersih per hari sebanyak 11 jerigen serta kebutuhan makan seperti beras dan lauk pauk.”Saya hanya bisa pasrah membantu keluarga untuk bisa hidup dan berteduh di rumah ini. Saya tetap menanamkan prinsip bahwa seorang anak harus berbakti ke orang tua apapun tantangannya,” ujar gadis berambut sebahu ini sambil menyeka keringat di dahinya.
Sebagai gadis dengan umur seperti itu, keperluan pribadinya pun juga seharusnya terpenuhi seperti teman sebayanya namun itu semua dia abaikan demi keluarganya tercinta.”Mau tonja juga seperti orang lain, bisa beli make up dan lain-lain,” Katanya penuh harap.
Bukan hanya itu yang menjadi pemikiran Sinar, biaya kesehatan kakeknya yang sudah tiga tahun belakang ini hanya tinggal di rumah karena menderita penyakit. Yang lebih parah lagi, bagaimana mencari biaya operasi bapaknya, karena kedua kelopak mata bapaknya mengalami katarak saat bekerja sebagai kuli bangunan terkena puing-puing bangunan. Begitupun dengan ibunya yang juga mulai sakit-sakitan.
Ditemui di rumah kontrakannya, Sinar mengaku sudah terbiasa dengan rutinitas yang dilakukan sehari-hari itu. Meski apa yang dihasilkan tidak sebanding dengan pekerjaan dan kebutuhan hidup, ia tetap tekun menjalani rutinitasnya.
Ia juga tak lupa untuk meluangkan waktu memijat ibunya agar ibunya bisa kembali sehat dan pulih kembali.
“Beberapa warga sekitar rumah berkali-kali meminta saya melanjutkan sekolah. Tapi saya katakan belum bisa, karena masih harus bekerja menghidupi keluarga saya,” tutur Sinar sambil meneteskan air mata.(man/b)

Komentar Anda





Comments
To Top
.